Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-163 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَلَا نُفْرِطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ
Dan kita yaitu Ahlus Sunnah wal Jamāʿah, tidak berlebihan-lebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka.
Kita mencintai para ṣaḥabat raḍiyallāhu ʿanhum karena Allāh ﷻ mencintai mereka, tapi kecintaan tersebut tidak menjadikan kita berlebihan terhadap para ṣaḥabat (ifrāṭ, ghuluw terhadap para ṣaḥabat Nabi ﷺ). Mentang-mentang seseorang mengetahui tentang keutamaan Abū Bakr, keutamaan para ṣaḥabat, keutamaan ʿUmar dan seterusnya, kemudian timbul di dalam hatinya kecintaan kepada para ṣaḥabat, kecintaan pada Khulafāʾur Rāsyidīn, kemudian terjadi di sana ghuluw dan berlebihan terhadap mereka, sampai misalnya meminta syafaat kepada mereka, kepada para ṣaḥabat, datang ke kuburan misalnya para ṣaḥabat yang ada di Baqīʿ misalnya, kemudian meminta kepada Fāṭimah atau meminta kepada ʿUthmān—ini berlebihan dalam mencintai para ṣaḥabat Nabi ﷺ—atau meyakini bahwasanya mereka mengetahui ilmu yang ghaib.
Di antara yang menyebabkan kehancuran seseorang di dalam agamanya adalah ketika dia ghuluw, berlebihan.
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمُ الْغُلُوُّ
Sesungguhnya yang telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan.
Inilah yang menghancurkan agama mereka, khususnya terhadap orang-orang yang shalih. Kesyirikan yang pertama adalah di zaman Nabi Nūḥ, yaitu berlebihan terhadap orang yang shalih. Orang Nasrani berlebihan terhadap Nabi ʿĪsā, orang Yahudi berlebihan terhadap ʿUzair. Maka hati-hati, jangan sampai kita ghuluw terhadap para ṣaḥabat Nabi ﷺ atau salah seorang di antara mereka. Yā Ahlal-Kitāb! Lā taghlū fī dīnikum!—Wahai Ahlul Kitāb, janganlah kalian ghuluw dan berlebihan di dalam agama kalian.
Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kita cintai mereka karena Allāh ﷻ dengan batas-batasnya.
وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ
Dan kita, yaitu Ahlus Sunnah, tidak berlepas diri dari salah seorang di antara mereka.
Secara umum, kita walāʾ (loyalitas) kita adalah kepada para ṣaḥabat Nabi ﷺ. Kita mencintai mereka. Tidak ada salah seorang di antara mereka yang kita berlepas diri, dari ṣaḥabat tadi. Kalau itu memang ṣaḥabat Nabi ﷺ, maka kita harus mengetahui tentang keutamaan mereka para ṣaḥabat raḍiyallāhu ʿanhum. Ini bantahan terhadap sebagian orang yang mereka berlepas diri kepada para ṣaḥabat raḍiyallāhu ʿanhum, seperti orang-orang Rāfiḍah yang mereka sangat membenci para ṣaḥabat, bahkan mengkafirkan para ṣaḥabat.
Dan yang mereka paling benci adalah Abū Bakr Ash-Ṣiddīq, ʿUmar ibn al-Khaṭṭāb, sampai mereka menggelari keduanya dengan ṭāghūt dan menganggap bahwasanya Abū Bakr telah merampas kekhilafahan ʿAlī. Dan setiap orang yang membaiʿat Abū Bakr dan juga ʿUmar, mereka pun berlepas diri. Sehingga tidak heran kalau mereka mengkafirkan sebagian besar ṣaḥabat raḍiyallāhu ʿanhum, kecuali sangat sedikit di antara mereka.
وَلَا نُفْرِطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ، وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ
Kita tidak boleh berlebihan dalam mencintai para ṣaḥabat dan tidak pula kita berlepas diri dari salah seorang ṣaḥabat Nabi ﷺ. Kita mencintai mereka semuanya dan kita loyal kepada mereka semuanya karena kita diperintahkan untuk mengikuti para ṣaḥabat Rasūlullāh ﷺ dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kita diperintahkan untuk mencintai mereka dan mengikuti para ṣaḥabat Nabi ﷺ.
Ada sebagian orang yang ghuluw, dan ada sebagian orang yang justru malah berlepas diri. Seperti tadi yang kita katakan, para ṣaḥabat Rasūlullāh ﷺ, ada diantara orang-orang yang menisbahkan diri mereka kepada Islam justru mengkafirkan para sahabat raḍiyallāhu ta’alaʿanhum.
Para sahabat raḍiyallāhu ta’alaʿanhum mereka adalah manusia yang terbaik setelah para Nabi dan juga para Rasul, karena ucapan Nabi: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي. Dan keutamaan mereka bertingkat-tingkat. Mereka bukan berarti memiliki derajat yang sama, tapi derajat mereka berbeda-beda satu dengan yang lain. Yang paling utama adalah Abū Bakr. Makanya Nabi ﷺ dalam beberapa ḥadīts menunjukkan tentang keutamaan Abū Bakr Ash-Ṣiddīq raḍiyallāhu ʿanhu. Contoh, misalnya ketika beliau mengatakan:
لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلًا
Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih di antara kalian, maka aku akan menjadikan Abū Bakr sebagai kekasihku.
Dan yang namanya khalīl, ini adalah derajat yang paling tinggi dalam kecintaan. Menunjukkan bahwa Abū Bakr Ash-Ṣiddīq adalah orang yang sangat-sangat dicintai oleh Nabi ﷺ. Kemudian juga di antara keutamaan yang menunjukkan tentang keutamaan Abū Bakr Ash-Ṣiddīq, suatu saat beliau ﷺ pernah ditanya oleh sebagian ṣaḥabatnya: “Man aḥabbun-nāsi ilayk?” Siapakah orang yang paling engkau cintai? Maka beliau mengatakan: ʿĀʾishah. Yang paling beliau cintai adalah ʿĀʾishah. Kemudian ditanya lagi: “Wa minar-rijāl?” Dan siapa di kalangan laki-laki? Beliau mengatakan: “Abūhā”—bapaknya. Itulah yang sangat dicintai oleh Nabi ﷺ.
Dan dalam Al-Qurʾān, Allāh ﷻ ketika menceritakan tentang Abū Bakr Ash-Ṣiddīq:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ، وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
Dan adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allāh) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan. (QS. Al-Lail: 5–7)
Dan ayat ini berkaitan dengan Abū Bakr Ash-Ṣiddīq:
وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى، ٱلَّذِي يُؤْتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ، وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ
Dan kelak orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari Neraka itu. (Yaitu) orang yang memberikan hartanya (di jalan Allāh) untuk membersihkannya. Dan tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. (QS. Al-Lail: 17–19)
Yaitu yang memberikan hartanya dengan maksud untuk bersihkan hartanya dan tidak ada seorangpun di sisinya yang dia memiliki jasa kepada Abu Bakar As-Siddiq sehingga Abu Bakar As-Siddiq ingin membalas jasa tersebut
Dia berinfaq itu bukan karena membalas jasa orang lain, tapi itu semua adalah karena Allāh ﷻ. Al-atqā ini adalah ism tafḍīl yang menunjukkan orang yang paling bertakwa. Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini, bahwa Abū Bakr Ash-Ṣiddīq ini adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga para Rasul.
Mereka bertingkat-tingkat. Kemudian setelahnya adalah ʿUmar bin al-Khaṭṭāb, kemudian ʿUthmān bin ʿAffān, ʿAlī bin Abī Ṭālib—mereka semua adalah Khulafāʾur Rāsyidīn—orang yang paling mulia di antara para ṣaḥabat Nabi ﷺ.
Kemudian setelahnya baru 6 orang yang mereka setelah 4 Khulafāʾur Rāsyidīn tadi. 6 orang setelahnya yang mereka dikabarkan oleh Nabi ﷺ akan masuk ke dalam Surganya Allāh ﷻ. Kemudian juga setelahnya adalah Ahlu Badr, para ṣaḥabat yang mengikuti Perang Badr. Kemudian setelahnya adalah para ṣaḥabat yang membaiʿat Nabi ﷺ ketika Baiʿat Ridhwān. Allāh ﷻ berfirman:
لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَـٰبَهُمْ فَتْحًۭا قَرِيبًۭا
Sesungguhnya Allāh telah meridhai orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. (QS. Al-Fath: 18)
Menunjukkan tentang keutamaan mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti Baiʿat Ridhwān. Adapun keutamaan Ahlu Badr, maka disebutkan dalam ḥadīts, di mana Allāh ﷻ mengatakan:
ٱعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
Amalkanlah sesuai dengan keinginan kalian, sungguhnya Aku telah mengampuni dosa kalian.
Ini menunjukkan Allāh ﷻ tahu bahwasanya Ahlu Badr semuanya akan istiqāmah di atas Islam dan meninggal di atas Islam. Sehingga Allāh ﷻ mengatakan: Silakan kalian melakukan apa yang kalian inginkan, sungguh Aku akan mengampuni dosa kalian—wahai Ahlu Badr.
Kemudian di sana ada orang yang berinfaq dan berjihad sebelum Perjanjian Ḥudaibiyyah. Ini lebih afdhal daripada para ṣaḥabat yang mereka berinfaq dan berjihad setelah Perjanjian Ḥudaibiyyah. Allāh ﷻ berfirman:
لَا يَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ ٱلْفَتْحِ وَقَـٰتَلَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةًۭ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُوا۟ مِنۢ بَعْدُ وَقَـٰتَلُوا۟ ۚ وَكُلًّۭا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ
Tidaklah sama di antara kalian orang yang berinfaq sebelum kemenangan dan berperang (dengan orang yang berinfaq dan berperang sesudah itu). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada yang berinfaq dan berperang sesudah itu. Dan masing-masing Allāh menjanjikan balasan yang terbaik. (QS. Al-Ḥadīd: 10)
Jadi yang berinfaq dan berperang sebelum perjanjian Ḥudaibiyyah ini lebih baik daripada yang berinfaq dan berjihad setelah perjanjian Ḥudaibiyyah.
Orang-orang Muhājirīn lebih mulia daripada orang-orang Anṣār. Karena dalam beberapa ayat tadi, ketika Allāh menyebutkan Muhājirīn dan Anṣār, Allāh ﷻ senantiasa menyebutkan Muhājirīn sebelum Anṣār:
وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍۢ…
Dan juga:
لَّقَدْ تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ…
Muhājirīn dulu, kemudian Anṣār, dan seterusnya.
Maka, kewajiban kita adalah mencintai para ṣaḥabat sebagaimana Allāh ﷻ mencintai mereka. Dan kita tidak berlebih-lebihan, dan tidak boleh kita berlepas diri dari salah seorang di antara para ṣaḥabat Nabi ﷺ.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

