Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-164 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَنُبْغِضُ مَنْ يُبْغِضُهُمْ
Kalau ada orang yang membenci sahabat Nabi ﷺ, kita Ahlus Sunnah membenci orang yang membenci para sahabat.
Karena dia berarti menentang Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mencintai mereka, kemudian justru dia malah membenci para sahabat. Maka kita benci kepada orang yang menentang Allāh ﷻ. Allāh ﷻ memuji mereka, kemudian mereka mencela para sahabat. Allāh ﷻ mengatakan mereka adalah orang yang diriḍai oleh Allāh ﷻ. Kemudian mereka mengatakan mereka adalah orang-orang yang kafir, keluar dari agama Islam. Maka Ahlus Sunnah benci kepada orang yang benci kepada para sahabat Nabi ﷺ. Kita benci dengan orang-orang Rāfiḍah karena mereka mengkafirkan para sahabat Nabi ﷺ.
Sebagian ulama ada yang berdalil dengan firman Allāh ﷻ:
لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
Supaya orang-orang kafir itu marah.
Allāh ﷻ sedang menceritakan tentang para sahabat Nabi ﷺ. Itu dalam QS. Al-Fatḥ, supaya orang-orang kafir itu marah dengan sebab para sahabat.
Sehingga sebagian ulama ada yang mengkafirkan Rāfiḍah berdasarkan ayat ini, karena mereka sangat membenci para sahabat raḍiyallāhu ʿanhum. Sangat benci dengan Abū Bakr dan ʿUmar. Setiap orang yang mendukung dan membaiʿat Abū Bakr dan ʿUmar, maka kecintaan kita adalah karena Allāh ﷻ dan kebencian kita adalah karena Allāh ﷻ.
Kalau ada di sana orang yang membenci para sahabat Nabi ﷺ dan yang jelas bertentangan dengan Allāh ﷻ, maka kita pun membenci mereka.
وَبِغَيْرِ الخَيْرِ يَذْكُرُهُمْ
kita juga benci kepada setiap orang yang menyebutkan para sahabat dengan tidak baik.
Membicarakan kejelekan para sahabat, jadi kita juga membenci mereka. Karena Allāh ﷻ sudah memuji mereka dan Nabi ﷺ sudah memuji mereka.
Kabar yang tidak baik tentang para sahabat raḍiyallāhu ʿanhum kebanyakan adalah dusta. Seandainya itu adalah kisahnya ada, tapi sudah banyak yang ditambah dan dikurangi, sehingga orang yang membaca bisa berprasangka buruk kepada para sahabat Nabi ﷺ. Padahal itu sudah dirubah-rubah oleh sebagian orang — dibuat kisahnya, dibuat ucapan yang tidak benar, ditambah-tambah, dibuat panas.
Kemudian seandainya itu adalah benar sebuah kesalahan maka mereka adalah orang-orang yang berijtihād. Kalau memang itu adalah sebuah kesalahan, kita harus pahami bahwa mereka adalah orang-orang yang berijtihād. Kalau di sana ada mujtahid, maka mereka adalah orang yang paling berhak untuk menyandang mujtahid. Dan orang yang mujtahid, salahnya mendapat satu pahala.
Seandainya itu adalah benar-benar kesalahan dan itu bukan ijtihād misalnya — itu adalah memang murni dosa — kita katakan bahwasanya para sahabat bukan maʿṣūm. Mereka seperti ucapan Nabi ﷺ:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ
Setiap anak Adam berbuat salah.
Dan kalau kita bandingkan antara dosa mereka atau salah seorang di antara mereka dengan amalan-amalan yang mereka lakukan, ini sangat tidak ada bandingannya. Kesalahan yang sangat kecil, mungkin salah berucap, salah bertindak. Tapi lihat: keutamaan hijrah, keutamaan jihad, keutamaan membela Nabi ﷺ, keutamaan ṣadaqah mereka.
Ucapan Nabi ﷺ:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ
“Jangan kalian mencela para sahabatku. Sungguh salah seorang di antara kalian, seandainya dia berinfaq dengan emas sebesar Gunung Uḥud, maka tidak akan sampai pahalanya dengan pahala satu mudd-nya seorang sahabat.”
Seandainya seorang sahabat berinfaq satu mudd saja berupa kurma misalnya, maka orang yang berinfaq dengan emas sebesar Gunung Uḥud tadi, kalau dibandingkan dengan pahala seorang sahabat yang berinfaq dengan satu mudd, itu tidak ada bandingannya. Akan lebih banyak satu mudd-nya para sahabat. Allāh ﷻ berkahi. Allāh ﷻ lipatgandakan untuk mereka.
Padahal itu dilakukan oleh seseorang yang dia ikhlas menginfakkan dengan jumlah yang banyak. Pahalanya tentunya sangat banyak, besar. Tapi pahala yang diterima oleh seorang sahabat Nabi jauh lebih besar. Wa lā naṣīfahū — bahkan bukan hanya separuhnya, bahkan separuhnya saja tidak sampai. Itu baru satu mudd yang mereka infakkan. Lalu bagaimana seandainya mereka berinfaq dengan dua mudd? Bagaimana seandainya mereka berinfaq dengan satu dinār? Tidak bisa kita bayangkan bagaimana besarnya ḥasanāt yang dimiliki oleh para sahabat Nabi ﷺ.
Bandingkan dengan kesalahannya yang hanya sangat sedikit. Sehingga bagaimana seseorang menyebutkan kejelekan para sahabat? Silakan dia mengoreksi dirinya sendiri. Para sahabat sudah dipuji oleh Allāh ﷻ, sudah dipuji oleh Nabi ﷺ. Sehingga kita tidak menyebutkan kecuali kebaikan saja.
Makanya di antara sikap Ahlus Sunnah adalah mereka menahan diri — tidak berbicara tentang apa yang terjadi di antara para sahabat Nabi ﷺ, kecuali kalau tujuannya adalah untuk menjelaskan mana yang ḥaqq dan mana yang bāṭil. “Oh, ini adalah kisah yang dusta. Yang benar adalah kisah yang seperti ini. Kisah yang dusta ini diriwayatkan oleh Fulan dan Fulan, sementara kisah yang benar ini adalah diriwayatkan oleh Imām Bukhārī” misalnya. Jadi kita menyebutkan karena untuk menjelaskan — tidak masalah.
وَبِغَيْرِ الخَيْرِ يَذْكُرُهُمْ، وَلَا نَذْكُرُهُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ
Kalau mereka (ahlul bida’) menyebutkan kejelekan para sahabat, adapun kami yaitu Ahlus Sunnah kita tidak menyebutkan para sahabat kecuali dengan kebaikan saja. Kebaikan-kebaikan saja yang kita sebutkan — keutamaan mereka, manāqib mereka.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

