Halaqah 66 | Penjelasan Umum Bab 13

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Masuk kita pada bab yang ke-13

بابٌ مِنَ الشِّرْكِ الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِ اللهِ

Bab termasuk kesyirikan adalah meminta perlindungan kepada selain Allāh.

Setelah sebelumnya beliau rahimahullah mendatangkan jenis kesyirikan yaitu bernadzar untuk selain Allāh, dan sebelumnya beliau menyebutkan tentang menyembelih untuk selain Allāh, maka kembali di sini beliau menyebutkan jenis kesyirikan yang lain yaitu meminta perlindungan kepada selain Allāh.

Dan meminta perlindungan yaitu meminta perlindungan dari kejelekan. Al-isti’ādzah secara bahasa artinya adalah meminta perlindungan dari sebuah kejelekan atau suatu kejelekan yang belum datang. Maka ini dinamakan dengan al-isti’ādzah.

Di dalam bab ini beliau ingin menjelaskan bahwasanya termasuk kesyirikan adalah meminta perlindungan kepada selain Allāh.

Dan bab ini, sebagaimana bab sebelumnya, beliau ingin menjelaskan satu contoh di antara contoh-contoh atau di antara perkara-perkara yang bertentangan dengan tauhid. Karena sebagaimana kita tahu, bahwasanya seseorang tidak bisa mewujudkan tauhid dengan sebenar-benarnya kecuali dengan dia mengetahui kebalikan dari tauhid, mengetahui tentang kesyirikan dan contoh-contoh dari kesyirikan. Ketika dia mengetahui, maka diharapkan dia bisa menghindarkan dirinya dari perbuatan syirik tersebut.

Dan ini adalah Kitābut Tauhid, ini adalah tentang tauhid yang merupakan hak Allāh atas para hamba-Nya. Sehingga untuk mewujudkan tauhid dengan sebenar-benarnya, kita harus mengetahui lawan dari tauhid, yaitu kesyirikan, dan mengetahui tentang macam-macam dan jenis-jenis kesyirikan.

Sehingga beliau mendatangkan tentang masalah menyembelih untuk selain Allāh adalah termasuk kesyirikan. Kemudian bernadzar untuk selain Allāh termasuk kesyirikan. Kemudian juga memakai jimat. Kemudian di sana ada ruqyah yang syirkiyah. Beliau menyebutkan berbagai jenis kesyirikan.

Dan di sini beliau memulai dengan kesyirikan-kesyirikan yang besar sebelum beliau menyebutkan tentang kesyirikan-kesyirikan yang kecil. Karena kesyirikan yang besar inilah yang lebih berbahaya daripada kesyirikan yang kecil.

Kesyirikan yang besar membatalkan seluruh amalan,

لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

‘Sungguh, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugurlah seluruh amalmu dan tentu engkau termasuk orang-orang yang rugi.’ (QS. Az-Zumar: 65)

mengeluarkan seseorang dari agama Islam, dan kalau dia meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allāh dari kesyirikan yang besar ini, maka dia akan kekal di dalam neraka dan diharamkan masuk ke dalam surga.

Sehingga beliau mendatangkan terlebih dahulu bab-bab yang berkaitan dengan syirik-syirik yang besar atau contoh-contoh dari syirik yang besar.

بابٌ مِنَ الشِّرْكِ الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِ اللهِ

Termasuk kesyirikan, dan syirik yang dimaksud di sini adalah asy-syirkul akbar, syirik yang besar. Dan al yang ada dalam kalimat الشِّرْكِ dinamakan dengan al-‘ahdiyyah, yaitu al yang menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya (ma’hūd sebelumnya). Sehingga yang dimaksud adalah syirik yang besar.

Termasuk kesyirikan yang besar adalah meminta perlindungan kepada selain Allāh.

Meminta perlindungan yaitu dari kejelekan yang belum terjadi. Kalau sudah terjadi, dinamakan dengan al-istighātsah. Kalau meminta perlindungan, itu adalah meminta perlindungan dari kejelekan atau musibah yang belum terjadi. Kalau meminta agar diangkat musibah yang sudah terjadi, dinamakan dengan al-istighātsah.

بِغَيْرِ اللهِ

Dengan selain Allāh.

Dan dengan selain Allāh mencakup semuanya. Termasuk di dalamnya orang yang beristi’ādzah kepada nabi, atau beristi’ādzah kepada wali, atau beristi’ādzah kepada jin, atau beristi’ādzah kepada matahari, dan seterusnya. Maka itu semuanya masuk dalam kalimat بِغَيْرِ اللهِ, dengan selain Allāh.

Isti’ādzah hanya kepada Allāh, atau dengan salah satu nama di antara nama-nama Allāh, atau dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat Allāh. Karena nama dan sifat Allāh ini bukan makhluk. Kita hanya diperbolehkan untuk beristi’ādzah kepada Allāh, atau dengan nama-nama-Nya, atau dengan sifat-sifat-Nya.

Adapun isti’ādzah dengan selain Allāh, yaitu dengan jin, dengan manusia, dengan malaikat, dengan nabi, atau dengan wali, maka ini adalah termasuk syirik yang besar.

Kenapa demikian? Karena isti’ādzah ini adalah termasuk jenis doa. Isti’ādzah maknanya apa? Thalabul ‘audz, yaitu meminta perlindungan. Dan meminta berarti dia adalah doa. Sebagaimana yang kita tahu bahwasanya doa ini adalah ibadah dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh. Barang siapa yang menyerahkan doa ini kepada selain Allāh, maka dia terjerumus ke dalam kesyirikan yang besar.

Allāh ﷻ mengatakan:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam Neraka Jahanam dalam keadaan hina.’ (QS. Ghafir: 60).

Dan Rabb kalian berkata, ٱدۡعُونِيٓ, “Hendaklah kalian berdoa kepada-Ku.” Perintah dari Allāh ﷻ kepada kita semua untuk berdoa hanya kepada Allāh. Dan perintah menunjukkan kecintaan. Dan kalau itu adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh, berarti dia adalah ibadah.

Ibadah adalah:

اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ

Sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allāh, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang dzahir maupun yang batin.

ٱدۡعُونِيٓ kata Allāh, “Hendaklah kalian berdoa kepada-Ku.” Kemudian Allāh mengatakan

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam Neraka Jahanam dalam keadaan hina.’ (QS. Ghafir: 60)

Allāh mengatakan sebelumnya, ٱدۡعُونِيٓ, “Hendaklah kalian berdoa kepada-Ku.” Kemudian sekarang Allāh menyebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang sombong untuk beribadah kepada-Ku.” Berarti Allāh menamakan doa di sini dengan ibadah. Orang yang sombong sehingga dia tidak berdoa kepada Allāh, merasa dirinya cukup, memandang dirinya cukup dan tidak butuh kepada Allāh, mereka akan masuk ke dalam Jahanam dalam keadaan terhina.

Ini menunjukkan bahwasanya doa adalah ibadah. Dan isti’ādzah adalah termasuk doa. Kalau dia ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh. Nabi ﷺ mengatakan:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah.”

Kemudian beliau membaca ayat ini tadi. “Doa itu adalah ibadah,” kata Nabi ﷺ. Jelas ucapan beliau bahwa doa adalah ibadah. Kalau itu ibadah, maka masuk dalam firman Allāh “Beribadah hanya kepada Allāh.” Masuk pula dalam firman Allāh:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Berarti seseorang kalau sudah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, haram hukumnya menyerahkan doa tadi kepada selain Allāh.

Meminta perlindungan termasuk bagian dari doa, sehingga hanya diserahkan kepada Allāh. Tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh. Barang siapa yang menyerahkan isti’ādzah ini kepada selain Allāh, maka dia terjerumus ke dalam kesyirikan yang besar.

Di dalam sebuah ayat, Allāh ﷻ mengatakan:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.’ (QS. Al-Falaq: 1).

ٱلۡفَلَقِ artinya adalah waktu subuh. Nabi ﷺ disuruh ketika beristi’ādzah, meminta perlindungan kepada Allāh ﷻ, kepada Rabb yang menguasai waktu subuh.

Dan Allāh mengatakan:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia.’ (QS. An-Nas: 1).

Allāh menyuruh Nabi-Nya untuk berlindung kepada Allāh, kepada Rabb manusia, bukan kepada manusia, bukan kepada jin, tetapi kepada Rabb manusia.

Di dalam ayat yang lain, Allāh mengatakan:

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ

“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan.’ (QS. Al-Mu’minun: 97).

Beliau disuruh oleh Allāh ﷻ untuk berlindung kepada Allāh dari kejelekan setan dan juga waswas setan.

Demikian pula firman Allāh ﷻ:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allāh.” (QS. Al-A’raf: 200).

Mintalah perlindungan kepada Allāh, bukan meminta perlindungan kepada manusia atau kepada jin.

Allāh ﷻ Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan kebaikan dan Dia-lah yang menciptakan kejelekan. Musibah semuanya Allāh ﷻ yang mentakdirkan. Kenikmatan semuanya Allāh yang menciptakan.

Maka seseorang meminta perlindungannya kepada Allāh, karena Dia-lah yang bisa menghindarkan dari kejelekan. Dia yang menciptakan jin dan Dia-lah yang bisa memalingkan jin dari kita serta melindungi kita dari kejelekan jin. Allāh ﷻ juga yang menciptakan manusia dan apa yang mereka lakukan.

Maka seseorang meminta perlindungan kepada Allāh dari seluruh kejelekan, bukan menyerahkan isti’ādzah ini kepada selain Allāh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top