Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 17 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 05)

Halaqah 17 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 05)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Setelah beliau menerangkan kepada kita bahwa Rabb yang memiliki sifat-sifat Dia lah yang berhak untuk di ibadahi dan disembah, maka beliau ingin menerangkan kepada kita tentang apa itu ibadah.

Supaya ibadah-ibadah yang kita lakukan benar-benar ditujukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, (artinya) jangan sampai seseorang menganggap sesuatu bukan ibadah padahal itu ibadah, kemudian dia serahkan sesuatu tersebut kepada selain Allāh, sehingga dia terjerumus didalam penyerahan ibadah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu disini setelahnya beliau ingin menyampaikan kepada kita tentang apa itu ibadah dan berbagai macamnya.

Beliau mengatakan:

وَأَنْوَاعُ العِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا: مِثْلُ الإسْلاَمِ، وَالإيمَانِ، وَالإحْسَانِ

“Dan macam-macam ibadah yang Allāh perintahkan kepada kita seperti Islām, Imān dan juga Ihsān.”

Ini adalah bagian dari ibadah, bahkan dia adalah ibadah yang paling besar dan agama kita terdiri dari tiga perkara ini (Islām, imān dan ihsān), sebagaimana datang dalam hadīts Jibrīl alayhissallām ketika Jibrīl datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelma sebagai seorang manusia (seorang laki-laki) ingin mengajarkan kepada kaum muslimin tentang agama Islām ini.

Beliau datang sebagai seorang manusia datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang saat itu sedang bersama shahābat beliau, kemudian Jibrīl bertanya tentang beberapa pertanyaan (ingin mengajarkan kaum muslimin dengan cara bertanya) dan Jibrīl sudah tahu jawabannya.

Bertanya tentang apa itu Islām?

Dijawab oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab dengan arkanul Islām.

Bertanya tentang apa itu Imān?

Dijawab oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab dengan arkanul Imān.

Bertanya tentang Ihsān?

Dijawab oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab dengan:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

Bertanya tentang kapan terjadinya hari kiamat?

Dijawab oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.

Karena hari kiamat adalah ilmu yang khusus bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak diketahui oleh yang lain (baik seorang nabi maupun seorang malāikat).

Dan ditanya tentang tanda-tanda hari kiamat dan dijawab sebagian oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian diakhir hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan kepada para shahābat, “Ini adalah malāikat Jibrīl yang datang kepada kalian ingin mengajarkan kepada kalian agama kalian”.

Kemudian beliau megatakan:

وَمِنْهُ: الدُّعَاءُ، وَالخَوْفُ، وَالرَّجَاءُ، وَالتَّوَكُّلُ، وَالرَّغْبَةُ، وَالرَّهْبَةُ، وَالخُشُوعُ، وَالخَشْيَةُ، وَالإنَابَةُ، والاسْتِعَانَةُ، والاسْتِعَاذَةُ، والاسْتِغَاثَةُ، وَالذَّبْحُ، وَالنَّذْرُ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ الله بِهَا:كُلُّها لِلَّهِ تَعَالى وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ: {وَأَنَّ المَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَداً}

Dan diantara ibadah tersebut adalah; do’a (الدُّعَاءُ), rasa takut (الخَوْفُ), mengharap (الرَّجَاءُ),
bertawakal (التَّوَكُّلُ), keinginan/penuh minat (الرَّغْبَةُ), cemas (الرَّهْبَةُ), kekhusyu’kan (الخُشُوعُ), takut (الخَشْيَةُ) kembali kepada Allāh (وَالإنَابَةُ), memohon pertolongan kepada Allāh (والاسْتِعَانَةُ), memohon perlindungan kepada Allāh (والاسْتِعَانَةُ), beristighātsah (والاسْتِغَاثَةُ), menyembelih (وَالذَّبْحُ) dan juga bernadzar (وَالنَّذْرُ

) dan lain-lain diantara ibadah-ibadah yang Allāh perintahkan, (semuanya adalah untuk Allāh tidak diserahkan kepada yang lain).

Ini adalah beberapa jenis ibadah yang diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Apa yang beliau sebutkan ini adalah sebagian contoh dari ibadah-ibadah yang banyak (artinya) bukan sebagai pembatasan disana ada ibadah-ibadah yang lain yang tidak beliau sebutkan disini, oleh karena itu beliau mengatakan dan lain-lain diantara jenis-jenis ibadah yang Allāh perintahkan (semuanya adalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Para ulamā telah memberikan definisi tentang apa itu ibadah? Sehingga bisa kita masukan sebuah amalan, sebuah ucapan termasuk ibadah.

Definisi yang paling bagus dan diakui oleh para ulamā adalah:

والعبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة

Ibadah adalah sebuah nama, yang mencakup segala yang dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang dhāhir maupun yang bathin.

Karena disana ada ibadah yang kelihatan dan ibadah yang ada didalam hati seseorang (seperti) rasa takut, tawakal kepada Allāh, rasa cinta kepada Allāh, rasa mengharap kepada Allāh (ini adalah ibadah-ibadah yang berada didalam bathin).

Darimana kita tahu bahwasanya ucapan atau perbuatan dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Caranya dengan mengetahui dari syar’iat yang Allāh turunkan baik didalam Al Qur’ān maupun hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Apabila Allāh memerintahkan dengan sebuah ucapan atau perbuatan maka ketahuilah bahwa itu adalah ibadah.

Karena Allāh tidak memerintahkan kepada kita kecuali apabila perintah tersebut dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًا

“Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”

(QS. Al Ahzāb: 42)

⇒ Menunjukkan bahwasanya tasbih adalah dicintai Allāh dan dia adalah ibadah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ

“Dan hendaklah kalian menegakkan shalāt”

⇒ Memerintahkan kita untuk melakukan shalāt, menunjukkan bahwasanya ini adalah dicintai oleh Allāh (maka shalāt adalah ibadah).

Dan kita bisa mengetahui sesuatu itu dicintai oleh Allāh atau tidak, diantaranya selain dengan adanya perintah dari Allāh terkadang kita bisa mengetahui bahwasanya itu adalah ibadah apabila Allāh memuji orang-orang yang melakukannya.

Apabila Allāh memuji sebuah ucapan atau orang yang mengucapkannya, memuji sebuah perbuatan atau orang yang melakukannya maka ketahuilah bahwasanya itu adalah ibadah.

Sebagaimana ketika Allāh memuji orang-orang yang menunaikan nadzarnya, menunjukkan bahwasanya menunaikan nadzar adalah ibadah dan Allāh memuji orang-orang yang memberi makan orang lain menunjukkan bahwasanya memberi makan adalah termasuk ibadah

Kemudian beliau mengatakan:

Dan dalīl bahwasanya ibadah-ibadah ini diharamkan diserahkan kepada selain Allāh adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla

وَأَنَّ ٱلْمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًۭا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allāh. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allāh.”

(QS. Al Jinn:18)

⇒ Ada yang mengatakan masjid-masjid ini adalah bangunan masjid dan ada yang mengatakan anggota tubuh, anggota badan yang digunakan untuk bersujud.

Maksudnya jangan sampai menjadikan anggota badan yang digunakan untuk bersujud kepada Allāh digunakan untuk bersujud kepada selain Allāh.

⇒ Anggota badan yang digunakan untuk bersujud (dahi, dua telapak tangan dua lutut dan dua ujung kaki yang digunakan untuk bersujud)

Kemudian beliau mengatakan:

فَمَنْ صَرَفَ مِنْها شَيْئاً لِغَيْرِ اللهِ فَهُوَ مُشْرِكٌ كَافِرٌ.

“Maka barangsiapa yang menyerahkan (memalingkan) sebagian dari ibadah-ibadah tersebut kepada selain Allāh maka dia adalah orang yang musyrik (menyekutukan Allāh) dan dia adalah kāfir (telah kufur dan keluar dari Islām)”

Apabila salah satu dari ibadah tersebut meskipun itu adalah ibadah yang sepele (menurut pandangan manusia) sekecil apapun apabila diserahkan kepada selain Allāh maka orang yang melakukannya adalah orang yang musyrik (menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) sekaligus dia adalah orang yang kāfir (keluar dari Islām) dan bukan termasuk orang Islām.

Kemudian beliau mengatakan:

وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالى: {وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلهاً آخَـرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ} وَفِي الْحَدِيثِ: ((الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ)) .

“Dan dalīlnya adalah firman Allāh:

وَمَن يَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَـٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

“Dan barangsiapa yang berdo’a kepada sesembahan selain Allāh bersama Allāh yang dia tidak ada keterangan didalamnya maka sesungguhnya hisabnya adalah atas Allāh, disisi Allāh sesungguhnya tidak beruntung orang-orang yang kāfir.”

(QS. Al Mu’minun 117)

Maksudnya مَعَ ٱللَّهِ (bersama Allāh) adalah kadang dia berdo’a kepada Allāh dan terkadang dia berdo’a kepada selain Allāh, inilah yang dinamakan syirik (menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Yang dia tidak akan memiliki keterangan (hujjah/alasan) didalamnya dan semua orang musyrikin tidak akan memiliki alasan didalam kesyirikannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Maka orang seperti ini hisabnya (perhitungannya) disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla (akan dibalas oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla) karena dia berdo’a menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla (berdo’a kepada Allāh dan juga berdo’a kepada selain Allāh)

Kemudian Allāh mengatakan, “Tidak akan beruntung tidak akan sukses orang-orang yang kāfir”.

Allāh menamakan orang yang berdo’a kepada selain Allāh bersama Allāh adalah orang yang kāfirun.

⇒ Menunjukkan bahwasanya orang yang menyerahkan ibadahnya meskipun sebagian kepada selain Allāh maka dia telah melakukan kesyirikan melakukan kekufuran dan dia dikatakan oleh Allāh sebagai orang-orang kāfir.

Ini menunjukkan tentang bahayanya syirik dan apabila syiriknya besar dan kekufuran yang besar maka mengeluarkan seseorang dari Islām.

Karena syirik sebagaimana disebutkan oleh para ulamā ada syirik besar ada juga syirik kecil yang mengeluarkan pelakunya dari Islām adalah syirik besar. Demikian pula kufur ada dua (kufur yang besar dan kufur kecil) dan yang mengeluarkan dari Islām adalah kekufuran yang besar.

Dan menyerahkan ibadah kepada selain Allāh merupakan kesyirikan yang besar dan termasuk kekufuran yang besar (mengeluarkan seseorang dari Islām dan membatalkan amal ibadah seseorang).

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ

“Jika kamu menyekutukan Allāh, niscaya akan batal (hapuslah amalmu) dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”

(QS. Az Zummar: 65)

Apabila seseorang meninggal dunia, bertemu dengan Allāh dalam keadaan membawa syirik ini, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan memasukan dia kedalam surga (mengharamkan atasnya surga) dan memasukan dia kedalam neraka selamanya.

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allāh, maka pasti Allāh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhālim itu seorang penolongpun.”

(QS. Al Māidah: 72)

Itulah yang bisa kita sampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top