Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 40 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tingkatan Iman & Cabang-cabangnya (bag 02)

Halaqah 40 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tingkatan Iman & Cabang-cabangnya (bag 02)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

سم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Para ulama setelah mereka selesai berusaha untuk mengumpulkan cabang-cabang keimanan yang ada di dalam Al-Qur’an maka mereka kembali membuka hadīts-hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang tentunya mereka para ulama adalah ahlinya.

Itu adalah makanan mereka sehari-hari mereka juga menghapal hadīts-hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagaimana mereka menghapal Al-Qur’ān ). Kesibukan mereka memang dalam Al-Qur’an dan juga Hadīts yang merupakan masdar dari ilmu ini.

Akhirnya mereka satu persatu membuka hadīts-hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam akhirnya terkumpul di hadapan mereka jumlah yang banyak, cabang-cabang keimanan di dalam Al-Qur’an dan cabang-cabang keimanan yang ada di dalam As-sunnah.

Misalnya :

Cabang-cabang keimanan yang ada di dalam. Al-Qur’an ada 50 sementara yang ada di dalam As-sunnah ada 40. Kemudian mereka lihat kembali ternyata diantara cabang-cabang keimanan tadi ada yang berulang.

Puasa disebutkan di dalam Al-Qur’an dan juga disebutkan di dalam As-Sunnah.

√ Shalāt 5 waktu disebutkan di dalam Al-Qur’an dan juga disebutkan di dalam As-sunnah.

√ Birulwalidain disebutkan di dalam Al-Qur’an dan juga disebutkan di dalam As-sunnah.

Maka yang berulang tentunya dicoret dikumpulkan oleh mereka ternyata mereka mendapatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan yang mereka kumpulkan itu seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam بضع وسبعون شعبة ( iman ini adalah 70 cabang lebih)

√ Ada diantara mereka yang menghitung ada 73

√ Ada diantara mereka yang menghitung ada 74

√ Ada diantara mereka yang menghitung katanya lebih dari itu.

Kenapa di sini sampai berbeda satu dengan yang lain sebagian menyebutkan ini kembali kepada ijtihād (pendapat) mereka.

Ada diantara mereka terkadang memandang 2 amalan dianggap itu 1 amalan. Sebagian yang lain melihat adanya perbedaan.

Ini bisa melihat ini tidak melihat, ini rejeki dari Allah mungkin ilmu yang Allāh berikan kepada sebagian sehingga dia bisa membedakan.

Misalnya tentang masalah al-Khauf wal Khasyyah mungkin sebagian membedakan.

Apa bedanya al-Khauf wal Khasyyah ?

Dia adalah rasa takut sehingga dijadikan satu dalil tentang khauf yaitu dalīl tentang khasyyah adapun yang lain maka sebagian bisa memiliki ilmunya dan bisa membedakan kemudian mengatakan oh khasyyah itu demikian, khauf itu demiķan.

Sehingga dibedakan cara cabangnya tapi semua sama-sama mengatakan bahwasanya khauf dan khasyyah adalah bagian dari keimanan tapi yang jelas mereka mendapatkan seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ini hikmah kenapa beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan بضع وسبعون شعبة, beliau tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Allāh tahu bahwa kelak akan ada perbedaan pendapat diantara para ulama.

Dua ibadah dianggap itu satu atau atau satu ibadah dipisah karena dia memiliki makna yang berbeda.

Dan para ulamā ketika mereka sudah mengumpulkan cabang-cabang keimanan tadi seperti misalnya Al-Baihaqi beliau punya kitāb Syuabul iman (cabang-cabang keimanan) tentu setelah mereka mengumpulkan dan persis sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertambah ilmu dan bertambah keimanan yang sebelumnya sudah ada keyakinan tapi ketika mempraktekkan benar dan merasakan dan menemukan sendiri apalagi tentunya bukan perkara yang mudah membaca Al quran sambil mentadabburi mengumpulkan ini bukan pekerjaan yang ringan dan mungkin saja mereka bukan hanya sekali untuk melakukannya.

Karena ini berkaitan dengan agama dua kali tiga kali mereka mengulang lagi mengumpulkan kembali cabang-cabang keimanan tadi.

Ketika mereka sudah bisa dan menemukan sebagaimana dikabarkan oleh Nabi bertambah keimanan mereka mereka berusaha untuk mengamalkan.

Jadi dikumpulkan bukan hanya sekedar pengetahuan bangga bisa mengumpulkan cabang-cabang keimanan tadi tapi diharapkan dengan dikumpulkan menjadi satu seperti ini dalam satu kitāb memudahkan mereka untuk mengamalkan ,memudahkan mereka untuk mengecek mana yang sudah dan mana yang belum.

Jadi mereka dahulu berusaha untuk mewujudkan dan mengamalkan 70 cabang lebih ini, mereka ingin menyempurnakan iman setelah seseorang mengetahui ternyata cabang-cabang keimanan adalah ini maka dia berusaha untuk menyempurnakan.

Bagaimana cara menyempurnakan iman?

Semakin banyak dia mengamalkan cabang-cabang keimanan tersebut maka akan semakin sempurna imannya.

Beda antara orang yang mengamalkan 60 cabang dengan orang yang hanya mengamalkan 30 cabang.

Inilah keadaan yang mereka berlomba di dalamnya berlomba di dalam menyempurnakan iman bukan berlomba dalam masalah dunia tapi berlomba siapa diantara mereka yang paling banyak mewujudkan cabang-cabang keimanan sehingga tidak heran apabila para ulama Salaf para imah dahulu mereka terkumpul dalam diri-diri mereka hishalul khair cabang-cabang keimanan kebaikan-kebaikan , dia adalah seorang ahli ibadah dan dia adalah seorang ahli ilmu sekaligus dia adalah seorang mujahid sekaligus dia adalah orang yang senang berinfaq dan seterusnya.

Inilah maksud mereka mengumpulkan cabang-cabang keimanan tadi untuk memudahkan mereka beramal dan memuhasabah diri mereka.

Mana cabang keimanan yang belum pernah ana amalkan. memberi makan orang miskin misalnya.

ana belum pernah misalnya menanggung anak yatim padahal nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

Aku dan anak yatim seperti dua jari ini yaitu sangat dekat kedudukannya akhirnya dia berusaha dengan harta yang dia miliki kalau memang dia adalah orang yang punya maka dia mencari ada tidak anak yatim yang bisa ana tanggung tetangga nya misalnya atau keluarganya misalnya ditinggal mati bapaknya dalam keadaan dia masih kecil terus dia berusaha melihat mana cabang keimanan yang belum dia laksanakan sehingga dia berharap setiap hari keimanannya bertambah dan dia bisa ngecek yang sudah pernah dia laksanakan apakah dia benar-benar ikhlās didalamnya atau tidak.

Oh yang ini ana masih kurang, yang ini ana masih kurang khusyu’, oh masalah shalāt berjama’ah ana belum terlalu bersungguh-sungguh masih sering terlambat masalah menghadiri majelis ilmu ana masih banyak kekurangannya terus dia perbaiki tentang keikhlasannya tentang disiplinnya tentang kesungguhannya inilah manfaat kitāb Syuabul Iman oleh karena itu kitāb-kitāb tersebut bagus kita memiliki perhatian terhadap kitāb-kitāb tadi diantaranya adalah yang dikarang oleh Al Baihaqi.

Beliau memiliki kitāb Syuabul Iman dan juga Al Haalimi memiliki kitāb yang dalam tema yang sama yaitu pengumpulan Syuabul Iman.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top