Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 39 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tingkatan Iman Dan Cabang-Cabangnya (bag 01)

Halaqah 39 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tingkatan Iman Dan Cabang-Cabangnya (bag 01)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

سم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-39 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Beliau rahimahullāh mengatakan :

المرتبة الثانية: الإيمان

Tingkatan kedua diantara tiga tingkatan yang ada di dalam Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tentang الإيمان.

⇒ Al-Iman (الإيمان) adalah tingkatan ke-2 yang tinggi daripada Islām.

Iman sebagaimana Islām memiliki dua makna :

⑴ Makna Umum
⑵ Makna Khusus.

Iman ( الإيمان)

Makna umum adalah : Seluruh apa yang ada di dalam agama ini, baik yang dhahir maupun yang bathin, baik berupa ucapan, keyakinan atau amalan.

Iman menurut Ahlus Sunnah adalah :

الإيمان: اعتقاد بالجنان، وقول باللسان، وعمل بالأركان

“Keyakinan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan oleh anggota badan.”

Disini kita sedang berbicara makna Iman secara umum. Seperti ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
mengatakan :

الإِيمَانُ: بضع وسبعون شعبة

“Iman itu ada 70 cabang lebih”

Beliau sedang berbicara tentang Iman secara umum yang mencakup seluruhnya, baik yang diucapkan oleh lisan, diyakini di dalam hati maupun yang di lakukan oleh anggota badan.

Kemudian disana ada Iman dengan makna khusus yaitu :

Iman ( الإيمان)

Makna khusus adalah : Amalan-amalan yang bathin.

Contoh nya : Hadīts Jibrīl

Nanti akan disebutkan oleh pengarang di akhir pembahasan tentang masalah معرفة دين الإسلام بالإدلة.

Ketika beliau menyebutkan tingkatan Islām yang jumlahnya ada tiga : Islām, Iman dan Ihsān.

Kira-kira Iman yang dimaksud oleh beliau disini Iman dengan makna apa?

Iman dengan makna khusus.

Darimana kita tahu?

Iman ketika digandeng dan disandingkan dengan Islām, maka ia memiliki makna yang khusus.

√ Iman mewakili amalan-amalan yang bathin. √ Islām karena dia datang maka dia mewakili amalan-amalan yang dhāhir.

Jadi ketika beliau menyebutkan Marātibu al- Islām (مراتب الإسلام) yang jumlahnya ada 3, maka beliau memaksudkan Iman dalam arti khusus.

Kemudian beliau mengatakan :

وهو بضع وسبعون شعبة

“Dan Iman ini ada 70 cabang lebih”

Disini beliau akan berbicara tentang Iman secara umum, setelah itu beliau membahas Iman secara khusus.

Iman secara umum ada 70 cabang lebih dan ini adalah lafadz yang ada di dalam dalīl. Di dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dan juga Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya Iman itu ada 70 cabang lebih.

بضع

Bidh’un adalah jumlah antara 3 sampai 9.

بضع وسبعون

Bidh’un wa sab’una, berarti bilangan antara 73 sampai 79.

بضع و ستون

Bidh’un wa sittuna, berarti bilangan 63 sampai 69.

Disana ada perbedaan di dalam riwayat, dalam dalam sebagian riwayat disebutkan بضع وسبعون شعبة (bidh’un wa sab’una syu’bah). Didalam riwayat lain بضع و ستون شعبة (bidh’un wa sittuna syu’bah).

Dan ada sebagian riwayat syak atau keraguan dari rawi, apakah disana ada pertentangan ?

Jawabannya, Tidak!

Disebutkan oleh sebagian ulama bahwasanya penyebutan yang lebih kecil yaitu 60 bukan berarti dia menāfī’kan yang lebih besar.

Ketika seseorang menyebutkan Iman itu ada 60 cabang bukan berarti dia menāfī’kan bahwasanya disana ada lebih dari 60, disana ternyata ada 70 karena maksudnya adalah 60 cabang ini adalah termasuk keimanan yang tidak menāfī’kan bahwasanya yang 10 itu bukan termasuk keimanan. Ini diucapkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullāh.

فان العرب قد تذكر للشيء عددا و لاتريد نفي ماسواه

Terkadang orang Arab menyebutkan sebuah bilangan dan dia tidak bermaksud untuk menāfī’kan yang selain itu. Dia hanya ingin mengitsbat atau menetapkan bahwasanya 60 ini termasuk bagian dari keimanan dan bukan berarti dia menāfī’kan yang selainnya.

Para ulama ketika mereka mendengar hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang jumlah cabang Iman. Sebagaimana kita ketahui ilmu yang mereka miliki, pengalaman mentadabburi dan seterusnya tentunya memiliki dampak di dalam keyakinan mereka.

Sehingga ketika mereka mendengar Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya Iman ini ada 70 cabang lebih,
mereka tashdiq, mereka yakin dengan seyakin-yakinnya bahwasanya kenyataan (hakikatnya) adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Iman adalah 70 cabang lebih.

Mereka meyakinkan bahwasanya jumlahnya adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kemudian mereka membaca Al-Qur’ān dari awal sampai akhir. Membaca Al-Qur’ān merupakan ibadah rutin bagi para ulama, selain mentadabburi Al-Qur’ān, niat mereka adalah mengumpulkan cabang-cabang keimanan yang disyaratkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Misalnya :

Mereka memulai dari Al-Fātihah, mereka membaca dan mencari ayat demi ayat apa yang termasuk cabang-cabang keimanan. Selesai Al-Fātihah kemudian mereka melanjutkan ke Al-Baqarah dan seterusnya.

Allāh mengatakan :

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ

“Mereka yang beriman kepada yang ghaib”

Ini termasuk cabang keimanan yaitu beriman dengan yang ghaib.

وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ

Ini termasuk cabang keimanan yaitu mendirikan shalāt.

وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ

Ini termasuk cabang keimanan yaitu berinfaq dan juga bershadaqah.

(QS. Al-Baqarah:3)

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ

Termasuk cabang keimanan adalah beriman dengan kitāb.

Dan seterusnya,kemudian mereka menemukan tentang Jihād, Zakat, Birrul walidain, al- Ihsanillah Jarr, Al-Ihsanilladzil Qurba, Shaum, al Hajj dan seterusnya sampai An-Nas mereka hitung dan tulis berapa cabang keimanan yang mereka dapatkan.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top