Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-98 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau mengatakan:
وَفِي الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى
Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abdullah ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, di dalam firman Allāh:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka (yaitu kaumnya Nabi Nuh) berkata (kepada teman-teman mereka sendiri), “Jangan kalian meninggalkan sesembahan kalian, dan janganlah kalian meninggalkan Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.” (QS. Nuh: 23)
Jangan kalian tinggalkan lima ini. Siapakah lima orang ini? Abdullah ibnu Abbas menafsirkan,
قَالَ هَذِهِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ
Ini adalah nama-nama orang-orang yang shalih dari kaumnya Nabi Nuh.
Jadi Nabi Nuh ‘alaihissalām ada di antara kaum Beliau yang mereka adalah orang-orang yang shalih. Ini nama-nama mereka: Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr. Kemudian Abdullah ibnu Abbas menjelaskan kepada kita:
فَلَمَّا هَلَكُوا
Ketika mereka meninggal dunia (dan tidak harus di sini mereka meninggal dunia dalam satu waktu)
أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ
Maka syaithan mewahyukan kepada kaum tersebut, yaitu kaum orang-orang shalih tersebut yang mereka dahulu berteman dan senang dengan orang-orang shalih tersebut, dan bangga/takjub dengan orang-orang shalih tersebut, dan meniru dan meneladani mereka, datang syaithan dan mewahyukan kepada mereka, dibisikin dan didorong,
أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ فِيهَا أَنْصَابًا
Hendaklah kalian (berarti bukan hanya satu orang saja yang dibisiki oleh syaithan tapi beberapa orang diantara mereka) memasang anshāba (yaitu patung-patung, baik mungkin dari batu atau dari kayu), dipasang di majelis-majelis mereka yaitu majelis-majelis orang-orang shalih tersebut yang dulu mereka sering duduk di situ, beribadah di situ. Kalian pasang di tempat-tempat ibadah mereka anshāban (yaitu patung-patung).
Ini diwahyukan oleh syaithan di beberapa orang di antara mereka, mungkin ketemu, kemudian ternyata pemikirannya sama. Dan tujuannya adalah supaya mengingatkan orang-orang tersebut terhadap dzikrullāh. Karena ketika mereka melihat patung orang-orang shalih tersebut di tempat yang biasa mereka duduk di situ, mereka akan mengingat tentang orang shalih tadi, dan kebaikan mereka, dan sedekah mereka, dan shalat mereka, sehingga kembali dia semangat untuk melakukan amal shalih. Kemudian Abdullah ibnu Abbas mengatakan:
وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ
Dan berilah mereka nama sesuai dengan nama-nama mereka.
Jadi patung ini adalah patung Wadd, ini adalah patung Suwa‘, ini adalah patung Yaghuts, ini adalah patung Ya‘uq, ini adalah patung Nasr. Sammūhā bi asmā’ihim, namakan dengan nama mereka, meskipun mungkin secara bentuknya tidak sama ya, yang penting namanya ini Suwa‘ ini adalah Yaghuts dan seterusnya.
فَفَعَلُوا
Akhirnya mereka pun melakukan.
Dibisiki oleh syaithan dan itu yang bisa dilakukan oleh syaithan, hanya membisiki saja. Dibisikin terus sehingga menganggap itu adalah baik, akhirnya fa‘alū, mereka melakukan. Karena mereka ingin terus istiqamah, ingin baik, akhirnya mereka membuat patung-patung tadi. Kan ini baik, ini adalah untuk kepentingan kita, ini adalah supaya kita istiqamah, kita ingat kepada Allāh ﷻ dan tidak berbuat maksiat.
وَلَمْ تُعْبَدْ
Dan ternyata patung-patung tadi belum disembah.
Alhamdulillāh, sampai di saat itu belum disembah. Karena mereka masih punya ilmu, tidak boleh menyembah kepada patung atau kepada orang yang shalih, mereka punya ilmunya, sehingga belum disembah. Mereka masih menyembah kepada Allāh ﷻ semata.
حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ
Kemudian ketika orang-orang yang punya ilmu tadi mati (yaitu berilmu bahwasanya menyembahnya hanya kepada Allāh saja, ini hanya untuk mengingatkan kita untuk beribadah kepada Allāh).
وَنُسِيَ الْعِلْمُ
Ketika orang-orang yang tadi berilmu tadi meninggal dunia, orang-orang yang tahu tadi sejarahnya tadi meninggal dunia, kemudian setelah itu datang generasi yang mereka tidak perhatian dengan ilmu, tidak menuntut ilmu agama, sehingga kebenaran menjadi samar, dan dilupakan ilmu,
عُبِدَتْ
Akhirnya disembahlah patung-patung tadi selain Allāh ﷻ.
Mulailah disembah. Jadi menganggap bahwasanya nenek moyang mereka dahulu melakukan demikian (mereka memasang dan membikin patung-patung tadi) adalah untuk disembah selain Allāh ﷻ. Akhirnya mereka pun bernadzar di dekat patung-patung tadi, meminta kepada patung-patung tadi, dan berdoa.
Dan ini adalah waswas dari syaithan. Mereka orang-orang yang mendatangi segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ, baik berupa patung maupun berupa kuburan—kadang kuburan orang yang shalih—syaithan juga memiliki tipu daya. Karena seseorang sering melihat patung tadi, sehingga seakan-akan patung tadi berbicara, atau karena seseorang dia mendatangi kuburan dan meyakini demikian dan demikian, akhirnya syaithan pun bisa berbicara dan menyerupai ucapannya dengan ucapan orang yang sudah meninggal tadi. Sehingga ini fitnah bagi orang yang masih hidup.
Kemudian dia pulang ke kampungnya, dia pulang ke keluarganya, “Bapak saya berbicara kepada saya kemarin, padahal sudah meninggal semenjak sebulan yang lalu”. Dan yang berbicara bukan bapaknya tapi itu adalah syaithan yang menyerupai (yang bisa menjelma) dengan izin Allāh ﷻ. Akhirnya terjadilah fitnah yang besar dikunjungi oleh manusia, kuburan tadi dianggap itu adalah kuburan yang keramat dan seterusnya, kemudian akhirnya mereka pun mengemis dan meminta-minta kepada shāhibul-qabr. Di sinilah syaithan gembira dengan hasil usahanya, dari ghuluw sampai akhirnya menjadi sebuah kesyirikan.
Ini ucapan Abdullah ibnu Abbas menjelaskan kepada kita tentang bagaimana kekufuran pertama kali itu terjadi. Sebabnya apa? Antum lihat sendiri sebabnya adalah karena ghuluw berlebih-lebihan terhadap orang yang shalih. Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, mereka bukan orang-orang yang suka berbuat maksiat, mereka adalah orang-orang yang shalih, dan ternyata kesyirikan yang pertama adalah sebabnya berlebih-lebihan terhadap orang yang shalih.
وَقَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ: قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ
Dan berkata Ibnul Qayyim, “Berkata beberapa orang dari salaf:” berarti bukan hanya satu orang.
لَمَّا مَاتُوا
Ketika mereka (yaitu orang-orang shalih tersebut) meninggal dunia,
عَكَفُوا عَلَى قُبُورِهِمْ
Mereka beri‘tikaf di sekitar kuburan orang-orang shalih tersebut.
I‘tikaf artinya adalah berdiam diri di situ, di sekitar kuburan mereka. Kalau tadi (yang pertama tadi) adalah membuat patung di tempat-tempat mereka dahulu duduk. Sekarang yang kedua, ada tafsiran yang lain, mereka beri‘tikaf di sekitar kuburan orang-orang shalih tersebut. Beri‘tikafnya untuk siapa? Untuk Allāh ﷻ. Ketika mereka melihat kuburan tadi, mengingat orang-orang shalih tadi sehingga dia khusyuk dalam beri‘tikaf, khusyuk dalam beribadah kepada Allāh ﷻ, cuma mereka berdiam diri di kuburan.
ثُمَّ صَوَّرُوا تَمَاثِيلَهُمْ
Kemudian setelah itu mereka membuat patung-patung.
Jadi tidak cukup dengan kuburan dan beribadah di sekitar kuburan orang-orang yang shalih, tapi mereka membuat patung mereka, supaya lebih mantap melihat gambar mereka dan patung mereka.
ثُمَّ طَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَعَبَدُوهُمْ
Setelah mereka melakukan itu semuanya (berada di sekitar kuburan orang-orang yang shalih, membuat patung mereka) dan maksudnya adalah untuk mengingatkan mereka dalam beribadah, ternyata, setelah berlalu lama kejadian tersebut sampai akhirnya mereka menyembah orang-orang shalih tersebut. Sudah berlalu waktunya (berlalu dalam waktu yang lama) sudah dilupakan ilmu, generasi yang paham itu sudah meninggal dunia, sehingga dilupakan ilmu (tinggallah orang-orang yang bodoh yang mereka melakukan taklid) sampai akhirnya mereka menyembah kepada selain Allāh ﷻ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
