Halaqah 92 | Pembahasan Hadits Ibnul Musayyab

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-92 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau mengatakan:

وَفِي الصَّحِيحِ

Di dalam hadits yang shahih. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِيهِ

Dari Ibnul Musayyab, dan beliau adalah Sa’id ibnul Musayyab, seorang kibar Tabi’in (seniornya para Tabi’in) yang menimba ilmu dari para Sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum. Al-Musayyab ini adalah seorang Sahabat. Beliau mengatakan di sini ‘an abīhi maksudnya adalah dari Musayyab. Jadi seorang anak meriwayatkan dari bapaknya. Dan ini adalah nikmat yang Allāh ﷻ berikan kepada sebuah keluarga, di mana keluarga tersebut mereka istiqamah di atas ilmu, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, sehingga seorang anak meriwayatkan dari bapaknya, seorang anak mengambil ilmu dari bapaknya.

Dan seharusnya demikian, ya seorang yang Allāh ﷻ berikan ilmu kepadanya, dia sampaikan itu kepada putra-putrinya. Merekalah yang lebih berhak daripada yang lain untuk menimba ilmu dari bapaknya. Jangan sampai seseorang mendahulukan mengajarkan kepada orang lain sementara dia melalaikan anak-anaknya dan juga keluarganya. Kalau dia memiliki ilmu, maka sebisa mungkin ilmu tersebut bisa disampaikan dan ditransfer kepada anak-anaknya. Dan ini tentunya taufik dari Allāh ﷻ, dan al-muwaffaq adalah orang yang diberikan taufik oleh Allāh ﷻ.

Di sini Sa’id ibnul Musayyab meriwayatkan dari bapaknya (Al-Musayyab). Beliau adalah Al-Musayyab ibnu Hazan, dan Hazan (kakeknya Sa’id) ini juga termasuk Sahabat Nabi ﷺ. Jadi Sa’id adalah seniornya Tabi’in, Al-Musayyab bapaknya adalah seorang Sahabat, dan kakeknya yaitu Hazan ini juga seorang Sahabat Nabi ﷺ.

قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ

Beliau bercerita: Ketika kematian mendatangi Abu Thalib

Hadharat sebagaimana kita tahu ini adalah fi‘il mādhī. Dan maksudnya di sini adalah menjelang kematian Abu Thalib. Bukan setelah matinya Abu Thalib, karena di situ nanti akan disebutkan bagaimana dia masih berada di atas agamanya Abdul Muthalib, menunjukkan bahwasanya dia masih dalam keadaan hidup. Jadi orang Arab mengatakan hadharat Abā Thālibin al-wafāh maksudnya adalah menjelang kematian dia, detik-detik sebelum dia meninggal dunia tapi masih dalam keadaan hidup (tapi sudah ada tanda-tanda bahwasanya dia akan meninggal dunia).

Dan Abu Thalib dia adalah Abu Thalib ibnu Abdil Muthalib, paman Rasulullāh ﷺ yang semenjak Abdul Muthalib meninggal dunia, maka Abu Thalib yang mengurus Nabi kita Muhammad ﷺ. Dan mencintai Beliau lebih dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Sampai ketika Nabi ﷺ diutus menjadi seorang nabi, maka Abu Thalib membela Beliau habis-habisan. Ketika Nabi ﷺ dimusuhi oleh kaumnya dan menyakiti Beliau, bahkan ada yang ingin membunuh Beliau, maka Abu Thalib dengan seluruh kemampuan yang dia miliki berusaha untuk membela Nabi kita Muhammad ﷺ.

جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Rasulullāh ﷺ mendatangi Abu Thalib

Yaitu mengunjungi dan menengok karena saat itu Abu Thalib sudah lanjut usia dan dalam keadaan sakit-sakitan. Beliau adalah ponakannya dan dialah yang dibela dan ditolong oleh Abu Thalib, dan Abu Thalib yang telah mengurus Beliau semenjak kecil setelah ditinggal mati oleh kakeknya. Maka di sini kita mengetahui bagaimana sayangnya dan cintanya Rasulullāh ﷺ kepada Abu Thalib sebagai seorang keponakan yang telah diurus dan sudah ditolong dengan jiwa dan raganya.

Dan ini menunjukkan bahwasanya seorang muslim boleh mengunjungi seorang kafir yang sakit. Kafirnya dia tidak menghalangi kita untuk mengunjungi orang kafir tersebut, apalagi kalau diharapkan dia mendapatkan hidayah. Karena ketika seseorang sakit ini biasanya dia mau mendengar dan hatinya dalam keadaan terbuka untuk menerima kebenaran.

Di zaman Nabi ﷺ, pernah Beliau ﷺ mengunjungi seorang Yahudi yang sakit, mengajak dia kepada Islam dan akhirnya dia masuk Islam sebelum dia meninggal dunia. Islam memang mengajarkan untuk tegas kepada orang-orang yang kafir (yaitu kita tidak boleh lembek), kemudian kita meninggalkan ajaran kita karena di depan kita ada orang-orang kafir kemudian kita malu untuk melaksanakan Islam, ini tidak boleh. Tapi bukan berarti kita menzhalimi orang-orang kafir. Di sini Nabi ﷺ mengajarkan tentang ‘iyādatul marīdh, bolehnya seseorang untuk menengok orang yang sakit meskipun dia adalah orang yang kafir, bahkan diharapkan di sana ada dakwah dan orang kafir tersebut masuk ke dalam agama Islam. Dan ini juga menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ adalah orang yang sering silaturahim, menyambung tali kekeluargaan. Jadi di sana ada pahala mengunjungi orang yang sakit, kemudian yang kedua juga ada pahala silaturahim, dan yang ketiga ada pahala dakwah kepada Allāh.

وَعِنْدَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ وَأَبُو جَهْلٍ

Dan di sisi Abu Thalib ada Abdullah ibnu Abi Umayyah dan Abu Jahal

Abdullah ibnu Abi Umayyah ini adalah Al-Makhzumi dan beliau saat itu masih dalam keadaan musyrik. Allāh ﷻ memberikan hidayah Islam kepada beliau setelah itu. Nah, di sisi Abu Thalib ada Abdullah ibnu Abi Umayyah, kemudian juga ada Abu Jahal (Amr ibnu Hisyam) yang dia juga musyrik dan dia mati dalam keadaan musyrik. Abu Jahal (Amr ibnu Hisyam) meninggal (atau mati terbunuh) ketika Perang Badar. Dan dia termasuk musuh yang paling bebuyutan kepada Rasulullāh ﷺ, sangat benci dengan Rasulullāh ﷺ.

Datang keduanya kepada Abu Thalib karena Abu Thalib ini adalah pembesar Quraisy dan mereka adalah orang-orang Quraisy. Yang di antara tokoh-tokoh Quraisy mereka mengunjungi Abu Thalib yang merupakan pembesar orang-orang Quraisy. Menunjukkan bagaimana orang-orang musyrikin dahulu mereka juga saling mengunjungi di antara mereka, saling menguatkan satu di antara mereka dengan yang lain.

فَقَالَ لَهُ

Maka Nabi ﷺ berkata kepada pamannya. Mendakwahi beliau, keberadaan Abu Jahal dan Abdullah dan ini menunjukkan bahwasanya seorang musyrik pun terkadang namanya adalah Abdullah. Menunjukkan bahwa nama ini tidak mempengaruhi hakikat. Terkadang namanya Abdullah tapi hakikatnya dia tidak menyembah Allāh ﷻ. Dan saat itu Abdullah ibnu Abi Umayyah dia dalam keadaan masih musyrik. Yang lebih dipentingkan tentunya adalah maknanya, hakikatnya, bukan hanya sekedar nama. Dan ini menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin dahulu mereka juga mengenal Allāh. Tapi mengenal Allāh sebatas rubūbiyyah Allāh ﷻ, adapun mengesakan Allāh ﷻ dalam ibadah maka mereka melanggar yang demikian (mereka juga mengenal Allāh). Sehingga tidak heran kalau ada di antara mereka yang namanya adalah Abdullah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top