Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 45 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Iman Yang Enam

Halaqah 45 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Iman Yang Enam

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

سم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian setelahnya beliau menyebutkan tentang dalīl Rukun Iman yang enam ini.

Beliau mendatangkan dalīl:

والدليل على هذه الأركان الستة قوله تعالى: لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ [البقرة:177]

“Bukanlah kebaikan itu kalian memalingkan wajah-wajah kalian ke timur atau pun ke barat akan tetapi yang dimaksud dengan kebaikan (الْبِرَّ) adalah orang yang beriman kepada Allāh dan hari akhir dan malāikat dan juga kitāb dan para Nabi”

(QS. Al-Baqarah 177)

Syahidnya disini adalah وَلَـكِنَّ الْبِرَّ akan tetapi kebaikan (intinya) adalah beriman kepada Allāh, beriman kepada hari akhir, beriman kepada malāikat, beriman kitāb dan para nabi.

Ayat ini berkaitan tentang orang-orang Yahūdi
ketika kiblat kaum muslimin berpindah dari masjidil Aqsa ke masjidil Haram, mereka menertawakan kaum muslimin. Kemudian Allāh menamakan mereka sebagai ٱلسُّفَهَآءُ.

سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islām) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” (QS. Al-Baqarah:142)

Sebelumnya orang-orang Yahūdi senang, mereka gembira melihat kiblat kaum muslimin sama dengan kiblat mereka.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam saat itu ingin kiblat kaum muslimin pindah ke masjidil Haram.

Alasannya :

⑴ Beliau termasuk Ahlul Mekkah, sejak kecil beliau dekat dengan Baitullāh dan Baitullāh dibangun oleh bapak mereka yaitu Ibrāhīm

⑵ Beliau ingin menyelisihi orang-orang Yahūdi.

Ketika Allāh mengabulkan keinginan beliau, orang-orang Yahūdi pun mencemoohkan kaum Muslimin dan menyepelekan kaum Muslimin

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan :

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Bukan بِرَّ (birr) itu hanya sekedar memalingkan wajah ke timur atau ke barat (ke Masjidil Aqsa atau ke Baitul Haram), bukan itu masalahnya.

⇒ Birr (بِرَّ) kebaikan itu adalah berimannya kita kepada Allāh, ikutnya kita kepada Allāh.

Sebelumnya kiblat orang Islām adalah ke Masjidil Aqsa kemudian berpindah ke Masjidil Haram

Kenapa kiblat mereka pindah?

Karena iman mereka kepada Allāh. Itulah Al-Birr (الْبِرَّ) bukan sekedar memalingkan wajah ke masjidil Haram atau ke masjidil Aqsa.

⇒ Iman yang ada di dalam hati, itu yang Allāh hitung.

وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ

Al-Birr (kebaikan) yang sebenarnya adalah beriman kepada Allāh seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin.

وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

Di dalam ayat ini hanya disebutkan lima perkara (Beriman kepada Allāh, beriman kepada Hari akhir, beriman kepada Malāikat, beriman kepada Kitāb, dan beriman kepada Nabi)

Kemudian beliau rahimahullāh mendatangkan ayat lain yang di dalamnya disebutkan tentang Iman dengan takdir.

▪︎Dalīl tentang takdir

Dan dalīl tentang takdir adalah firman Allāh:

ودليل القدر قوله تعالى: إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ [القمر:49]

“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir” (QS. Al-Qamar:49)

⇒ Ini dijadikan oleh ulama sebagai dalīl bahwasanya Allāh يقدر (yuqadir).

Sebelum Allāh menciptakan, Allāh takdirkan terlebih dahulu, Allāh tentukan terlebih dahulu kebaikan juga kejelekan, kemudian setelah itu Allāh menciptakan.

سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى ۞ ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ۞ وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi.
Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya). Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.”

(QS. Al-A’la :1-3)

Dan Allāh mengatakan :

وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍۢ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًۭا

“Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqān: 2)

Ini adalah dalīl beriman dengan takdir dan ayat-ayat Allāh itu saling melengkapi satu dengan yang lain.

Sebagaimana kita beriman dengan lima Rukun Iman yang disebutkan di dalam Surat Al-Baqarah ayat 177. Demikian pula kita beriman dengan takdir yang Allāh sebutkan di
dalam ayat-ayat lain. Dan kita harus beriman dengan semuanya.

Jangan seperti Ahlul Kitāb yang mereka beriman dengan sebagian yang ada di dalam kitāb dan dia kufur dengan sebagian yang lain.

تُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَـٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍۢ

“Mereka beriman kepada sebahagian Al Kitāb (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain…..” (QS. Al-Baqarah:85)

Kita orang yang beriman :

ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Kami beriman dan semuanya dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla” (QS. Āli-Imrān : 7)

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top