Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-95 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau mengatakan:
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalam bab ini ada beberapa permasalahan.
الْأُولَى: تَفْسِيرُ قَوْلِهِ: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
1. Tafsir dari firman Allāh ﷻ, “Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, dan akan tetapi Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada orang yang Allāh ﷻ kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)
Tafsirnya ada di dalam hadits. Dan ini adalah menafsirkan ayat dengan hadits, dan dia termasuk cara menafsirkan ayat-ayat Allāh ﷻ selain menafsirkan ayat dengan ayat, maka menafsirkan ayat dengan hadits. Kalau memang di sana ada hadits yang menafsirkan ayat tersebut maka kita pegang kuat-kuat, dan ini lebih menguatkan pemahaman kita terhadap ayat tersebut.
الثَّانِيَةُ: تَفْسِيرُ قَوْلِهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
2. Tafsir dari firman Allāh ﷻ, “Tidak pantas bagi seorang nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampun bagi orang-orang musyrikin meskipun mereka adalah keluarga setelah jelas bagi mereka bahwa mereka adalah ashabul-jahim.” (QS. At-Taubah: 113)
Ini turun ketika Nabi ﷺ memohonkan ampun untuk Abu Thalib, ternyata dilarang oleh Allāh ﷻ.
الثَّالِثَةُ وَهِيَ الْمَسْأَلَةُ الْكَبِيرَةُ: تَفْسِيرُ قَوْلِهِ ﷺ: «قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» بِخِلَافِ مَا عَلَيْهِ مَنْ يَدَّعِي الْعِلْمَ
3. Permasalahan yang besar, yaitu tentang tafsir ucapan Nabi ﷺ, “Katakanlah Lā ilāha illallāh.” Yaitu ucapkan dengan keyakinan dan tentunya dengan melaksanakan konsekuensinya dan memahami maknanya. Berbeda dengan orang-orang yang mengaku mereka memiliki ilmu.
Apa makna Lā ilāha illallāh? Ini adalah janji dari seseorang untuk menyembah Allāh ﷻ semata dan meninggalkan sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Sehingga menunjukkan bahwasanya mereka memahami, Abu Thalib memahami yang demikian, Abu Jahal memahami yang demikian, Abdullah ibnu Abi Umayyah memahami yang demikian. Mereka memahami makna Lā ilāha illallāh, sementara di sana ada orang yang mengaku berilmu, sering mengucapkan Lā ilāha illallāh, tapi subhānallāh memahami kalimat Lā ilāha illallāh dengan pemahaman yang tidak benar. Mengatakan bahwasanya makna Lā ilāha illallāh adalah lā khāliqa illallāh (tidak ada yang mencipta selain Allāh ﷻ), itu saja. Tidak ada yang memberikan rezeki selain Allāh ﷻ, bukan tidak ada yang berhak disembah selain Allāh ﷻ. Sehingga mereka dalam sisi keyakinan iya meyakini Allāh ﷻ yang mencipta, tapi secara amaliyah banyak di antara ibadah-ibadah yang diserahkan kepada selain Allāh ﷻ, seperti berdoa, bernadzar, dan sudah kita sebutkan beberapa jenis kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian orang.
الرَّابِعَةُ: أَنَّ أَبَا جَهْلٍ وَمَنْ مَعَهُ يَعْرِفُونَ مُرَادَ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا قَالَ لِلرَّجُلِ: «قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»، فَقَبَّحَ اللَّهُ مَنْ أَبُو جَهْلٍ أَعْلَمُ مِنْهُ بِأَصْلِ الْإِسْلَامِ
4. Abu Jahal dan orang yang bersamanya yaitu Abdullah ibnu Abi Umayyah dan yang lain, mereka mengetahui tentang makna ucapan Nabi ﷺ ketika dia mengatakan, “Katakanlah Lā ilāha illallāh.” Maknanya apa? Mereka paham. Sehingga dalam ayat Allāh ﷻ mengatakan:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka ketika dikatakan kepada mereka Lā ilāha illallāh, mereka sombong. Kemudian mereka mengatakan, ‘Apakah kami meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya karena seorang tukang syair yang gila?'” (QS. Ash-Shaffat: 35-36)
Menunjukkan mereka ini paham. Maka bagaimana kita sebagai seorang muslim mengaku dia Islam, tapi ternyata Abu Jahal dan orang yang bersama mereka ini lebih paham tentang kalimat Lā ilāha illallāh. Harusnya kita ini lebih paham. Harusnya. Maka beliau mengatakan,
فَقَبَّحَ اللَّهُ
Maka semoga Allāh ﷻ menjelekkan orang yang Abu Jahal lebih paham tentang fondasi Islam ini yaitu Lā ilāha illallāh daripada dirinya.
Kita harus malu. Malu tidak memahami kalimat Lā ilāha illallāh, jangan sampai Abu Jahal lebih paham tentang kalimat Lā ilāha illallāh daripada kita ini.
الْخَامِسَةُ: جِدُّهُ ﷺ وَمُبَالَغَتُهُ فِي إِسْلَامِ عَمِّهِ
5. Kesungguhan Nabi ﷺ untuk mendakwahi pamannya dan mengusahakan Islamnya paman beliau.
السَّادِسَةُ: الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ إِسْلَامَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَسْلَافِهِ
6. Bantahan bagi orang yang menyangka bahwasanya Abdul Muthalib adalah muslim dan pendahulu-pendahulu Abdul Muthalib adalah muslim. Karena tadi disebutkan:
أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Apakah engkau benci terhadap agamanya Abdul Muthalib?”
Menunjukkan agama Abdul Muthalib adalah kesyirikan.
السَّابِعَةُ: كَوْنُهُ ﷺ اسْتَغْفَرَ لَهُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، بَلْ نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ
7. Bahwasanya Nabi ﷺ memohonkan ampun untuk Abu Thalib, kemudian akhirnya Abu Thalib tidak diampuni, bahkan Nabi ﷺ dilarang.
الثَّامِنَةُ: مَضَرَّةُ أَصْحَابِ السُّوءِ عَلَى الْإِنْسَانِ
8. Kejelekan, mudharat teman-teman yang buruk kepada manusia. Yaitu mengajak kepada kejelekan dan tidak senang melihat orang lain istiqamah di atas kebenaran.
التَّاسِعَةُ: مَضَرَّةُ تَعْظِيمِ الْأَسْلَافِ وَالْأَكَابِرِ
9. Mudharat mengagungkan nenek moyang. Yang menjadikan seseorang meninggalkan kebenaran.
الْعَاشِرَةُ: الشُّبْهَةُ لِلْمُبْطِلِينَ فِي ذَلِكَ، لِاسْتِدْلَالِ أَبِي جَهْلٍ بِذَلِكَ
10. Syubhat yang digunakan oleh orang-orang yang membawa kebatilan. Karena Abu Jahal ternyata berdalil dengan cinta kepada nenek moyang dan ini sering kita lihat, “Lho nenek moyang kita demikian dan demikian.”
الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: الشَّاهِدُ لِكَوْنِ الْأَعْمَالِ بِالْخَوَاتِيمِ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَهَا لَنَفَعَتْهُ
11. Bukti bahwasanya amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena seandainya Abu Thalib mengucapkan kalimat Lā ilāha illallāh, niscaya itu akan bermanfaat bagi dia.
الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: التَّأَمُّلُ فِي كِبَرِ هَذِهِ الشُّبْهَةِ فِي قُلُوبِ الضَّالِّينَ
12. Hendaklah kita memperhatikan besarnya syubhat ini di hati orang-orang yang sesat yaitu kecintaan kepada nenek moyang.
لِأَنَّ فِي الْقِصَّةِ أَنَّهُمْ لَمْ يُجَادِلُوهُ إِلَّا بِهَا
Karena dalam kisah ini mereka tidak berdebat kecuali dengan dalil cinta kepada nenek moyang.
مَعَ مُبَالَغَتِهِ ﷺ وَتَكْرِيرِهِ
Padahal Nabi ﷺ telah bersungguh-sungguh dan mengulang-ulangnya.
فَلِأَجْلِ عَظَمَتِهَا وَوُضُوحِهَا عِنْدَهُمْ اقْتَصَرُوا عَلَيْهَا
Karena besarnya syubhat ini dan jelasnya syubhat ini bagi mereka, maka mereka mencukupkan diri dengan syubhat ini. Syubhat ini adalah termasuk syubhat yang besar sehingga mereka mengulang-ulang terus.
Wallāhu ta‘ālā a‘lam.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
