Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 19 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 07)

Halaqah 19 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 07)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Beliau mengatakan:

ودليل التّوكل قوله تعالى: {وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ}

• Dalīl Tawakkul (التّوكل)

Dan dalīl bahwasanya tawakkul (التّوكل) adalah termasuk ibadah adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hendaklah kalian hanya bertawakkal kepada Allāh, apabila kalian termasuk orang-orang yang beriman.”

(QS. Al Māidah: 23)

Allāh mengatakan فَتَوَكَّلُوٓا۟ dan ini adalah perintah (hendaklah kalian bertawakal) kepada Allāh

Dan sekali lagi! Apabila Allāh memerintahkan sesuatu berarti sesuatu tersebut dicintai oleh Allāh dan apabila dicintai maka itu adalah termasuk ibadah.

Menunjukkan bahwasanya tawakal (ketergantungan) adalah termasuk ibadah, tidak boleh seseorang bertawakal kepada selain Allāh, bertawakal kepada sebab, bertawakal wajib di serahkan hanya kepada Allāh.

Adapun manusia (makhluk) mereka adalah sebab diantara sebab-sebab, tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

Didalam masalah rejeki (misalnya) kita diperintahkan untuk mengambil sebab bagaimana cara mendapatkan rejeki tersebut dari cara yang halal, namun didalam masalah tawakal (ketergantungan) mengharapkan manfaat maka seseorang hanya bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebab bisa menjadi sebab, dan bisa seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan dari sebab tersebut, karena dia hanyalah sebab.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk mengambil sebab, tetapi tidak menyuruh kita untuk bertawakal kepada sebab tersebut.

Seseorang diperintahkan untuk mengambil sebab kesembuhan dengan mencari obat pergi kedokter.

“Wahai hamba-hamba Allāh, hendaklah kalian berobat dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram”

Perintah untuk berobat dan mencari kesembuhan, tetapi obat tersebut belum tentu mendapatkan hasilnya atau belum tentu seseorang sembuh dengan sebab tersebut karena itu adalah sebab.

Jika Allāh menghendaki maka Allāh akan menyembuhkan kita dengan sebab tersebut, dan kalau Allāh menghendaki maka tidak Allāh berikan kesembuhan dari sebab tersebut.

⇒ Didalam tawakal kita hanya bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan bertawakal kepada Allāh bukan berarti meninggalkan sebab, dan mengambil sebab bukan berarti seseorang tidak bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seseorang bisa mengumpulkan diantara dua perkara ini,

√ Dia mengambil sebab, dan
√ Dia bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu, memerintahkan sebagian shahābat untuk mengikat untanya dan bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

اِغْقِلهَا وَتَوَ كَّلْ

“Hendaklah engkau mengikat untamu dan hendaklah engkau bertawakal kepada Allāh”

Jadi seorang muslim diperintahkan untuk mengambil sebab, sehingga dia mendapatkan kebaikan dan terhindar dari musibah dan dia diperintahkan untuk bertawakal hanya kepada Allāh tidak bertawakal kepada sebab tersebut.

Didalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allāh, niscaya Allāh akan memberikan rejeki kepada kalian sebagaimana burung-burung diberikan rejeki.”

Bagaimana mereka mendapatkan rejeki dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Mereka pergi di pagi hari dalam keadaan lapar,

dan mereka pulang sudah dalam keadaan kenyang perutnya.

⇒ Inilah makna tawakal yang sebenarnya.

Bagaimana tawakal yang sebenarnya?

Tawakal yang sebenarnya seperti tawakalnya seekor burung, dan burung bertawakal bukan berdiam diri disarangnya, akan tetapi burung mengambil sebab.

Dipagi hari dia pergi meninggalkan sarangnya, berusaha bekerja kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan rejeki dengan sebab usaha yang dia lakukan (pulang disore hari dalam keadaan sudah kenyang dan hilang rasa laparnya).

وقوله: {وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ… }

Dan diantara dalīl bahwasanya tawakal adalah termasuk ibadah adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan kecukupan kepadanya”

(QS. At Thalāq: 3)

Janji dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla bagi siapa yang bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bergantung kepada Allāh di dalam mendapatkan kebaikan dan di dalam terhindar dari musibah dan juga mudharat.

⇒ Barangsiapa yang bertawakal hanya kepada Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan kecukupan.

Dan sebaliknya orang yang bertawakal kepada selain Allāh,bertawakal kepada makhluk, bertawakal kepada wali, bertawakal kepada orang shālih yang sudah meninggal, bertawakal kepada jinn, maka dia tidak akan mendapatkan kecukupan, hidup dalam keadaan takut, hidup dalam keadaan resah dan tidak akan mendapatkan kecukupan.

Adapun orang yang bertawakal kepada Allāh maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang akan memberikan kecukupan kepadanya.

Janji dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada orang yang hanya bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهدابة
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top