Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 61 ~ Adab Pengajar Dan Pelajar : Mengikhlashkan Niat

Materi 61 ~ Adab Pengajar Dan Pelajar : Mengikhlashkan Niat

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Adab-adab yang harus diperhatikan oleh pengajar dan pelajar, yang harus diperhatikan oleh seorang guru dan juga para murid. Pembahasan ini diambil dari tulisan Fatawa Sa’diyah yang disusun oleh Syaikh Abdurrahman bin Nasr As-Sa’di rahimahullah. Beliau adalah guru dari Syaikh bin Baz rahimahullah. Pertama, Ikhlas Sunniyah yakni wajib ikhlas dalam meletakkan niat baik ketika belajar ataupun mengajar. Sudah kita terangkan makna ikhlas adalah menujukan maksud dari amalan hanya untuk meraih ridho Allah azza wa jalla, meraih akhirat bukan diniatkan murni untuk dunia, bukan untuk uang atau yang sejenisnya. Dalil yang berisi ancaman bagi orang yang seperti itu sudah kita terangkan di bab-bab awal dari buku ini. Rasul ﷺ bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa orang yang mencari satu ilmu (ilmu ini mestinya harus dicari, harus dipelajari) hanya untuk memperoleh wajah Allah tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali hanya untuk meraih keuntungan dunia maka orang ini tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat“. (HR. Abu Daud)

Kalau tidak mencium baunya surga apa yang akan dia alami yakni akan ke neraka, maka hal tersebut adalah berupa ancaman. Kita pernah mendengar hadits tiga orang manusia yang hebat, tiga amalan hebat tetapi tiga-tiganya ke neraka. Satu mujahid sampai mati syahid, kedua orang yang berilmu (mengajar, baca Al-Qur’an) dan ketiga yang dermawan tetapi ketiganya masuk ke neraka. Yang menyebabkan mereka masuk ke nereka adalah niat karena tidak ikhlas. Amalannya bagus namun niatnya tidak bagus. Berkata mualif, “Wajib bagi setiap ahlul ilmi baik dia orang yang belajar ataupun yang mengajar ataupun da’i, tilmid atau ustadz. Wajib bagi mereka untuk menjadikan asas atau dasar dari seluruh urusan mereka yaitu adalah ikhlas yang sempurna. Ibadah yang paling bermanfaat dan paling besar manfaatnya adalah keikhlasan kepada Allah azza wa jalla“. Ini adalah dasar bagi semua amalan tidak hanya menuntut ilmu dan mengokohkan atau menguatkan pondasi yang sangat bermanfaat ini dalam setiap rincian dari semua amal atau urusan mereka. Kalau mereka belajar atau mengulang-ulang pelajaran atau bermunadhoroh (berdiskusi) atau menyampaikan ilmu atau mendengarkan ilmu atau menulis (termasuk menulis status dan postingan dimedia sosial) niat utamanya ikhlas karena Allah bukan karena unjuk kebolehan didalam mengopas, menulis, apalagi copasnya tanpa mencantumkan sumber, dianggap ini sebuah tulisan bagus kemudian copas atau tempel cantumkan nama sendiri (plagiat) atau dia melangkah ke majelis ilmu atau dia membeli kitab atau dia melakukan apapun yang bisa membantu teraihnya ilmu maka ikhlas karena Allah dalam hal itu, mengharapkan pahalanya itu harus menempel didalam diri orang tersebut. Ikhlas itu tidak boleh lepas dari dirinya. Hendaklah dia mengaplikasikan hadits Nabi ﷺ

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa orang yang berjalan menelusuri suatu jalan dia mencari jalan itu untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan bagi dia jalan menuju surga” (HR. Muslim) Dengan syarat menelusuri jalannya itu betul-betul ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan hadits tersebut shahih diriwayatkan oleh imam Muslim dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Maka semua jalan baik hissi atau pun maknawi, jalan hissi itu adalah jalan yang real dan nyata (jalan mobil, gang, jalan setapak yang kita berjalan dijalan itu menuju mesjid, menuju tempat kajian, menuju ke tempat majelis ilmu) jalan tersebut disebut jalan hissi (yang real) atau jalan maknawi bukan jalan yang sebenarnya tetapi cara untuk memperoleh ilmu baik dengan hadir ke majelis ilmu, dengan mesantren, dengan mendengarkan di radio-radio dan TV, dengan membaca buku, dengan menelfon ke ustadz untuk bertanya ilmu, dengan mendengarkan melalui internet (youtube, streaming atau yang lain) itu juga jalan tetapi jalan yang maknawi bukan jalan yang sebenarnya. Maka seluruh jalan baik hissi ataupun maknawi yang ditempuh oleh ahlul ilmi, yang bisa membantu dia dalam meraih ilmu dan memperoleh ilmu maka itu semua termasuk kedalam hadits tadi, itu yang pertama. Adab yang pertama bagi semua orang baik orang yang mengajar ataupun belajar hendaklah ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala bukan karena yang lain.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *