Home > Bimbingan Islam > Kitab Syamail Muhammadiyah > Halaqah 18 | Hadits 19

Halaqah 18 | Hadits 19


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamail Muhammadiyah (Sifat dan Akhlak yang dimiliki Nabi Muhammad ﷺ)
📝 Imām Abū Īsā At Tirmidzī

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita masih diberi kesempatan untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan membaca hadīts nomor 19 yang merupakan potongan dari hadīts ke-7 yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-7).

Dan telah kita sampaikan pada pertemuan tersebut bahwa hadīts ini adalah hadīts yang dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrazāq dan Syaikh Al Albāniy rahimahullāh.

Adapun hadīts tersebut adalah:

Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:

حدّثنا أَحمَدُ بْنُ عَبدَةَ الضَّبِّيُّ وَ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ وَغَيرُوا حِدٍ، قَالُوا: حدّثنا عِيسى بْنُ يُونُسَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللّه، مَولَى غُفْرَةَ. قَالَ حَدَّثَنِي إبراهيمُ بن مُحَمَّدٍ مِن وَلَدِ عَلِيِّ بن أبي طالِبٍ رضى الله عنه، قَالَ كَانَ عَلِيِّ إذَا وَصَفَ رَسُول اللّه ﷺ فَذَكَرَ الحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَالَ: بَينَ كَتِفَيهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ و هو خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

Imām At Tirmidzī rahimahullāh, pada hadīts ini kembali membawakan potongan hadīts nomor 7 sesuai dengan sanad yang Beliau miliki, bahwa dahulu shahābat Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu jika sedang bercerita tentang sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts tersebut beliau sebutkan dengan panjang lebar.

Dan salah satu sifat yang beliau sebutkan adalah:

“Di antara pundak Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ada cap kenabian yang mana Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) adalah penutup para nabi.”

Tujuan imām At Tirmidzī menyebutkan hadīts ini adalah untuk membawakan hadīts yang sesuai dengan bab yang beliau buat, yaitu bab tentang cap kenabian.

Bahwa cap kenabian itu benar adanya dan berada diantara dua pundak Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan telah berlalu penjelasannya bahwa cap itu tidak ditengah-tengah akan tetapi lebih dekat dengan pundak kiri Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Walaupun hadīts ini dhaif akan tetapi didukung oleh banyak hadīts shahīh yang menyatakan bahwa ada cap kenabian di antara kedua pundak Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Kemudian Imām At Tirmidzī rahimahullāh kembali menyebutkan sebuah hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian yang menjelaskan bahwa salah satu cirinya adalah cap kenabian tersebut ada pada rambutnya.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh ta’āla berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ بَشَّار، قال حَدَّثَنَا أَبُو عَصِمٍ، قَالَ حدَّثَنَا عَزْرَةُ بن ثَابِتٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِلْبَاءُ بن أَحْمَر قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ عَمْرُو بن أَخْطَبَ الأَنْصَارِي رضي اللّه عنه قالَ لِي رسو اللّه ﷺ يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟ قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ

Imām At Tirmidzī membawakan hadīts ini lengkap dengan sanad yang beliau miliki hingga Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab Al Anshāry radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau bercerita:

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berkata kepadaku, “Wahai Abū Zaid, mendekatlah. Coba kamu usap punggungku.”

Akupun mengusap punggung Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan secara tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian.

(Al ‘Ilbā’ perawi dari Abū Zaid berkata,) “Apa itu cap kenabian?”

Abū Zaid menjawab, “Kumpulan rambut-rambut.”

Syaikh Albāniy rahimahullāh mengatakan bahwa sanad hadīts ini shahīh sebagaimana syarat Imām Muslim.

Kemudian kita akan membahas sedikit demi sedikit lafazh-lafazh dan kalimat-kalimat yang terdapat pada hadīts ini.

(( يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي))

“Wahai Abū Zaid mendekatlah, coba kamu usap punggungku.”

Pada kalimat ini kita mengetahui akan adab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau tidak memanggil shahābatnya dengan namanya langsung, akan tetapi Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memanggil dengan kunyahnya.

Dan sebagian ulamā mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kesantunan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para shahābatnya.

Kemudian saat Abū Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu diperintahkan untuk mengusap punggung Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam), ia mungkin beranggapan bahwa ada sesuatu di punggung Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang membuatnya tidak nyaman dan ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan hal tersebut hanya ingin memuliakan Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dengan memegang jasad beliau yang mulia.

Bahkan memegang cap kenabian yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) miliki. Dan ini semua menunjukkan akan kedekatan Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Atau menunjukkan tentang kedekatan Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(( فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ))

“Aku pun mengusap punggung Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa shahābat Abū Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu melaksanakan apa yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam perintahkan dengan segera. Dan saat melaksanakan apa yang diperintah oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam Abū Zaid secara tidak sengaja menyentuh cap kenabian yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam miliki.

(( قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟))

“Aku bertanya, apa itu cap kenabian?”

Yang bertanya adalah murid atau rawi dari Abū Zaid yang bernama ‘Ilbā’.

Pada penggalan hadīts ini kita ambil pelajaran, di antaranya:

⑴ Hendaknya seorang murid bertanya kepada guru, apa yang belum mereka pahami.

⑵ Hendaknya seorang murid juga bersemangat untuk mendapatkan faedah-faedah serta pelajaran-pelajaran yang bermanfaat dari guru-gurunya.

(( قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ))

Ia menjawab, “Kumpulan rambut-rambut.”

Maksudnya adalah rambut yang berkumpul pada satu tempat mungkin disekeliling cap atau di atasnya (Wallāhu A’lam).

Jangan disalah artikan bahwa cap kenabian tersebut hanya berupa rambut-rambut yang berkumpul pada satu tempat, akan tetapi hadīts ini adalah hadīts yang menyebutkan sifat tambahan bagi pelajaran yang telah lalu yang menyatakan bahwa cap kenabian adalah sebuah kelenjar atau potongan daging yang berwarna merah seukuran dengan telur burung merpati.

Sehingga hadīts ini tidak bertentangan dengan hadīts-hadīts yang lainnya atau yang telah lalu.

Wallāhu Ta’āla Bishawāb.

Semoga bermanfaat.

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top