Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-60 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-11 di dalam kitab ini. Beliau mengatakan
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalamnya ada beberapa permasalahan
الْأُولَى: تَفْسِيرُ قَوْلِهِ: ﴿لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا﴾ ١
1. Tafsir dari firman Allāh ﷻ: “Jangan engkau shalat di dalamnya selama-lamanya.” (QS. At-Taubah: 108)
Sudah kita sebutkan, Allāh melarang Nabi-Nya ﷺ untuk shalat di Masjid Adh-Dirār yang dibangun oleh orang-orang munafik.
الثَّانِيَةُ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ قَدْ تُؤَثِّرُ فِي الْأَرْضِ، وَكَذَلِكَ الطَّاعَةُ
2. Bahwasanya yang namanya maksiat ini memiliki pengaruh terhadap bumi.
Lihat bagaimana Allāh ﷻ melarang Nabi-Nya ﷺ untuk shalat di Masjid Adh-Dirār karena kemaksiatan yang dilakukan di atasnya, berupa kemunafikan, kekufuran, memerangi Allāh dan juga Rasul-Nya. Demikian pula sebuah tempat yang digunakan untuk menyekutukan Allāh, menyembelih untuk selain Allāh. Jadinya kita dilarang untuk melakukan atau menyembelih di tempat tersebut, karena di situ digunakan untuk kesyirikan. Berarti maksiat ini mempengaruhi bumi yang ada di bawahnya.
Demikian pula ketaatan.
Yaitu bahwasanya ketaatan juga mempengaruhi apa yang ada di bawahnya. Sehingga masjid ini adalah tempat yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ. Kenapa menjadi tempat yang paling dicintai oleh Allāh? Karena banyak hamba-hamba Allāh ﷻ yang melakukan dzikir dan melakukan shalat di atas tanah yang digunakan untuk masjid tadi. Sehingga ini menunjukkan bahwasanya ketaatan ini juga memiliki pengaruh terhadap bumi.
Di sana juga disebutkan oleh Nabi ﷺ bahwasanya pasar adalah tempat yang paling dibenci. Kenapa demikian?Karena kemaksiatan yang dilakukan di atasnya. Banyak orang yang menipu, mengurangi timbangan, dan yang semisalnya.
الثَّالِثَةُ: رَدُّ الْمَسْأَلَةِ الْمُشْكِلَةِ إِلَى الْمَسْأَلَةِ الْبَيِّنَةِ، لِيَزُولَ الْإِشْكَالُ
3. Mengembalikan sebuah permasalahan yang belum jelas kepada permasalahan yang jelas.
Ketika Nabi ﷺ mendengar laki-laki tadi mengatakan bahwa dia telah bernadzar untuk menyembelih seekor unta di Buwānah, maka ini belum jelas bagi Nabi ﷺ. Masih samar bagi beliau. Apakah tempat tersebut adalah tempat yang diperbolehkan untuk menunaikan nadzar dengan menyembelih di sana atau tidak? Sehingga beliau mengembalikan ini kepada perkara yang jelas supaya hilang kesamaran tadi.
الرَّابِعَةُ: اسْتِفْصَالُ الْمُفْتِي إِذَا احْتَاجَ إِلَى ذَلِكَ
4. Seorang mufti boleh untuk meminta perincian ketika datang orang yang bertanya.
Maka seorang mufti meminta perincian kalau memang diperlukan. Di sana ada permasalahan-permasalahan yang tidak bisa dijawab kecuali apabila ada perincian. Sehingga kalau memang diperlukan untuk bertanya kepada penanya tadi, maka hendaklah dia bertanya supaya dia tidak salah di dalam berfatwa atau memberikan jawaban sehingga melakukan sebuah kedzhaliman, dia harus bertanya terlebih dahulu kalau memang diperlukan. Tapi kalau tidak diperlukan, maka tidak perlu seseorang meminta perincian.
الْخَامِسَةُ: أَنَّ تَخْصِيصَ الْبُقْعَةِ بِالنَّذْرِ لَا بَأْسَ بِهِ إِذَا خَلَا مِنَ الْمَوَانِعِ
5. Mengkhususkan sebuah tempat untuk bernadzar ini tidak masalah.
Seperti yang dilakukan oleh laki-laki tadi. Dia mengkhususkan Buwānah untuk bernadzar di sana. Tapi dia tidak meyakini tentang keutamaan tempat tersebut.
Kalau memang tempat itu bersih dari perkara-perkara yang menghalangi.
Bukan tempat yang dahulu digunakan untuk kesyirikan dan bukan tempat yang dikeramatkan oleh orang-orang musyrikin.
السَّادِسَةُ: الْمَنْعُ مِنْهُ إِذَا كَانَ فِيهِ وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَلَوْ بَعْدَ زَوَالِهِ
6. Termasuk yang dilarang adalah apabila di dalamnya ada sesembahan di antara sesembahan-sesembahan jahiliyah, meskipun sesembahan tadi sudah tidak ada.
Karena Nabi ﷺ mengatakan:
هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟
“Apakah dahulu di sana ada berhala dari berhala-berhala jahiliyah yang disembah?”
Berarti beliau bertanya tentang keadaan dahulu. Apakah tempat tersebut merupakan bekas tempat yang digunakan untuk kesyirikan?
السَّابِعَةُ: الْمَنْعُ مِنْهُ إِذَا كَانَ فِيهِ عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ، وَلَوْ بَعْدَ زَوَالِهِ
7. Larangannya adalah ketika di sana digunakan untuk ‘īd, yaitu tempat yang sering dikunjungi oleh orang-orang musyrikin dan diagungkan oleh mereka, meskipun itu sudah tidak digunakan lagi.
Kalau bekasnya saja tidak boleh kita menyembelih di sana, lalu bagaimana seandainya tempat tersebut sampai sekarang masih digunakan untuk kesyirikan, masih dikeramatkan oleh orang-orang musyrikin?
الثَّامِنَةُ: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الْوَفَاءُ بِمَا نَذَرَ فِي تِلْكَ الْبُقْعَةِ، لِأَنَّهُ نَذْرُ مَعْصِيَةٍ
8. Tidak boleh untuk menyempurnakan nadzar di tempat tersebut, yaitu tempat yang digunakan untuk kesyirikan, menyembelih untuk selain Allāh, dan tempat yang dikeramatkan oleh orang-orang musyrikin. Karena itu adalah nadzar yang maksiat.
التَّاسِعَةُ: الْحَذَرُ مِنْ مُشَابَهَةِ الْمُشْرِكِينَ فِي أَعْيَادِهِمْ، وَلَوْ لَمْ يَقْصِدْهُ
9. Waspada dari menyerupai orang-orang musyrikin dalam hari raya-hari raya mereka, meskipun dia tidak memaksudkannya.
Artinya, seperti tadi, larangan untuk menyembelih di sebuah tempat yang dikeramatkan, sering dikunjungi oleh orang-orang musyrikin, dan diagungkan oleh mereka. Kita dilarang untuk menyerupai mereka. Meskipun ketika datang ke sana, maksud kita bukan untuk mengagungkan. Tapi tasyabbuh yang dzahir ini dikhawatirkan akan membawa kita kepada tasyabbuh dalam batin.
الْعَاشِرَةُ: لَا نَذْرَ فِي مَعْصِيَةٍ
10. Tidak boleh bernadzar didalam kemaksiatan.
الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: لَا نَذْرَ لِابْنِ آدَمَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ
11. Tidak boleh bernadzar bagi seseorang pada perkara yang tidak dia miliki.
Maka inilah beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits dan juga ayat yang disebutkan oleh Syaikh rahimahullāh di dalam bab ini. Dan faedah-faedah ini, sebagaimana yang sudah berlalu, adalah manhaj dari Syaikh. Beliau menyebutkan faedah-faedah dari ayat, hadits, ataupun atsar yang disebutkan dalam bab ini di bagian akhir. Dan beliau memberi nama dengan:
فِيهِ مَسَائِلُ
“Di dalamnya ada beberapa permasalahan.”
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
