Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-162 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau berbicara tentang keyakinan Ahlus Sunnah terhadap para sahabat Rasulullāh ﷺ. Ini juga termasuk Aqidah Ahlus Sunnah yang membedakan diri mereka dengan Ahlul Bidʿah. Ada sebagian Ahlul Bidʿah yang mereka membenci bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi ﷺ, dan ada di antara mereka yang berlebihan terhadap sebagian sahabat Nabi ﷺ.
Nah, bagaimana Aqidah Ahlus Sunnah yang benar? Beliau mengatakan:
وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ ﷺ
Dan kita mencintai para sahabat Rasulullāh ﷺ.
Para sahabat yaitu adalah setiap orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ. Dan bertemu itu bisa melihat, bisa tidak melihat, bisa ketemu sekali atau beberapa kali. Pokoknya setiap yang bertemu muʾminan bihi — dalam keadaan dia beriman. Bertemu kemudian beriman. Kalau hanya bertemu tapi dia tidak beriman, meskipun melihatnya, meskipun menemaninya, meskipun membelanya mati-matian, seperti Abū Ṭālib misalnya, maka ini tidak dinamakan dengan sahabat Rasulullāh ﷺ. Sahabat adalah orang yang beriman dengan Nabi ﷺ.
Dari sini kita tahu bahwa Abū Ṭālib ini bukan sahabat Nabi. ʿAbdullāh bin Ubay bin Salūl juga bukan sahabat Nabi ﷺ, karena mereka berada di atas kekufuran, kenifāqan, tidak beriman dengan Rasulullāh ﷺ. Muʾminan bih wa māta ʿalal-Islām — dan dia meninggal dalam keadaan Islām. Kalau misalnya dia beriman tapi tidak meninggal di atas Islām, maka dia bukan sahabat. Murtad misalnya, di masa Nabi atau setelah meninggalnya Nabi ﷺ, maka ini tidak dinamakan sebagai seorang sahabat. Sahabat itu adalah orang yang meninggal dalam keadaan iman.
Wa in taqallalat-hu ar-riddah, meskipun keislamannya itu diselingi dengan murtad dari Islām. Misalnya, dia masuk Islām kemudian dia murtad, kemudian setelah itu dia masuk Islām kembali dan meninggal di atas Islām, maka dia dinamakan sebagai sahabat. Tapi kalau dia sampai meninggal dunia dalam keadaan kufur, maka ini bukan termasuk sahabat Nabi ﷺ. Sehingga dari sini kita mengetahui bahwasanya sahabat itu bukan munāfiq, dan munāfiq itu bukan seorang sahabat.
Kita mencintai para sahabat Nabi ﷺ. Kenapa kita mencintai mereka? Karena Allāh ﷻ mencintai para sahabat Nabi ﷺ. Sehingga kita mencintai mereka karena Allāh, yaitu karena Allāh mencintai mereka, maka kita pun ikut mencintai mereka. Karena yang namanya hamba ya mengikuti, semakin kuat penghambaan seseorang kepada Allāh, semakin dia mengikuti Allāh ﷻ di dalam syariat, bahkan termasuk di dalam perkara-perkara yang dicintai oleh Allāh, maka dia berusaha untuk mengenyampingkan hawa nafsunya, keinginannya, demi untuk mencari riḍā dari Allāh ﷻ. Itu seorang hamba.
Makanya, ketika seorang hamba mengetahui dan menyadari bahwa Allāh mencintai para sahabat Nabi ﷺ, kita pun juga ikut mencintai para sahabat Nabi ﷺ.
Apa buktinya bahwa Allāh mencintai mereka? Buktinya, Allāh ﷻ banyak memuji mereka di dalam Al-Qur’an. Bukankah pujian menunjukkan kecintaan? Mungkinkah seseorang membenci kemudian dia memuji? Ketika kita mengetahui bahwa Allāh ﷻ memuji para sahabat — dan ini bukan ayat yang sedikit — menunjukkan bahwa Allāh ﷻ mencintai para sahabat Nabi ﷺ.
Contoh misalnya dalam Al-Qur’an, di antara pujian Allāh kepada para sahabat:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islām) dari golongan Muhājirīn dan Anṣār, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allāh Riḍā kepada mereka dan mereka pun Riḍā kepada Allāh. (QS. At-Taubah: 100)
Ini pujian dari Allāh ﷻ, sampai Allāh mengungkapkan di dalam Al-Qur’an bahwa Allāh Riḍā kepada para sahabat. Tentunya keridaan Allāh itu berdasarkan ilmu Allāh yang sangat dalam. Allāh mengetahui tentang hati-hati para sahabat, yang ada di dalam hati mereka Allāh tahu, bahwa dalam hati mereka ini adalah kebaikan, kebersihan, ketakwaan. Dan Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di dalam dzhahir mereka. Allāh Riḍā kepada mereka dan mereka pun Riḍā kepada Allāh.
وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
Allāh ﷻ sediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Yang demikian adalah keberuntungan yang sangat besar.
Berarti Allāh sediakan bagi mereka Surga, Allāh Riḍā kepada mereka, menunjukkan bahwa Allāh ﷻ mencintai para sahabat. Mungkinkah Allāh memasukkan ke dalam Surga-Nya orang yang tidak Dia cintai?
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
Muḥammad adalah Rasul Allāh; dan orang-orang yang bersama dengan beliau adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuʿ dan sujud mencari karunia Allāh dan keridaan-Nya. (QS. Al-Fatḥ: 29)
Dan seterusnya. Di sini Allāh ﷻ menyebutkan sifat Rasulullāh ﷺ dan juga para sahabat beliau:
وَالَّذِينَ مَعَهُ — dan orang-orang yang bersama beliau,
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ — mereka sangat keras terhadap orang-orang kafir,
رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ — dan mereka sangat mencintai di antara mereka.
تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا — kamu melihat mereka dalam keadaan rukuk, dalam keadaan sujud, itu dzhahirnya,
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا — mereka berusaha untuk mencari keutamaan dari Allāh dan juga keridaan-Nya.
Berarti di sini Allāh ﷻ memuji keikhlasan para sahabat. Dari sisi mana? Allāh ﷻ menyebutkan: yabtaghūna faḍlan minallāhi wa riḍwāna. Mereka mencari karunia dari Allāh dan juga keridaan-Nya. Berarti ini menunjukkan keikhlasan. Allāh memuji keikhlasan mereka. Dan Allāh ﷻ juga memuji amalan dzhahir mereka — mencintai atau merahmati orang-orang yang beriman dan membenci orang-orang yang kafir. Itu menunjukkan tentang pujian dan kecintaan Allāh ﷻ kepada para sahabat raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum, Allāh ﷻ menyebutkan sifat-sifat mereka dan memuji mereka dengan sifat-sifat tersebut di dalam Al-Qur’an:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Untuk orang-orang fakir dari kalangan Muhājirīn yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mereka mencari karunia dari Allāh dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allāh dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (keimanannya). (QS. Al-Ḥasyr: 8)
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ — dan adapun orang-orang yang menempati daerah tersebut sebelum mereka, itu orang-orang Anṣār.
يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ — mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka.
وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا — dan mereka tidak menemukan di dalam dada-dada mereka kebutuhan terhadap apa yang diberikan kepada mereka.
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ — dan mereka mendahulukan yang lain meskipun diri sendiri dalam keadaan butuh.
Ini juga pujian bagi para sahabat. Sekali lagi, yang namanya pujian ini menunjukkan kecintaan.
Belum lagi pujian Nabi ﷺ kepada para sahabatnya. Di antaranya adalah ucapan beliau:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya. (HR. Bukhārī dan Muslim)
Ini pujian yang sangat jelas dari Nabi ﷺ kepada para sahabat beliau raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum jamiʿan, bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia.
Makanya di sini Al-Imām Abū Jaʿfar raḥimahullāhu taʿālā mengatakan:
Wa nuḥibbu aṣḥāba Rasūlillāh ﷺ — dan kita mencintai para sahabat Rasulullāh ﷺ.
Jadi kita mencintai mereka karena Allāh ﷻ mencintai para sahabat. Dan cinta kita mengikuti maḥabbah Allāh. Karena Allāh mencintai mereka, kita pun mencintai para sahabat Nabi ﷺ.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
