Halaqah 55 | Kandungan-Kandungan Dalam Bab 10

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Beliau mengatakan

فِيهِ مَسَائِلُ

Di dalamnya ada beberapa permasalahan.

الأُولَى: تَفْسِيرُ{ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي}

1. Tafsir dari firman Allāh, yang Allāh sebutkan di dalam surat Al-An’am, “Katakanlah sesungguhnya shalatku dan juga ibadahku.” Dan sudah kita sebutkan bahwasanya ayat ini menunjukkan bahwa menyembelih adalah hak Allāh, kalau itu adalah hak Allāh maka menyerahkan hak Allāh kepada selain Allāh ini adalah syirik.

الثَّانِيَةُ: تَفْسِيرُ {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ}

2. Tafsir dari firman Allāh ﷻ, “Maka shalatlah untuk Rabb-Mu dan menyembelihlah.” Menunjukkan bahwasanya menyembelih adalah perintah Allāh, dan perintah adalah ibadah, kalau itu adalah ibadah, maka menyerahkan itu kepada selain Allāh adalah syirik.

الثَّالِثَةُ: الْبَدَاءةُ بِلَعْنَةِ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

3. Memulai dengan laknat bagi orang yang menyembelih untuk selain Allāh. Ketika Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan empat perkara, yang pertama kali disebutkan oleh Beliau ﷺ adalah laknat bagi orang yang menyembelih untuk selain Allāh. Dan ini menunjukkan tentang besarnya perkara ini. Sebelum beliau menyebutkan tentang laknat bagi orang yang melaknat kedua orang tuanya, laknat bagi orang yang melindungi orang yang melakukan bid’ah atau maksiat, sebelum beliau menyebutkan tentang laknat bagi orang yang mengubah-ubah batas-batas tanah, maka yang pertama kali Beliau ﷺ sebutkan adalah laknat bagi orang yang menyembelih untuk selain Allāh.

الرَّابِعَةُ: لَعْنُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَمِنْهُ: أَنْ تَلْعَنَ وَالِدَيِ الرَّجُلِ فَيَلْعَنَ وَالِدَيْكَ

4. Laknat bagi orang yang melaknat kedua orang tuanya, termasuk di antaranya engkau melaknat kedua orang tua orang lain, sehingga dia pun melaknat kedua orang tuamu. Ini masuk di dalam ucapan Nabi ﷺ ini.

الْخَامِسَةُ: لَعْنُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا: وَهُوَ الرَّجُلُ يُحْدِثُ شَيْئًا يَجِبُ فِيهِ حَقُّ اللهِ، فَيَلْتَجِئُ إِلَى مَنْ يُجِيرُهُ مِنْ ذَلِكَ

5. Laknat bagi orang yang melindungi orang yang muhdits, yaitu seseorang yang melakukan sesuatu yang wajib di dalamnya ditunaikan hak Allāh, kemudian dia pun meminta perlindungan kepada orang lain. Maka orang yang melindungi tadi, melindungi orang yang berbuat maksiah, memfasilitasi orang yang melakukan bid’ah, melakukan kemaksiatan, dia termasuk orang yang mendapatkan laknat.

السَّادِسَةُ: لَعْنُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ: وَهِيَ الْمَرَاسِيمُ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ حَقِّكَ وَحَقِّ جَارِكَ مِنَ الأَرْضِ؛ فَتُغَيِّرُهَا بِتَقْدِيمٍ أَوْ تَأْخِيرٍ

6. Laknat bagi orang yang mengubah-ubah batas bumi: manarul ardh adalah batas-batas yang memisahkan antara hakmu dari tanah tersebut dan juga hak tetanggamu; kemudian engkau mengubahnya baik dengan dikedepankan maupun diakhirkan. Ini masuk di dalam laknat Allāh ﷻ, yaitu orang yang mengubah-ubah batas tanah.

السَّابِعَةُ: الْفَرْقُ بَيْنَ لَعْنِ الْمُعَيَّنِ وَلَعْنِ أَهْلِ الْمَعَاصِي عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ

7. Beda antara melaknat seseorang secara khusus, dengan melaknat pelaku kemaksiatan secara umum. Dalam hadits ini ada laknat secara umum. Allāh melaknat orang yang melakukan demikian. Ini adalah melaknat ahlul ma’siah secara umum. Adapun la’nul mu’ayyan ini adalah menyebutkan nama, “Allah melaknat si Fulan”, “Semoga Allāh melaknat dirimu.” Maka beda antara dua perkara ini.

Kalau secara umum, maka kita melaknat sebagaimana Allāh ﷻ melaknat. Tapi kalau secara khusus, maka seorang muslim sifatnya bukan sebagai orang yang tukang laknat. Sebagaimana ucapan Nabi ﷺ bahwasanya seorang mukmin itu bukan tha’an (طَّعَّانِ), bukan la’an (لَّعَّانِ), yaitu bukan orang yang suka mencela. Sedikit-sedikit dia mencela, sedikit-sedikit dia melaknat, itu bukan sikap seorang mukmin. Tapi yang disebutkan dalam hadits ini adalah melaknat secara umum.

الثَّامِنَةُ: هَذِهِ الْقِصَّةُ الْعَظِيمَةُ وَهِيَ قِصَّةُ الذُّبَابِ

8. Kisah yang agung ini, dan dia adalah kisah tentang seekor lalat, dia adalah kisah yang besar yang hendaklah menjadi pelajaran bagi kita semua, bagaimana seseorang bisa masuk ke dalam Neraka dengan sesuatu yang mungkin dianggap remeh, dia menyembelih seekor lalat. Dan menunjukkan kepada kita tentang bagaimana tamassuknya (تَمَسّك) ahli Tauhid dengan Tauhid Islam yang sudah Allāh ﷻ karuniakan kepada dirinya.

التَّاسِعَةُ: كَوْنُهُ دَخَلَ النَّارَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الذُّبَابِ الَّذِي لَمْ يَقْصِدْهُ بَلْ فَعَلَهُ تَخَلُّصًا مِنْ شَرِّهِمْ

9. Keadaan laki-laki tersebut masuk ke dalam Neraka dengan sebab lalat, yang dia sebenarnya tidak memaksudkan (dia dari rumah ketika akan melewati kaum tadi, melewati berhala tadi, tidak ada maksud bagi dirinya untuk menyembelih seekor lalat bagi berhala tadi) tapi saat itu dia melakukannya karena ingin lepas dari kejelekan kaum tadi. Yaitu supaya tidak dibunuh, meskipun demikian ternyata dia masuk ke dalam Neraka.

Memang dari awal ketika keluar dari rumahnya, dia tidak memaksudkan yang demikian. Tapi ketika ngobrol dan berbicara dengan orang-orang musyrikin tadi, kemudian mereka menghias-hiasi dan memberikan subhat dan mengatakan, “Sembelihlah meskipun hanya seekor lalat.” Akhirnya dia menganggap ini adalah perbuatan yang tidak masalah. Akhirnya dia menyembelihnya dan akhirnya masuk ke dalam Neraka. Ini maksud dari ucapan beliau lam yaqshidhu, maksudnya adalah dari awal yaitu dari rumahnya dia tidak memaksudkan yang demikian. Tapi setelah itu dia memaksudkan setelah dihias-hiasi oleh orang-orang musyrikin.

الْعَاشِرَةُ: مَعْرِفَةُ قَدْرِ الشِّرْكِ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ، كَيْفَ صَبَرَ ذَلِكَ عَلَى الْقَتْلِ وَلَمْ يُوَافِقْهُمْ عَلَى طِلْبَتِهِم مَعَ كَوْنِهِمْ لَمْ يَطْلُبُوا إِلاَّ الْعَمَلَ الْظَّاهِرَ

10. Di sini kita mengenal bagaimana kedudukan syirik di dalam hati orang-orang yang beriman, itu adalah perkara yang besar. Bagaimana dia bersabar untuk dibunuh, dan dia tidak menyetujui apa yang menjadi permintaan orang-orang musyrikin tadi. Padahal mereka tidak meminta kecuali amalan yang dhahir saja. Tapi karena ini adalah perbuatan syirik, maka ini adalah perkara yang sangat besar di hati orang-orang yang beriman. Sehingga dia rela untuk mati, rela untuk dibunuh demi menjaga tauhidnya, dan supaya dia tidak terjerumus ke dalam kesyirikan. Meskipun mereka ini hanya meminta amalan yang dhahir saja. “Yang penting kamu menyembelih!”. Masalah kamu percaya atau tidak percaya, mereka tidak peduli. Tapi meskipun demikian, karena ini adalah perbuatan yang besar yang bertentangan dengan tauhid, maka dia rela untuk mati dan meninggal dunia dalam rangka menjaga keimanannya.

الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: أَنَّ الَّذِي دَخَلَ النَّارَ مُسْلِمٌ؛ لأَِنَّهُ لَوْ كَانَ كَافِرًا لَمْ يَقُلْ: ((دَخَلَ النَّارَ فِي ذُبَابٍ))

11. Bahwasanya yang masuk ke dalam Neraka adalah seorang muslim, karena seandainya itu adalah seorang yang kafir, Nabi ﷺ tidak akan mengatakan masuk ke dalam Neraka seseorang karena sebab lalat. Karena kalau dia adalah orang kafir dia masuk ke dalam Neraka karena kekafiran dia sebelumnya. Tapi di sini disebutkan masuk ke dalam Neraka seseorang dengan sebab lalat, yaitu dengan sebab dia menyembelih lalat. Berarti asalnya dia adalah seorang muslim, yang seharusnya kalau dia istiqamah dia masuk ke dalam Surga. Tapi karena dia tidak istiqamah akhirnya menyembelih seekor lalat maka tempat kembalinya adalah Neraka.

الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: فِيهِ شَاهِدٌ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ ((الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ))

12. Di dalamnya ada syahid yaitu yang mendukung hadits yang shahih yang datang dari Nabi ﷺ, bahwasanya Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian dari tali sandalnya, dan Neraka juga demikian. Artinya seseorang bisa masuk ke dalam Surga dan bisa masuk dalam Neraka dengan sebab sesuatu yang tidak terduga, sangat dekat sekali. Orang yang sebelumnya dia adalah muslim tiba-tiba menyimpang hatinya, melakukan sesuatu yang membatalkan Islam, dan akhirnya dia masuk ke dalam Neraka. Maka ini mendukung apa yang disebutkan dalam hadits ini.

الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ أَنَّ عَمَلَ الْقَلْبِ هُوَ الْمَقْصُودُ الأَعْظَمُ حَتَّى عِنْدَ عَبَدَةِ الأَوْثَانِ

13. Mengenal bahwasanya amalan hati ini adalah maksud yang paling besar, sampai di antara para penyembah berhala. Apa maksud dari ucapan beliau di sini? Maksudnya di sini mereka hanya menginginkan kita ini mengagungkan sesembahannya, meskipun dengan menyembelih sesuatu yang tidak ada harganya yaitu menyembelih seekor lalat. Tapi yang mereka inginkan adalah ta’zhim yang ada dalam hati kita. Kita mengagungkan sesembahan mereka, itulah yang mereka inginkan.

Maka di sini beliau menyebutkan dalam faedah yang ke-13. Di sini kita memahami bahwasanya amalan hati adalah perkara yang sangat dimaksudkan oleh orang-orang yang menyembah kepada selain Allāh yaitu orang-orang musyrikin.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top