Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 21 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 09)

Halaqah 21 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 09)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Beliau mengatakan:

ودليل الاستعانة قوله تعالى: { إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ} و في الحديث { إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ }

Dalīl isti’ānah (الستعانة)

Isti’ānah (الستعانة) artinya adalah memohon pertolongan, (استعان يستعن) adalah memohon pertolongan.

Dalīl bahwasanya memohon pertolongan adalah ibadah, adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

(QS. Al Fātihah: 4)

Dan ini dibaca didalam shalāt kita, setiap raka’at masing-masing dari kita senantiasa membaca ayat ini.

Pengakuan dari seorang hamba dan janji dari seorang hamba bahwasanya dia hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia hanya memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Menunjukkan kepada kita bahwasanya al isti’ānah (الستعانة) adalah termasuk ibadah, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla disini mengatakan:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

Dan disebutkan isti’ānah (الستعانة) setelah ibadah karena seseorang tidak mungkin bisa beribadah dengan baik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kecuali apabila mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seseorang tidak mungkin bisa beriman dengan baik kecuali apabila di tolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak mungkin bisa melakukan shalāt dengan ikhlās dan sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kecuali apabila ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak mungkin bisa bershadaqāh kecuali apabila dia ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan seluruh ibadah yang dia lakukan baik haji, umrah dan seluruh ibadah yang dia lakukan tidak mungkin bisa dia kerjakan (dia amalkan) kecuali apabila mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kalau bukan karena Allāh niscaya kita tidak mungkin mendapatkan hidayah, dan tidak mungkin kita bershadaqāh dan melakukan shalāt”

Tidak mungkin seorang hamba bisa melakukan itu semua kecuali setelah di tolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

“Hanya kepadamulah ya Allāh kami menyembah, dan hanya kepadamu lah kami meminta pertolongan”

Jangan sampai seorang hamba didalam melakukan ibadah, bertawakal kepada dirinya sendiri dan lupa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, seakan-akan dialah yang bisa melaksanakan ibadah ini dengan kemampuan dia sendiri (dengan ilmu yang dia miliki dengan harta yang dia miliki) lupa beristi’ānah dan memohon pertologan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan yang demikian adalah tercela, seseorang tidak beristi’ānah kepada Allāh dan bertawakal kepada dirinya sendiri didalam ibadah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berdo’a:

فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Ya Allāh janganlah engkau jadikan aku bertawakal kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata”

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a kepada Allāh, jangan sampai dijadikan termasuk orang yang bertawakal kepada dirinya sendiri (seakan-akan dialah yang mampu untuk melakukan ini semua), bertawakal kepada diri sendiri adalah termasuk
perkara yang tercela.

Seorang hamba beribadah kepada Allāh, dan memohon pertolongan kepada Allāh didalam ibadah tersebut dan ini bukan hanya didalam masalah ibadah bahkan didalam perkara dunia kita juga diperintahkan untuk beristi’ānah (memohon pertolongan) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dalam mencari rejeki, menyelesaikan pekerjaan dan didalam perkara-perkara dunia yang lain, dalam kehidupan kita sehari-hari memohon pertolongan kepada Allāh didalam perkara yang bermanfaat.

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Hendaklah engkau bersemangat untuk melakukan apa yang memberikan manfaat kepadamu dan hendaklah engkau memohon pertolongan kepada Allāh”

Kita disuruh untuk semangat melakukan perkara yang memberikan manfaat untuk diri kita, dan ini mencakup perkara agama dan juga dunia. Dan setelah itu kita diperintahkan untuk memohon pertolongan kepada Allāh.

Demikianlah seorang muslim, dalam kehidupan sehari-hari, dia hanya menyembah kepada Allāh dan dia hanya memohon pertolongan (bantuan) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Disana ada isti’ānah, yang merupakan ibadah, sebagaimana dalam ayat ini yaitu:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

Dan ini tidak boleh diserahkan kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.

Isti’ānah yang merupakan ibadah adalah isti’ānah yang didalamnya ada rasa dzu’l (rasa merendahkan diri) dihadapan dzat yang dimintai pertolongan dan didalamnya ada mahabah dan iftiqar dan ketergantungan.

Apabila diserahkan kepada makhluk yang hidup maupun yang mati, minta pertolongan kepadanya dengan merendahkan dirinya seakan-akan dia adalah Tuhan yang penuh rasa cinta dengan rasa ketergantungan seakan-akan dia yang memberikan manfaat dan juga mudharat, seakan-akan ditangannya manfaat dan juga mudharat, maka ini tidak diperbolehkan dan hukumnya adalah haram dan termasuk syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seperti seseorang yang beristi’ānah kepada orang yang sudah meninggal, baik dia orang shālih atau selain orang shālih, beristi’ānah kepada orang yang sudah meninggal adalah perkara yang diharamkan.

Dan disana ada isti’ānah dengan makhluk yang diperbolehkan apabila memenuhi tiga syarat,

⑴ Orang yang dimintai tolong tersebut masih hidup.

⑵ Dia hadir didepan kita sehingga memungkinkan untuk menolong atau mendengar ucapan kita, atau dizaman sekarang bisa dengan jarak jauh dengan syarat dia mendengar apa yang kita ucapkan.

Seperti; seseorang yang meminta pertolongan kepada orang lain melalui alat komunikasi seperti HP (misalnya) telepon kemudian meminta pertolongan, meminta bantuan maka ini diperbolehkan.

⑶ Tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut dan harus meyakini bahwasanya itu hanyalah sebab, adapun tawakal maka harus dia serahkan hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Apabila terpenuhi tiga syarat ini, maka boleh seseorang isti’ānah kepada makhluk.

و في الحديث { إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ }

Dan dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila engkau beristi’ānah maka hendaklah engkau beristi’ānah kepada Allāh”

Ini adalah hadīts Ibnu Abbās

Wallāhu ta’āla a’lam

Sampai bertemu kembali pada kesempatan yang akan datang.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top