Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-94 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau mengatakan:
وَفِي الصَّحِيحِ
Di dalam hadits yang shahih. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.
فَقَالَ لَهُ
Maka Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abi Umayyah saat itu tidak tinggal diam. Keduanya berkata kepada Abu Thalib:
أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
Apakah engkau benci dengan agamanya Abdul Muthalib?
Ini menunjukkan bagaimana teman yang jelek itu berusaha agar temannya tidak menjadi orang baik. Ternyata Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abi Umayyah saat itu tidak tinggal diam, tapi berusaha untuk menandingi Rasulullāh ﷺ. Rasulullāh ﷺ mengajak kepada kebaikan dan juga tauhid, maka mereka tidak ingin temannya ini yang sama-sama musyrikin mengikuti dakwah Rasulullāh ﷺ. Akhirnya mereka juga berdakwah. Dakwahnya dengan mengingatkan kepada kecintaan nenek moyang.
“Apakah engkau benci terhadap agamanya Abdul Muthalib?” Abdul Muthalib bapakmu sendiri. Dan dia berada di atas agama kesyirikan ini.
Nah ini menunjukkan tentang bahayanya teman yang jelek dan ini menunjukkan bahwasanya agamanya Abdul Muthalib bertentangan dengan kalimat Lā ilāha illallāh. Sehingga diadukan oleh Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abi Umayyah, “Apakah engkau benci?” Menunjukkan bahwasanya agamanya Abdul Muthalib adalah kesyirikan. Dan ini menunjukkan tentang bahayanya cinta kepada nenek moyang yang berlebihan. Cinta kepada orang tua, kepada nenek moyang, sesuatu yang lumrah tabiat seseorang mencintai nenek moyangnya. Tapi tidak boleh berlebihan dan ta’ashub dan menganggap bahwasanya apa yang mereka lakukan semuanya adalah benar.
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami, ya mereka adalah banyak, dan kami mengikuti mereka dalam keadaan kami mendapatkan hidayah. (QS. Az-Zukhruf: 22)
Ini ucapan orang-orang musyrikin. Kita cinta kepada nenek moyang kita, tapi al-haqq (kebenaran) harus lebih kita cintai daripada cinta kita kepada siapa pun.
Kemudian
فَعَادَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ
Maka Nabi ﷺ pun mengulang lagi.
Mengatakan kepada pamannya, “Wahai pamanku ucapkan Lā ilāha illallāh.” Beliau tidak putus asa. Demikian seorang da’i, meskipun da’i-da’i yang mengajak kepada kejelekan mereka banyak dan mengajak manusia untuk berbuat jelek, maka kita jangan putus asa. Terus kita berdakwah. Jangan kita tinggalkan masyarakat karena mereka dicekoki dan dikungkung oleh orang-orang yang berdakwah kepada kebatilan. Jangan. Kita juga berdakwah dan tidak putus asa.
فَأَعَادَا
Kemudian mereka pun juga mengulang. Nabi ﷺ mengulang, mereka pun juga ikut mengulang.
فَكَانَ آخِرَ مَا قَالَ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
Maka terakhir kali yang diucapkan oleh Abu Thalib adalah dia berada di atas agamanya Abdul Muthalib.
Yaitu terakhir kali sebelum dia meninggal dunia. Ternyata yang dia ucapkan dia berada di atas agamanya Abdul Muthalib. Sehingga disebutkan dalam riwayat yang lain:
أَنَا عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
Dia mengatakan, “Aku berada di atas agamanya Abdul Muthalib.” Yaitu tidak mau mengatakan Lā ilāha illallāh.
وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Dan dia enggan tidak mau mengatakan Lā ilāha illallāh.
Ditinggalkan dakwah Nabi ﷺ padahal beliau adalah keponakannya sendiri yang dia tahu kebenaran apa yang beliau bawa, dan lebih memilih berada di atas agama kesyirikan. Dan ini menunjukkan bahwasanya Abu Thalib meninggal dalam keadaan syirik. Dan keliru orang yang meyakini bahwasanya Abu Thalib meninggal dalam keadaan muslim. Jelas haditsnya bahwasanya dia berada di atas agamanya Abdul Muthalib. Dan ini menunjukkan al-a‘mālu bil-khawātīm. Amalan itu adalah sesuai dengan akhirnya. Karena Nabi ﷺ berdakwah sampai di akhir hayat Abu Thalib karena berharap dia mengakhiri hidupnya dengan kebaikan. Tapi ternyata Allāh ﷻ menginginkan yang lain, Abu Thalib berada di atas agamanya Abdul Muthalib sampai dia meninggal dunia.
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ
Maka Nabi ﷺ mengatakan:
لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ
Nabi ﷺ meskipun Abu Thalib sudah meninggal dunia, beliau tidak putus asa. Beliau orang yang memiliki rahmah, kasih sayang bahkan kepada pamannya, dan kasih sayang di sini adalah kasih sayang yang tabiat manusia. Apa yang bisa beliau lakukan, beliau lakukan. Beliau mengatakan, “Sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu.” Dia tidak mengucapkan Lā ilāha illallāh, tapi aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang. Yaitu sampai saat itu beliau belum dilarang sehingga beliau memohonkan ampun untuk Abu Thalib. Dan ucapan beliau “Sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu” sekali lagi menunjukkan tentang bagaimana kasih sayang dan kecintaan Rasulullāh ﷺ kepada Abu Thalib. “Selama tidak ada larangan maka aku akan memohonkan ampun untukmu.” Semoga Allāh ﷻ mengampuni. Tapi ternyata apa?
فَأَنْزَلَ اللَّهُ ﷻ
Maka Allāh ﷻ menurunkan:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ
Tidak pantas bagi seorang nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampun bagi orang-orang musyrikin. (QS. At-Taubah: 113)
Berarti di sini larangan, karena mā kāna di sini maknanya adalah larangan. Tidak pantas bagi seorang nabi dan juga orang-orang yang beriman. Bukan hanya nabi saja, orang-orang yang beriman juga demikian, mereka tidak pantas untuk memohonkan ampun bagi orang-orang musyrikin. Baik yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup.
وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى
Meskipun mereka adalah keluarga kita sendiri.
مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Setelah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang tersebut adalah termasuk ashabul-jahim (termasuk penduduk neraka).
Yaitu orang-orang yang kafir, karena orang-orang kafir mereka adalah calon penduduk neraka yang kekal selama-lamanya. Ini berarti larangan kepada Nabi ﷺ untuk memohonkan ampun bagi orang-orang musyrikin. Diambil dari sini kita juga tidak boleh memohonkan ampun untuk orang-orang musyrikin. Yang boleh adalah kita memohonkan hidayah. Ya Allāh ﷻ berikan hidayah kepada fulan, lapangkan dada dia untuk masuk ke dalam agama Islam, itu yang boleh. Adapun istighfar memohonkan ampun untuk mereka maka ini tidak diperkenankan dan itu dilarang.
وَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَبِي طَالِبٍ
Kemudian Allāh ﷻ menurunkan tentang kisah Abu Thalib ini:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada orang yang Allāh ﷻ kehendaki. (QS. Al-Qashash: 56)
Berarti di sini kita tahu bahwasanya sebab turunnya ayat innaka lā tahdī man ahbabta adalah kisah menjelang kematiannya Abu Thalib. Dengan mengetahui kisahnya ini kita memahami makna ayat lebih dalam.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
