Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 60 ~ Beberapa Perkataan Ulama Tentang Konsisten Dalam Menuntut Ilmu Dan Menjauhi Penyakit-Penyakitnya (2)

Materi 60 ~ Beberapa Perkataan Ulama Tentang Konsisten Dalam Menuntut Ilmu Dan Menjauhi Penyakit-Penyakitnya (2)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata Az-Zuhri kepada Yunus bin Yazid, “Janganlah kamu mengingkari ilmu, membantah ilmu, jangan sekali-kali membantah dalil“. Kitab kecil dengan judul Ta’zhimus Sunnah (mengagungkan sunnah) dibuku itu ada satu bab Ta’zilu ukubatin ma lam Ya Adzimi sunnah disegerakannya adzab, siksa, sanksi bagi orang yang menghinakan sunnah, bagi orang yang tidak mengagungkan sunnah. Salah satu contoh menghinakan sunnah itu membantah dalil dengan akal, bahaya didunia dan di akhirat. Didunia Allah akan mensegerakan adzab baginya, di akhirat seluruh amal-amalnya batal, terhapus dan diadzab oleh Allah azza wa jalla. Karena mendahulukan akal dan melanggar ayat ” لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya“. Mendahului Allah artinya membantah Al-Qur’an atau hadits dengan akal. Seperti umpamanya ada hadits, “Kalau ada seekor lalat hinggap di minuman kamu maka dicelupkan si lalatnya kemudian ambil dan buang (lalatnya dibuang bukan minumannya) karena disalah satu sayapnya ada penyakit dan disayap lainnya ada penawarnya” Ini hadits dan shahih jangan sekali-kali dibantah dengan akal dan pikiran atau perasaan kita sampai ada yang menyatakan, “Saya lebih percaya kepada dokter kafir daripada hadits ini“, jadi kalau begitu Nabi ﷺ berdusta atau tidak berdusta tetapi ngomong sembarangan atas nama agama ? apapun alasannya menolak hadits itu ada dua kemungkinan. Pertama tidak percaya kepada ucapan Nabi ﷺ dan Kedua Nabi ﷺ sembrono berbicara atas nama agama tentang perkara yang diluar bidangnya. Dua-duanya tuduhannya buruk kepada Nabi ﷺ. Hal ini termasuk membantah ilmu, membantah nash Al-Qur’an dan Sunnah. Nah, ada orang yang ketika menemukan sebuah hadits kata Nabi ﷺ, “Apabila kalian bangun tidur jangan kalian mencelupkan tangannya kedalam wadah atau minum sebelum dicuci karena kalian tidak tahu dimana kalian meletakkan tangan kalian selama tidur“, cuci dahulu baru makan ataupun minum. Ada seseoran mengatakan, “Ah, saya tidak perlu tahu dimana tangan saya diletakkan ketika tidur” dibantah itu hadits maka apa yang terjadi ? malam dia tidur keesokan harinya dia menemukan tangannya sudah masuk sampai sikutnya ke lubang duburnya wal iyaudzubillah. Didalam buku Al-Qolmuwin fii akhto Mushollin ketika menjelaskan tentang salah satu diantara kesalahan orang yang sholat dalam berjama’ah mendahului imam ada suatu kisah seorang ulama besar yang sangat dikagumi mengajar tentang islam ini tetapi wajahnya ditutup sehingga murid-murid tidak tahu bagaimana wajah gurunya. Kemudian ada salah satu muridnya yang penasaran, “Wahai guru kenapa engkau tutup wajahmu ?“, kata gurunya, “Kamu tidak ingin mengetahuinya“, kemudian “Beritahukan saya pasti akan normal dan wajar saja sikapnya“, kata gurunya, “Kalau kamu kekeh (memaksa) ingin melihat wajah saya datanglah setelah pengajian kerumah“. Akhirnya setelah pengajian datang kerumah lalu dia (gurunya) membuka penutup wajahnya. Si murid tadi merasa kaget sampai menjerit, ternyata wajahnya mirip seperti wajah keledai. Muridnya bertanya, “Apa yang terjadi wahai guru?“, kata guru, “Inilah adzab yang Allah segerakan kepada saya karena saya merendahkan sunnah. Ketika dulu saya masih jahil, saya mendahului imam ketika sholat lalu ditegur, lalu dibacakan hadits oleh orang yang menegur, ‘Jangan kamu mendahului imam atau wajah kamu nanti akan dirubah menjadi wajah himarun (keledai)’ kemudian saya tidak percaya dan sengaja mendahului imam awalnya tidak apa-apa namun begitu sampai dirumah lalu saya bercermin dan saya kaget setengah mati karena wajah saya berubah menjadi wajah himarun (keledai)“, dan itu dibahas oleh para ulama dalam bab Ta’zilu ukubatin ma lam Ya Adzimi sunnah disegerakannya sanksi bagi orang yang tidak mengagungkan sunnah. Maka gurunya berkata kembali, “Sejak saat itu saya taubat kepada Allah dengan sebenarnya lalu saya belajar dengan sungguh-sungguh dan saya sampai memahami agama ini dan mengajar“. Ini tidak terjadi pada setiap orang betapa banyak orang yang menghinakan sunnah bahkan Al-Qur’an tapi tidak disegerakan adzabnya oleh Allah didunia karena Allah benci kepada dia. Allah ingin menunda adzab itu di akhirat. Kalau disegerakan didunia berarti Allah cinta kepada dia dan diakhirat dia tidak lagi menerima adzab karena hal itu. Begitu disegerakan dia cepat dan takut bertaubat dari seluruh dosanya dan bebas di akhiratnya walaupun adzabnya sudah diberikan didunia. Berkata Az-Zuhri kepada Yunus, “Jangan kamu membantah ilmu karena ilmu itu audiyah, ilmu itu sesuatu yang sangat-sangat berharga. Ilmu mana saja yang kamu ambil, audiyah itu kata jamak dari wadi atau lembah. Ilmu itu lembah ibaratnya lembah yang sangat banyak. Berlembah-lembah. Ilmu mana saja yang kamu ambil dari lembah itu maka itu akan menjegal kamu sebelum kamu sampai kepadanya. Jadi kalau kamu bantah ilmu sudah ilmu itu tidak akan mau menjadi milik kamu selama-lamanya tetapi ambil-lah ilmu itu selama rentang beberapa lama dari waktu yang kamu lalui dan jangan kamu pelajari ilmu sekaligus karena siapa orang yang memaksakan diri mengambil ilmu sekaligus maka ilmu sebelumnya yang sudah dikuasai bisa hilang dari dirinya tetapi step by step dalam rentang waktu yang cukup panjang. Bagaimanapun luasnya ilmu menyebabkan waktu yang kita miliki tidak akan pernah cukup untuk menguasai walaupun hanya sebagaian besar dari ilmu hanya sedikit dari ilmu yang ada“. Inilah penjelasan beberapa ulama tentang masalah ilmu.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *