Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 18 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 06)

Halaqah 18 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 06)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Beliau mengatakan:

وفي الحديث( الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ)

“Dan didalam sebuah hadīts doa adalah inti dari ibadah”

⇒ Ini adalah dalīl diantara dalīl-dalīl yang menunjukkan bahwasanya do’a adalah ibadah.

Dimana beliau mengatakan, “dan diantara ibadah adalah do’a”, diantara dalīl nya yang menunjukkan bahwasanya do’a adalah ibadah dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh adalah sebuah hadīts.

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Dan hadīts ini didhaifkan oleh sebagian ulamā dan diriwayatkan oleh At Tirmidzī dan disana ada hadīts lain yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd, Tirmidzī, An Nassā’i dan juga Ibnu Mājah.

Yaitu ucapan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah”

Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya do’a adalah salah satu jenis ibadah, yang wajib diserahkan hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan diharamkan untuk menyerahkan do’a ini kepada selain Allāh.

Barangsiapa yang menyerahkan do’a dan meminta kepada selain Allāh (berdo’a kepada selain Allāh) siapapun dia, maka dia telah melakukan kesyirikan yang besar dan telah melakukan kekufuran yang besar.

Dan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika mengucapkan hadīts ini (الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ)
beliau membaca ayat:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

(QS. Ghāfir: 60)

Hendaklah kalian berdo’a kepadaku! (Kata Allāh)

Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada kita semua agar kita berdo’a hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Menunjukkan bahwa berdo’a adalah ibadah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidaklah memerintahkan kepada kita dengan sesuatu kecuali apabila sesuatu tersebut dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Apabila itu dicintai dan diridhāi maka itu adalah ibadah.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan عَنۡ عِبَادَتِي dan diawal ayat Allāh menyuruh kita untuk berdo’a.

⇒ Menunjukkan bahwasanya do’a adalah ibadah.

سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Sungguh dia akan masuk kedalam Jahannam dalam keadaan hina dina (direndahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla) karena dahulu di dunia dia sombong dan tidak berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bahkan menyerahkan do’a (permintaannya) kepada selain Allāh.

Do’a adalah ibadah wajib diserahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan di haramkan diserahkan kepada selain Allāh.

Berdo’a kepada selain Allāh hukumnya adalah syirik, dan syiriknya masuk kedalam syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari keislāman.

Seperti seseorang yang berdo’a kepada orang yang sudah meninggal, baik yang dinamakan dengan wali atau orang yang shālih, meminta kepadanya kebaikan atau meminta supaya dihindarkan dari mudharat dengan mengatakan, “Yā Fulān….. yā fulān “, maka ini termasuk berdo’a kepada selain Allāh dan termasuk kezhāliman yang besar dan termasuk kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari Islām.

Tidak ada yang memberikan mudharat kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak ada yang bisa memberikan kepada kita kebaikan kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seandainya seluruh makhluk berusaha untuk

memberikan manfaat kepada kita, tetapi Allāh tidak menghendakinya maka mereka tidak mungkin bisa memberikan manfaat kepada kita dan sebaliknya seandainya seluruh makhluk berusaha untuk memberikan mudharat kepada kita tetapi Allāh tidak menghendakinya maka tidak mungkin mereka bisa memberikan mudharat kepada kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًۭا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Janganlah kamu berdo’a kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat kepadamu dan juga tidak bisa memberikan mudharat, apabila engkau melakukannya maka sungguh engkau termasuk orang-orang yang zhālim.”

(QS. Yūnus: 106)

⇒ Menzhālimi dirinya sendiri.

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّۢ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍۢ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِ

“Apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin memberikan mudharat kepadamu, maka tidak ada yang bisa menyingkap (menghilangkan)mudharat tersebut kecuali Dia dan apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan kebaikan, karunia dan anugerah kepadamu niscaya tidak ada yang bisa menolak dan mencegah anugerah tersebut.”

(QS. Yūnus: 107)

Seorang muslim meminta kebaikan hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (tidak boleh meminta kebaikan kepada selain Allāh) meminta kesehatan, meminta rejeki, meminta kesuksesan meminta hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian pula didalam meminta untuk dijauhkan dari mudharat dan juga musibah, tidak boleh memintanya kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dia lah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bisa menghilangkan musibah dan mudharat dari seseorang.

Beliau mengatakan:

ودليل الخوف قوله تعالى: {فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ}

Dan dalīl al khauf yaitu rasa takut yang menunjukkan bahwasanya al khauf termasuk ibadah adalah firman Allāh:

فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepadaku, seandainya kalian benar-benar orang yang beriman”

(QS. Āli ‘Imrān: 175)

Firman Allāh وَخَافُونِ adalah perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada kita semua supaya menyerahkan rasa takut ini hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Menunjukkan bahwasanya, al khauf atau rasa takut adalah dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semakin seseorang takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka akan semakin dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Takut yang dimaksud disini adalah rasa takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menjadikan kita taat kepada Allāh dan menjadikan kita meninggalkan kemaksiatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah takut yang diperintahkan, inilah yang dimaksud dengan الخافون مَحْمُود rasa takut yang dipuji yang Allāh perintahkan.

Karena disana ada rasa takut yang tercela yaitu apabila seseorang berlebihan didalam rasa takutnya sehingga menjadikan dia putus asa dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Putus asa dari karunia Allāh, putus asa dari ampunan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan rahmatnya, maka rasa takut yang seperti ini bukan terpuji akan tetapi dia adalah rasa takut yang tercela.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya tiada berputus asa dari pertolongan Allāh (rahmat Allāh), kecuali orang-orang yang kāfir.”

(QS. Yūsuf: 87)

Adapun orang muslim, maka dia tidak berputus asa dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan Allāh mengatakan setelahnya إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ (apabila kalian benar-benar orang-orang yang beriman).

⇒ Menunjukkan bahwasanya khauf ini termasuk cabang diantara cabang-cabang keimanan.

Kalau kita benar-benar beriman kepada Allāh, beriman kepada para malāikat, beriman kepada kitāb-kitābnya, beriman kepada rasūl Nya, beriman kepada hari akhir, beriman kepada taqdir, maka hendaklah kita menyerahkan khauf ini hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan disana ada khauf atau rasa takut yang dinamakan oleh para ulamā dengan khauf thabi’i yaitu khauf yang merupakan tabi’at manusia (artinya) apabila seseorang memiliki rasa takut ini, maka dia tidak tercela dan ini bukan termasuk khauf ibadah tetapi dia adalah khauf yang menjadi tabiat manusia.

Seperti orang yang takut dari api, atau seseorang yang takut mudharat dari orang lain karena dia merasa bersalah. Tabi’at manusia memang demikian, apabila dia merasa bersalah maka dia akan takut kepada orang yang dia zhālimi, demikian pula seseorang takut dari api, maka ini semua termasuk takut yang thabi’i yang manusia tidak selamat darinya bahkan para nabi dan juga para rasūl alayhimsallām.

Diceritakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al Qur’ān nabi Mūsā alayhissallām, ketika beliau tidak sengaja memukul salah satu kaumnya Fir’aun kemudian orang tersebut meninggal dunia, maka nabi Mūsā alayhissallām merasa bersalah dan beliau tinggal dikota beliau dalam keadaan was-was dalam keadaan takut.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

أَصْبَحَ فِى ٱلْمَدِينَةِ خَآئِفًۭا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا ٱلَّذِى ٱسْتَنصَرَهُۥ بِٱلْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُۥ ۚ قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰٓ إِنَّكَ لَغَوِىٌّۭ مُّبِينٌۭ

“Maka jadilah Mūsā di kotanya dalam keadaan khāif (takut/was-was), karena beliau merasa bersalah merasa apa yang beliau lakukan adalah sebuah kesalahan telah membunuh salah satu dari kaumnya Fir’aun”

(QS. Al Qashshash: 18)

Rasa takut seperti ini adalah rasa takut tabiat tidak lepas manusia dari rasa takut yang seperti ini dan ini tidak tercela.

Kemudian beliau mengatakan:

ودليل الرّجاء قوله تعالى: {فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا}

Dan dalīl bahwasanya harapan (rajā’) adalah termasuk ibadah, adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shālih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”

(QS. Al Kahfi: 110)

Allāh mengatakan فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ (maka barangsiapa yang mengharap), menunjukkan bahwasanya mengharap pertemuan dengan Allāh, mengharap rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah termasuk ibadah, yang seseorang dipuji apabila dia memiliki rasa rajā’ ini kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semakin seseorang tinggi didalam mengharap kepada Allāh (mengharap rahmat Nya, mengharap karunia Nya) maka semakin dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena rajā’ adalah termasuk ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top