Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 44 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Kadar Minimal Rukun² Iman

Halaqah 44 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Kadar Minimal Rukun² Iman

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

سم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kita sebutkan disini kadar minimal dari beriman terhadap Rukun Iman yang 6.

▪︎Beriman kepada Allāh (أن تؤمن بالله)

Maka kadar yang wajib, minimal yang mencukupi adalah :

⑴ Beriman dengan keberadaan Allāh, artinya Allāh itu ada dan ini harus ada dalam diri seseorang.

⑵ Allāh adalah Rabb yang memiliki sifat-sifat Rububiyyah, kalau ada tapi tidak memiliki sifat Rububiyyah berarti dia kurang dari yang minimal (tidak dinamakan beriman kepada Allāh)

⑶ Meyakini bahwa Rabb, adalah yang disembah (illāh) Kalau dia meyakini wujud Allāh, dan meyakini bahwasanya Dia-lah Allāh (Rabb) tapi dia tidak menyembah Allāh berarti dia kurang dari kadar wajib.

⑷ Dia meyakini bahwasanya yang disembah (Rabb) Dia memiliki nama dan juga sifat. Minimal dia meyakini Allāh itu punya nama dan juga punya sifat.

Apa sifat-sifatnya pak?

Sifat-sifat Allāh adalah Istiwā’ (استواي)، Yad (الْيَدُ), Ashābi’ (أَصَابِعُ).

Jika dia tidak bisa menyebutkan sifat-sifat Allāh (karena tidak tahu) tapi dia yakin bahwa Allāh memiliki nama dan sifat, batal tidak keimanannya? Tidak !

Karena kadar minimalnya dia meyakini bahwa Allāh itu mempunyai nama dan juga sifat. Masalah perinciannya dia tidak tahu (karena belum belajar) maka itu tidak sampai membatalkan keimanannya.

Tapi kalau dia sudah pernah mendengar sebelumnya dan sudah terpatri di dalam hatinya bahwa Allāh mempunyai nama dan sifat.

Misalnya :

Ketika sedang membaca Al-Qur’ān, Allāh mengatakan : وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ – kemudian dia tahu, “Oh di antara nama Allāh adalah ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ”.

Ketika dia sudah mendengar, maka dalam keadaan demikian dia harus meyakini bahwa diantara nama Allāh adalah ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ .

⇒ Dan diantara sifat Allāh adalah istiwā.

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه:5]

Dalam keadaan sudah mendengar maka kewajiban dia untuk meyakini bahwa Allāh memiliki sifat al Istiwā, dan ini kadar minimal dari beriman kepada Allāh.

▪︎Beriman dengan Malāikat-Nya (وملائكته)

Beriman dengan malāikat-malāikat-Nya

Kadar minimalnya, adalah :

⑴ Meyakini bahwasanya malāikat adalah makhluk. Mereka ada dan mereka adalah makhluk Allāh bukan sekedar hayalan semata atau cerita fiktif semata.

⑵ Meyakini ada diantara mereka yang ditugaskan menurunkan wahyu kepada para Nabi.

Dia meyakini, “Oh disana ada malāikat yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu”. Ini sudah cukup !

Kalau ketika ditanya siapa namanya? Dan dia tidak tahu maka JANGAN dihukumi dia orang yang keluar agama Islām.

Karena dia sudah memiliki kadar minimal, jika dia tidak tahu nama malāikat itu, itu bukan termasuk kadar minimal.

Kalau dia tahu nama malāikat itu, maka ini tambahan (tambahan ilmu). Setelah datang ilmu maka kewajiban dia untuk meyakini yang demikian.

Setelah datang ilmu bahwasanya malāikat yang menyampaikan wahyu adalah Jibrīl maka kewajiban kita adalah beriman.

Oleh karena itu ketika kita mengetahui namanya maka keimanan kita harus bertambah. Harus berbeda antara orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Sama-sama memiliki kadar minimal

Orang awam (yang belum tahu nama malāikat Jibrīl) dia punya kadar minimal.

Seorang penuntut ilmu ketika dia tahu sebuah ilmu berarti bertambah keimanannya.

Misalnya :

Nama malāikat yang menyampaikan wahyu adalah Jibrīl nama lainnya adalah Ruhul Qudus,
Ruhul Amīn. Dia memiliki sifat Amīn dan sifat Qudus, dia jauh dari dosa, dia bisa menjelma sebagai manusia dan seterusnya.

Tentunya berbeda keimanan seorang thālabul ilm dengan seorang awam. Semakin dia banyak menuntut ilmu diharapkan semakin banyak keimanan.

▪︎Beriman dengan Kitāb-Kitāb-Nya (وكتبه)

Maka kadar minimalnya, adalah :

⑴ Meyakini bahwasanya Allāh menurunkan kitāb kepada siapa yang Allāh kehendaki diantara para rasūl.

Allāh menurunkan kitāb kepada siapa yang Allāh kehendaki diantara para rasūl.

Jadi dia punya keimanan yang global, “Allāh menurunkan kitāb ke dunia ini kepada rasūl (utusan) bukan kepada sembarang orang”. Allāh berikan kepadanya kitāb didalamnya ada perintah dan larangan.

⑵ Kemudian yang kedua kitāb-kitāb tadi digunakan oleh mereka untuk menghukumi diantara manusia karena di dalamnya ada hukum Allāh.

Mereka menghukumi ini boleh ini tidak, ini halal ini haram ini wajib ini sunnah dari kitāb-kitāb tersebut

⇒ Jadi secara global dia meyakini kitāb-kitāb tersebut di dalamnya ada hukum Allāh.

⑶ Kemudian yang ketiga meyakini bahwasanya kitāb-kitāb sebelum Al-Qur’an telah dihapus dengan Al-Qur’an. Ini adalah kadar minimal dari beriman dengan Kitāb.

Masalah dia tidak tahu tentang kitāb Taurat, Injil Shuhuf Ibrāhīm, Shuhuf Mūsā itu bukan termasuk kadar minimal itu adalah tambahan pengetahuan.

Tapi minimal dia meyakini Allāh menurunkan kitāb dan kitāb-kitāb itu menghukumi diantara manusia dilakukan oleh para rasūl. Dan meyakini bahwasanya Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah naskh penghapus terhadap kitāb-kitāb sebelumnya.

▪︎Beriman dengan Rasūl-Rasūl-Nya (ورسله)

Kadar minimalnya adalah :

⑴ Meyakini bahwasanya Allāh mengutus para rasūl untuk berdakwah.

⇒ Allāh mengutus (ada utusan) ini keyakinan yang termasuk kadar minimal

⑵ Rasūl tersebut mendakwahkan kepada Tauhīd

⑶ Rasūl yang terakhir adalah Muhammad tidak ada rasūl setelah beliau.

Adapun tentang siapa kah perincian para rasūl, nama-nama dan sifat-sifat serta kekhususan para rasūl, ini adalah kadar tambahan.

▪︎Beriman dengan Hari Akhir (اليوم الآخر)

Kadar minimalnya adalah :

⑴ Meyakini bahwasanya Allāh akan membangkitkan (maksudnya) Allāh akan menghidupkan orang yang sudah meninggal.

Minimal meyakini bahwa Allāh akan membangkitkan manusia. Kalau sampai keyakinan ini tidak ada, maka dia keluar dari agama Islām.

⑵ Meyakini bahwasanya Allāh akan membalas. Jadi mereka bukan dibangkitkan lalu dihidupkan kembali setelah itu dibiarkan begitu saja. Tetapi mereka akan dibalas dengan Surga atau Neraka.

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى [النجم:٣١]

⑶ Dibalas dengan Surga atau Neraka. Berarti harus meyakini adanya Surga dan Neraka.

Adapun perincian yang terjadi disana, ini adalah kadar tambahan yang kalau kita ketahui secara terperinci akan berpengaruh terhadap keyakinan seseorang.

Jika kita tahu perincian apa yang terjadi dihari akhir adalah tambahan ilmu dan tambahan keimanan.

▪︎Beriman dengan Takdir (وبالقدر خيره شره)

Kadar minimalnya adalah:

⑴ Beriman bahwa Allāh telah menakdirkan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk sejak dahulu.

⑵ Tidaklah terjadi di dunia ini kecuali dengan kehendak Nya. Ini adalah kadar minimal dari beriman dengan takdir.

Sehingga diharapkan kita mengetahui tentang keadaan diri kita. Sebagai seorang da’i seorang muallim kita harus memiliki target, memiliki kebijaksaan di dalam mendakwahi orang lain.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top