Halaqah 62 | Pembahasan QS. Al-Insan: 7 dan QS. Al-Baqarah: 270

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-62 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Sampai kita insyā Allāh pada bab yang ke-12 yang diberikan judul oleh penulis dengan:

بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ النَّذْرُ لِغَيْرِ اللهِ

“Bab: Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allāh.”

Beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ yang menunjukkan bahwasanya menyempurnakan nadzar ini adalah sebuah ibadah.

وَقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: يُوفُونَ بِالنَّذْرِ

Dan firman Allāh ﷻ, “Mereka memenuhi nadzar.” (QS. Al-Insān: 7)

Yaitu ketika Allāh ﷻ menceritakan tentang sifat orang-orang yang abrār (orang-orang yang beriman). Sifatnya adalah mereka يُوفُونَ بِالنَّذْرِ (mereka menyempurnakan nadzar), dan ini Allāh sedang memuji mereka.

Menyebutkan sifat mereka, sedang memuji mereka, dan segala sesuatu yang dipuji oleh Allāh berarti itu dicintai oleh Allāh ﷻ. Mereka menyempurnakan nadzar, berarti sifat menyempurnakan nadzar ini adalah sifat yang dipuji oleh Allāh.

Dan sifat yang dipuji oleh Allāh ﷻ berarti dia adalah sifat yang dicintai oleh Allāh, amalan yang dicintai oleh Allāh. Dan segala sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ, maka itu adalah ibadah. Berarti الْوَفَاءُ بِالنَّذْرِ, yaitu menyempurnakan nadzar, adalah sebuah ibadah.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullāh ketika beliau mendefinisikan apa itu ibadah,

اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ

Sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allāh, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang batin.

Berarti yang dicintai oleh Allāh, baik yang zhahir maupun yang batin, baik ucapan maupun perbuatan. Menyempurnakan nadzar terkadang nadzarnya berupa ucapan, terkadang berupa perbuatan. Ini adalah termasuk yang dipuji oleh Allāh ﷻ, sehingga dia dicintai. Dan kalau dia dicintai, maka itu adalah ibadah. الْوَفَاءُ بِالنَّذْرِ termasuk ibadah.

Berarti kalau dia adalah ibadah, maka tidak boleh kita serahkan nadzar tersebut kepada selain Allāh. Kalau di sana ada nadzar untuk selain Allāh, maka tidak boleh untuk ditunaikan nadzar tersebut, karena menyempurnakan nadzar ini adalah ibadah, hanya untuk Allāh saja. Kalau sampai nadzar tersebut diserahkan kepada selain Allāh, maka ini adalah sebuah kesyirikan dan termasuk kesyirikan yang besar.

Di sana ada sebuah ayat yang jelas menunjukkan tentang perintah untuk menyempurnakan nadzar, yaitu firman Allāh ﷻ,

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

“Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka.” (QS. Al-Hajj: 29)

Dan hendaklah mereka menyempurnakan atau menunaikan nadzar-nadzar mereka. Maka ini adalah perintah. Kalau tadi adalah pujian, menunjukkan dia adalah ibadah. Kalau ini adalah perintah, sama. Allāh ﷻ tidak memerintahkan kecuali dengan sesuatu yang dicintai oleh Allāh, dan di sini Allāh memerintahkan untuk menyempurnakan nadzar.

Berarti menyempurnakan nadzar adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh. Dan kalau dia dicintai oleh Allāh, maka itu adalah sebuah ibadah yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh ﷻ. Ini adalah dalil khusus bahwasanya menyempurnakan nadzar ini adalah termasuk ibadah.

Kemudian beliau membawakan firman Allāh ﷻ,

وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُهُۥ

“Dan apa pun infak yang kamu berikan atau nadzar yang kamu janjikan, maka sungguh, Allāh mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 270)

Dan apa yang kalian nafkahkan, kalian infakkan berupa نَفَقَةٍ (berupa nafkah), atau yang kalian nadzarkan berupa nadzar, maka sesungguhnya Allāh ﷻ mengetahuinya.

Di sini Allāh ﷻ mengabarkan bahwasanya apa yang kita infakkan di jalan Allāh ﷻ, baik dalam jumlah yang kecil maupun jumlah yang besar, kemudian apa yang kita nadzarkan, dan nadzar di sini wallāhu a‘lam yang dimaksud adalah nadzar yang mutlak, yang tidak diikat dengan sesuatu. Maka Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengetahui.

Allāh mengetahui ketika antum berinfak dengan sembunyi-sembunyi, meskipun dengan jumlah yang sedikit misalnya, karena memang kemampuan kita hanya segitu. Dan apa yang kita nadzarkan, meskipun tidak diketahui oleh orang lain, tetapi kita punya nadzar yang mutlak, maka Allāh ﷻ mengetahuinya.

Kalimat فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُهُۥ, “sesungguhnya Allāh mengetahuinya”, bukan hanya sekadar kabar bahwasanya Allāh tahu. Akan tetapi diambil dari sini bahwasanya Allāh ﷻ akan membalas apa yang mereka lakukan berupa infak dan berupa nadzar dengan balasan dari-Nya.

Ini maksud firman Allāh ﷻ,

فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُهُۥ

Sesungguhnya Allāh tahu. Maksudnya adalah tahu, dan Allāh ﷻ akan membalasnya.

Jadi العِلْمُ di sini adalah ‘ilmu al-jazā’ yang menunjukkan tentang ridha Allāh dan kecintaan Allāh terhadap orang yang menginfakkan hartanya, dan kecintaan Allāh terhadap orang yang bernadzar untuk Allāh ﷻ.

Kalau memang ini adalah ‘ilmu al-jazā’, dan bahwasanya Allāh ﷻ akan membalas, maksudnya adalah memberikan pahala, maka ini menunjukkan bahwasanya yang disebutkan sebelumnya adalah sebuah ibadah. Infak adalah ibadah, dan nadzar juga merupakan ibadah.

Dan sekali lagi, wallāhu a‘lam, yang dimaksud dengan nadzar di sini adalah nadzar yang mutlak, nadzar yang lepas, tidak diikat dengan sesuatu.

Seseorang mengatakan,

لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أَصُومَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Kewajibanku untuk Allāh adalah berpuasa tiga hari setiap bulan,” misalnya.

Tanpa di sana ada ikatan dengan sesuatu, maka ini dinamakan dengan nadzar yang mutlak.

Maka jelas ini menunjukkan bahwasanya nadzar merupakan ibadah. Kalau dia adalah ibadah yang Allāh ﷻ janjikan dengan pahala dan balasan, berarti harus diserahkan hanya kepada Allāh. Dan barang siapa yang menyerahkan nadzar ini kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan.

Dan kesyirikan di sini adalah kesyirikan yang besar.

مِنَ الشِّرْكِ النَّذْرُ لِغَيْرِ اللهِ

Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allāh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top