Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-17, yaitu
بَابُ الشَّفَاعَةِ
Bab tentang asy-syafā‘ah.
Kemudian beliau mendatangkan dalil yang ketiga:
وَقَوْلُهُ: مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ
Dan firman-Nya: “Siapakah yang dapat memberikan syafā‘ah di sisi Allāh kecuali dengan izin-Nya?” (QS. Al-Baqarah: 255)
Dan firman Allāh ﷻ, “Tidak ada yang memberikan syafā‘ah di sisi Allāh illā bi idznih, kecuali dengan izin Allāh.” Ini menjelaskan kembali ayat yang sebelumnya. Kalau itu adalah milik Allāh ﷻ, maka maknanya tidak ada yang memberikan syafā‘ah di sisi Allāh kecuali diizinkan oleh Allāh ﷻ. Kecuali dengan izin Allāh. Tidak ada yang memulai langsung. Maksudnya belum diizinkan oleh Allāh tahu-tahu, “Ya Allāh keluarkanlah si fulan. Ya Allāh mohon keluarkan si fulan.” Ini tidak ada. Tidak mungkin dia mengatakan demikian kecuali setelah diizinkan oleh Allāh.
Adapun dia memulai langsung dan mengatakan dan meminta langsung kepada Allāh sementara belum diizinkan oleh Allāh, maka tidak ada di sana di akhirat. Man dzalladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi idznih, tidak ada yang memberikan syafā‘ah di sisi Allāh kecuali dengan izin Allāh ﷻ. Ini menunjukkan kewajiban kita adalah meminta kepada Allāh yang mengizinkan, yang memiliki syafā‘ah. “Ya Allāh izinkan Nabimu untuk memberikan syafā‘ah kepadaku. Ya Allāh izinkan para malaikat untuk memberikan syafā‘ah kepadaku.” Itu yang diucapkan oleh seseorang.
Bukan justru mengatakan “Wahai Wali, isyfa‘nī ‘indallāh (berikanlah syafā‘ah untukku di sisi Allāh),” atau “Wahai Nabi, isyfa‘nī ‘indallāh (berikanlah syafā‘ah untukku di sisi Allāh).” Ini tidak boleh. Karena ketika seseorang mengatakan, “Wahai Wali, wahai Nabi berikanlah syafā‘ah,” maka di sini dia meminta kepada selain Allāh. Dia telah berdoa kepada selain Allāh. Dan kita tahu bahwasanya berdoa kepada selain Allāh hukumnya adalah syirik yang besar.
Dan sudah berlalu pembahasannya tentang berdoa kepada selain Allāh, ber-istighātsah kepada selain Allāh. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia tersesat dengan kesesatan yang nyata, plus dia terjerumus ke dalam dosa syirik yang besar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Allāh ﷻ mengatakan:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabb kalian mengatakan, “Berdoalah kepadaku niscaya Aku akan kabulkan.” (QS. Ghafir: 60)
Berdoalah kepadaku kata Allāh, bukan kepada nabi, kepada wali. “Niscaya aku akan mengabulkan doa kalian.” Sehingga kita sangat melarang dan sangat memperingatkan dari perbuatan ini, yaitu perbuatan meminta syafā‘ah kepada wali, kepada nabi.
Kemudian setelahnya,
وَقَوْلُهُ
Dan juga firman Allāh:
وَكَم مِّن مَّلَكٍۢ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغْنِى شَفَٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَىٰ
Dan berapa banyak malaikat di langit, tidak bermanfaat syafaat mereka sedikit pun kecuali setelah Allāh mengizinkan bagi siapa yang Allāh kehendaki dan Allāh ridhai. (QS. An-Najm: 26)
Dan berapa banyak malaikat di langit, tidak bermanfaat syafaat mereka sedikit pun kecuali setelah Allāh ﷻ mengizinkan. Para malaikat memberikan syafaat, tapi tidak bermanfaat atau tidak mungkin mereka melakukan syafaat untuk makhluk yang lain, kecuali setelah Allāh ﷻ mengizinkan. Untuk siapa? Liman yasyā’, bagi siapa yang Allāh kehendaki. Menunjukkan dan menguatkan ayat yang sebelumnya bahwasanya syafaat di hari kiamat ini tidak terjadi kecuali dengan izin Allāh. Dan ayat ini khusus tentang malaikat, adapun yang sebelumnya ini adalah umum, malaikat dan juga yang lain.
Illā mim ba‘di ay ya’dzanallāhu limay yasyā’u wa yardhā. Kecuali setelah diizinkan oleh Allāh. Yaitu Allāh mengizinkan malaikat tadi untuk memberikan syafaat. Kalau Allāh mengizinkan barulah mereka bisa memberikan syafaat. Kalau Allāh tidak mengizinkan, maka mereka tidak akan bisa memberikan syafaat.
Malaikat yang mereka adalah makhluk Allāh yang muqarrabūn, dan malaikat-malaikat yang didekatkan, yang sangat dekat dengan Allāh ﷻ, meskipun demikian keadaan mereka, tapi mereka tidak sembarangan memberikan syafaat. Mereka bisa memberikan syafaat kalau diizinkan oleh Allāh ﷻ.
Liman yasyā’u wa yardhā, untuk siapa syafaat tadi? Bagi orang yang Allāh kehendaki, tidak semua orang mendapatkan syafaat. Di sana ada orang yang berhak untuk mendapatkan syafaat dan dikehendaki oleh Allāh untuk mendapatkan syafaat. Dan di sana ada orang yang tidak berhak untuk mendapatkan syafaat. Orang yang Allāh kehendaki wa yardhā dan orang yang Allāh ridhai. Berarti ada tambahan syarat di sini. Yaitu ridha Allāh untuk orang yang diberikan syafaat.
Jadi syarat yang pertama Allāh harus mengizinkan, harus ada izin dari Allāh untuk yang memberikan syafaat (nabi, malaikat, orang yang beriman). Syarat yang kedua adalah ridha Allāh untuk orang yang diberikan syafaat. Karena Allāh mengatakan liman yasyā’u wa yardhā. Bagi orang yang Allāh kehendaki dan orang yang Allāh ridhai. Adapun orang yang tidak Allāh ridhai, maka mustahil dia mendapatkan syafaat.
Nah siapakah orang yang Allāh ridhai? Orang yang Allāh izinkan yang memberikan syafaat para nabi, orang-orang yang beriman, para malaikat. Siapakah orang yang Allāh ridhai yang kelak kalau Allāh menghendaki maka dia akan bisa mendapatkan syafaat dari malaikat, dari nabi dan seterusnya? Nah ini akan diterangkan di dalam hadits tentang siapakah orang-orang yang Allāh ridhai, yang mereka akan bergembira dengan syafaat di hari kiamat.
Dan mereka adalah orang-orang yang bertauhid. Mereka adalah orang-orang yang bertauhid, yang mengesakan Allāh di dalam beribadah, di dunia mereka tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun. Inilah orang yang Allāh ridhai, Allāh ridha kepada mereka. Karena mereka telah melaksanakan tugas mereka sebagai manusia, yang dikatakan oleh Allāh, wa mā khalaqtul jinna wal-insa illā liya‘budūn. Aku tidak ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Dan yang Allāh ridhai adalah tauhid, mengesakan Allāh ﷻ dengan ibadah.
Adapun orang yang melakukan kesyirikan, maka mereka tidak diridhai oleh Allāh ﷻ, wa lā yardhā li‘ibādihil-kufr. Allāh tidak ridha kekufuran hamba-hamba-Nya. Dan syirik yang besar ini termasuk kekufuran. Yang Allāh ridhai adalah iman, yang Allāh ridhai adalah tauhid. Di dalam ayat yang lain Allāh mengatakan wa lā yasyfa‘ūna illā limanirtadhā. Dan mereka tidak memberikan syafaat kecuali bagi orang yang Allāh ridhai. Nanti akan disebutkan satu dalil yang menunjukkan bahwasanya ridha Allāh ini adalah bagi orang yang bertauhid saja.
Kemudian beliau mengatakan:
وَقَوْلُهُ: قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُۥ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ
Dan juga firman Allāh: Katakanlah, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allāh, mereka tidak memiliki kekuasaan seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafā‘ah di sisi Allāh melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafā‘ah itu…” (QS. Saba’: 22-23)
Dan juga firman Allāh: katakanlah, berdoalah kalian kepada makhluk yang kalian sangka selain Allāh. Dan perintah di sini adalah ancaman. Silakan kalian berdoa kepada selain Allāh. Ini adalah ancaman. Allāh ingin menunjukkan tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh.
Lā yamlikūna mitsqāla dzarratin fis-samāwāti walā fil-ardh. Mereka ini tidak memiliki sebesar semut kecil saja, mereka tidak memiliki. Tidak ada milik mereka, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Itu semuanya milik Allāh. Selain Allāh, mereka tidak memiliki sedikit pun meskipun hanya mitsqāla dzarrah. Kenapa mereka disembah? Kita menyembah kepada yang memiliki langit dan bumi.
Wa mā lahum fīhimā min syirkin. Dan mereka ini (bukan sekutu Allāh), maksudnya bukan sekutu bagi Allāh di dalam menciptakan langit dan bumi. Kita tahu yang namanya sekutu ya partner, sama-sama dia memiliki bisnis tertentu, kedudukan mereka sama. Mereka ini tidak memiliki dan mereka bukan sekutu Allāh ﷻ, bukan sama-sama memiliki langit dan bumi.
Wa mā lahū minhum min zhahīr. Dan Allāh ﷻ tidak memiliki penolong. Apa yang kalian sembah selain Allāh itu tidak menolong Allāh sedikit pun di dalam membuat langit dan bumi. Mereka bukan partner bagi Allāh, dan mereka tidak menolong Allāh sedikit pun.
Wa lā tanfa‘usy-syafā‘atu ‘indahū illā liman adzina lah. Dan tidak bermanfaat syafā‘ah di sisi Allāh kecuali bagi orang yang Allāh izinkan. Sama seperti beberapa ayat sebelumnya, tentang wajibnya adanya izin dari Allāh ﷻ bagi yang memberikan syafā‘ah di hari kiamat.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
