Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-73 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-14 yang diberi judul oleh beliau
بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ
Bab termasuk kesyirikan beristighātsah kepada selain Allāh atau berdoa kepada selain Allāh
وقوله: وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
Dan siapakah yang lebih sesat, kata Allāh? Berarti tidak ada yang lebih sesat daripada orang ini.
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ
Siapakah yang lebih sesat? Daripada orang yang berdoa kepada selain Allāh.
Berarti kalau di sana banyak orang sesat, siapa yang paling sesat di antara mereka? Orang yang berdoa kepada selain Allāh. Ini adalah orang yang sesat dan paling sesat. Berdoa kepada selain Allāh masuk di dalamnya berdoa kepada Nabi, berdoa kepada wali, dan selainnya, meminta kepadanya didatangkan kebaikan, dihilangkan kesusahan. Berdoa kepada mereka adalah adhall (أَضَلُّ), ini adalah lebih sesat dan paling sesat. Siapakah mereka ini?
مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ
Berdoa kepada selain Allāh yang tidak mengijabahi untuknya, yaitu tidak mengabulkan doanya, sampai hari Kiamat.
Orang berdoa itu inginnya dikabulkan doanya, meminta karena ingin permintaannya dikabulkan. Ketika dia berdoa kepada selain Allāh, maka itu mustahil dikabulkan oleh mereka. Yang mengabulkan hanya Allāh.
Berarti orang yang menghabiskan waktunya, menghabiskan hartanya untuk safar, kemudian di sana dia berdoa kepada selain Allāh, maka dia adalah orang yang paling sesat. Sampai hari Kiamat, orang yang dia minta tadi, yang dia berdoa kepadanya, tidak akan mengabulkan doanya.
Dan kata man (مَن) di sini dalam bahasa Arab, itu asalnya digunakan untuk yang berakal. Sehingga ini menjadi dalil bahwasanya yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang sudah meninggal dunia. Berdoa kepada selain Allāh, yang mereka sudah meninggal dunia, baik Nabi, atau wali, ataupun yang lain, maka ini adalah termasuk kesyirikan yang besar, dan tidak ada yang lebih sesat daripada mereka.
Di dunia mereka tidak mendapatkan apa-apa, dan di akhirat hukumannya berat. Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allāh ﷻ, yang tidak akan mengijabahi sampai hari Kiamat?
Sehingga man (مَن) di sini adalah untuk yang berakal, dan menunjukkan kesalahan orang yang mengatakan dan membantah, lalu dia mengatakan, “Ini kan untuk berhala.” Sementara kita tidak berdoa dan meminta kepada berhala tadi.
Kita katakan, “Di sini ada man (مَن). Man (مَن) di sini untuk siapa? Untuk orang yang berakal, bukan untuk berhala.”
Kemudian juga,
إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ
“Sampai hari kiamat.”
Kenapa di sini disebutkan إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ? Karena di hari kiamat mereka akan dibangkitkan kembali dan dihidupkan oleh Allāh ﷻ.
Sehingga mereka ini meskipun dalam keadaan sudah hidup, mereka tidak bisa mengabulkan doa. Kalau yang dimaksud adalah berhala, maka ini tidak, karena berhala ini di hari kiamat pun mereka tidak akan dihidupkan oleh Allāh ﷻ. Bukan berarti mereka menjadi makhluk yang hidup.
Sehingga ini menguatkan pendapat yang mengatakan bahwasanya,
مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ
Ini adalah orang-orang yang meninggal dunia.
Dan banyak manusia yang mereka memiliki ta’alluq (تَعَلّق), memiliki ketergantungan terhadap wali-wali yang dianggap shalih dan dia sudah meninggal dunia. Sehingga Allāh ﷻ membantah mereka dan mengatakan, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allāh.”
Ayat selanjutnya beliau mengatakan,
وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَٰفِلُونَ
“Dan mereka ini dari doa-doa mereka dalam keadaan lalai.”
Maksudnya adalah sesembahan-sesembahan tadi tidak mendengarkan doa-doa orang yang menyembahnya.
وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَٰفِلُونَ
Di dunia dia tidak mendengar, kalau tidak mendengar bagaimana dia bisa mengabulkan doa tadi.
وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ
Kalau dikumpulkan manusia di akhirat (di padang Mahsyar).
كَانُوا۟ لَهُمْ أَعْدَآءً وَكَانُوا۟ بِعِبَادَتِهِمْ كَٰفِرِينَ
Maka mereka menjadi musuh.
Yaitu kalau dikumpulkan manusia di Padang Mahsyar, yang menyembah maupun yang disembah, yang mad’u (مَدْعُوّ) maupun da’inya (دَاعِي), yang berdoa maupun yang disembah, maka semuanya saling bermusuhan satu dengan yang lain.
كَانُوا۟ لَهُمْ أَعْدَآءً
“Mereka menjadi musuh.”
وَكَانُوا۟ بِعِبَادَتِهِمْ كَٰفِرِينَ
“Dan mereka yaitu yang disembah mengkufuri, mereka mengingkari peribadatan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyembahnya.”
Maka ini adalah dalil tentang haramnya berdoa kepada selain Allāh. Dan termasuk di antara berdoa kepada selain Allāh adalah al-istighātsah. Sehingga beliau mendatangkan ayat ini.
وقوله: أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
Siapakah yang bisa menjawab dan mengabulkan doa orang yang sedang kesulitan.
Al-Mudhtharra (ٱلْمُضْطَرَّ) artinya adalah orang yang sedang dalam keadaan kesulitan, kesusahan, tertimpa musibah. Siapakah yang bisa menjawab dia, mengabulkan dia.
إِذَا دَعَاهُ
Ketika dia berdoa kepada Allāh.
Ini menunjukkan bahwasanya orang yang dalam keadaan dia terkena musibah, yang seharusnya dia lakukan adalah berdoa kepada Allāh, minta kepada Allāh supaya dihilangkan musibah tadi.
وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ
Dan Allāh ﷻ, Dia-lah yang menghilangkan kejelekan-kejelekan.
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ
Dan menjadikan kalian sebagai yang memakmurkan bumi.
أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ
Apakah ada di sana sesembahan selain Allāh?
قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Sungguh sedikit kalian mengingatnya.
Di dalam ayat ini Allāh ﷻ kembali menyebutkan tentang kewajiban kita untuk beristighātsah dan berdoa hanya kepada Allāh dalam menghilangkan musibah. (ٱلْمُضْطَرَّ) artinya adalah orang yang terkena dharurat (ضَرُوْرَة) yaitu terkena musibah, terkena kesusahan. Siapakah yang bisa mengabulkan doa orang yang terkena kesusahan? Dan siapakah yang menghilangkan kesusahan tadi?
Maka jawabannya adalah Allāh ﷻ.
أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ
Apakah ada di sana sesembahan selain Allāh yang bisa menyingkap musibah tadi?
Ini semua menunjukkan bahwasanya istighātsah tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh ﷻ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
