Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-96 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau mengatakan:
بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ سَبَبَ كُفْرِ بَنِي آدَمَ وَتَرْكِهِمْ دِينَهُمْ هُوَ الْغُلُوُّ فِي الصَّالِحِينَ
Bab apa-apa yang datang (dalil-dalil) yang menunjukkan bahwasanya sebab kekufuran anak-anak Adam yaitu manusia dan meninggalkannya mereka terhadap agama mereka adalah ghuluw (berlebihan) terhadap orang yang shalih.
Dari sini kita mengetahui bahwasanya beliau rahimahullāh mendatangkan bab ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa sebab terjadinya kesyirikan pertama kali, sebab terjadinya kekufuran pertama kali sehingga manusia meninggalkan agama yang sudah Allāh ﷻ turunkan kepada mereka yaitu agama Islam, ini sebabnya adalah karena berlebihan terhadap orang-orang yang shalih.
Apa hubungan antara bab ini dengan bab sebelumnya?
Bab yang sebelumnya beliau rahimahullāh mendatangkan ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang kewajiban kita untuk bertauhid dan betapa lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Disebutkan pada bab sebelumnya tentang bagaimana Nabi Muhammad ﷺ tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya sendiri. Dan bab-bab sebelumnya tentang lemahnya Beliau, bagaimana Beliau terluka, bagaimana Beliau menyuruh keluarganya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Disebutkan juga tentang lemahnya para malaikat dan bahwasanya mereka takut kepada Allāh ﷻ.
Thayyib, mengapa manusia setelah mereka mengetahui bahwa segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ adalah lemah adanya, tapi mengapa mereka menyembah kepada selain Allāh ﷻ? Ada sebabnya. Apa sebab utamanya? Kesyirikan yang pertama kali terjadi sebabnya adalah karena ghuluw dan berlebih-lebihan terhadap orang-orang yang shalih. Beliau ingin menekankan tentang masalah ini. Dan apakah itu hanya terjadi di zaman dahulu? Tidak, itu berulang. Berulang, setan menyesatkan manusia dengan melalui pintu ini, yaitu dengan menjadikan mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang yang shalih.
Berlebih-lebihan artinya adalah mendudukkan mereka lebih dari yang semestinya. Sebab kekufuran mereka dan sebab mereka meninggalkan agama Islam sehingga mereka menjadi penyembah Allāh ﷻ dan penyembah selain Allāh ﷻ, mereka menyekutukan Allāh ﷻ adalah karena mereka terfitnah dari sisi ini. Berlebih-lebihan yaitu mendudukkan tidak sebagaimana kedudukan mereka, berlebihan di dalam mendudukkan mereka, itu namanya ghuluw.
Fish-shālihīn, kepada orang-orang yang shalih. Dan yang dimaksud dengan orang-orang yang shalih bukan hanya sekadar orang yang mereka berpakaian dengan pakaian yang islami, tapi yang dimaksud dengan orang-orang shalih di sini adalah orang yang memang dia shalih luar dan dalam mereka. Shalih di sisi Allāh ﷻ bukan hanya shalih di sisi manusia, memang sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ perintahkan kepada mereka. Dan masuk di dalam kalimat ash-shālihīn, orang-orang yang shalih di sini, semua orang-orang yang shalih. Mulai dari orang shalih yang memiliki derajat yang paling tinggi yaitu para anbiya dan juga para rasul, dan orang-orang yang ada di bawah mereka seperti para auliya’ullāh, para syuhada, para shiddiqin, mereka adalah orang-orang yang shalih.
Thayyib, mereka memiliki kedudukan di sisi Allāh ﷻ. Karena Allāh ﷻ mengatakan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa kepada Allāh.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dan orang-orang yang shalih mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Sehingga mereka adalah akramun-nās, mereka adalah orang-orang yang paling mulia di sisi Allāh ﷻ. Nah sebagian manusia, ketika mereka mengetahui tentang kedudukan orang-orang yang shalih di sisi Allāh ﷻ dan meyakini tentang tingginya kedudukan mereka, akhirnya ada di antara mereka yang memberikan kepada orang-orang shalih tersebut sifat-sifat yang harusnya kita tidak boleh mensifati dengan sifat-sifat tersebut kecuali Allāh ﷻ. Nah ini fitnahnya di sini. Meyakini tentang kelebihan mereka kemudian akhirnya memberikan sifat kepada mereka yang berlebihan sampai sifat-sifat Allāh ﷻ diberikan kepada orang shalih tersebut. Nah ini sudah ghuluw.
Kita sebagai orang-orang yang beriman, cinta kepada orang-orang yang shalih. Dan ini adalah bagian dari al-mahabbatu fillāh, kita mencintai seseorang karena Allāh ﷻ. Sebagaimana disebutkan oleh Nabi ﷺ:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ
“Tiga perkara barang siapa yang tiga perkara tersebut ada pada diri seseorang maka dia akan mendapatkan lezatnya keimanan.”
Di antaranya:
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ
“Tidak mencintai seseorang kecuali karena Allāh.”
Karena Allāh ﷻ yaitu karena dia taat kepada Allāh ﷻ maka kita mencintai dia, kita senang dengan orang-orang yang bertauhid, orang-orang yang mengikuti sunnah nabi yang taat kepada Allāh ﷻ. Kita gembira karena di situlah keridhaan Rabb kita. Kita bahagia karena di situlah kecintaan Allāh ﷻ, maka kita mencintai orang-orang yang shalih. Tapi bagaimana cara kita mengungkapkan penghormatan kita dan kecintaan kita kepada orang-orang yang shalih? Apakah dengan akal kita sendiri dengan cara kita sendiri? Jawabannya tentunya tidak.
Cara menghormati mereka dan memberikan penghargaan kepada orang-orang yang shalih sudah ditentukan di dalam syariat kita, sudah ada batasannya. Sehingga jangan sampai kehendak yang baik yang ada dalam diri kita untuk menghormati orang-orang yang shalih diiringi dengan cara yang salah dalam mengungkapkan kecintaan tersebut. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mencintai mereka karena Allāh ﷻ, menghormati kedudukan mereka. Kalau dia adalah seorang ulama apalagi. Karena Nabi ﷺ mengatakan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَلَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْلَمْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati orang yang ‘alim.”
Kita hormati mereka, kita dahulukan mereka dalam berbicara, kita berikan mereka kedudukan di majelis kita. Kemudian juga mengikuti keshalihan mereka. Nah ini poin penting juga, jangan hanya sekadar seseorang dia berbangga-banggaan berteman dengan orang yang shalih, tapi tujuan utamanya adalah bagaimana dia bisa meniru orang shalih tersebut di dalam keshalihan dia. Bagaimana dia berbicara, bagaimana dia bermuamalah dengan orang lain, bukan hanya sekadar mengatakan saya adalah teman fulan sementara kita tidak meniru keshalihan orang yang shalih tersebut. Ini di antara menghormati orang yang shalih, para ulama. Termasuk di antaranya adalah menjaga kehormatan mereka, kalau misalnya ada orang yang membicarakan mereka atau memusuhi mereka maka kita bela kehormatan orang shalih tersebut.
Secara umum kita membela kehormatan setiap muslim, tapi kalau itu adalah kehormatan ulama dan kehormatan orang shalih maka di sini kita lebih ditekankan lagi. Ini adalah cara yang tepat untuk memberikan penghormatan kepada orang-orang yang shalih. Adapun seseorang berlebih-lebihan terhadap orang-orang yang shalih, dan berlebihan di sini banyak, bisa mungkin sampai mensifati dia, dia mengetahui ilmu yang ghaib, atau dia mengetahui kapan dia meninggal dunia, atau dia bisa menggerakkan matahari, atau dia bisa memberikan bayi, dan ghuluw-ghuluw yang lain. Insya Allāh nanti akan kita sebutkan contohnya.
Sampai ada di antara mereka yang mengatakan bahwasanya Nabi ﷺ mengetahui apa yang ada di dalam Lauhul Mahfuzh, dan mengatakan bahwasanya dunia dan juga akhirat ini adalah termasuk kedermawanan Rasulullāh ﷺ. Ini berlebihan sekali terhadap Rasulullāh ﷺ. Seorang di antara mereka mengatakan:
يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُدُوثِ الْحَدَثِ الْعَمَمِ
“Wahai makhluk yang paling mulia, aku tidak memiliki seorang pun yang aku datang kepadanya dan berlindung kepadanya selain dirimu ketika terjadi musibah yang merata.”
Lihat disini bagaimana dia berlebihan, aku tidak memiliki seorang pun yang aku datang meminta perlindungan kesana kecuali dirimu, ini ucapan hanya untuk Allāh ﷻ, ketika terjadi musibah yang merata, harusnya kepada Allāh ﷻ tapi ini kepada Rasulullāh ﷺ. Kemudian dia mengatakan:
فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
“Dan sesungguhnya di antara kedermawananmu adalah dunia dan juga akhirat, dan di antara ilmumu adalah ilmu yang ada di dalam Lauhul Mahfuzh.”
Padahal yang mengetahui apa yang ada di dalam Lauhul Mahfuzh hanyalah Allāh ﷻ. Karena di situ ada perkara-perkara yang ghaib yang akan terjadi di masa yang akan datang dan Nabi tidak mengetahui yang demikian. Beliau tidak mengetahui ilmu yang ghaib kecuali apa yang Allāh ﷻ beritahukan kepada Beliau dan itu sangat sedikit.
Demikian syaithan menyesatkan manusia, atau sebagian manusia dari pintu ini yaitu pintu berlebih-lebihan terhadap orang-orang yang shalih. Maka Syaikh di sini beliau mendatangkan beberapa dalil, di antaranya adalah dari Al-Qur’an kemudian dari hadits Nabi ﷺ dan juga menyebutkan ucapan sebagian ulama.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
