Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-147 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan rahimahullāh
وَالمِيزَانِ
Di antara yang kita imani adalah Al-Mīzān, adanya timbangan amal.
Perkara-perkara yang disebutkan, kalau dipikir oleh orang-orang yang mendahulukan akal, maka mereka akan mengatakan ini adalah perkara yang tidak masuk akal. Bagaimana jembatan sekecil itu, setajam itu, kemudian juga di sana ada mīzān? Bagaimana amal kok ditimbang? Kalau menimbang beras atau menimbang buah ya masuk akal, tapi kalau amal ditimbang, bagaimana caranya?
Sehingga orang-orang yang mendahulukan akal di atas dalil, mereka mengingkari perkara-perkara yang seperti ini. Ahlus Sunnah tidak demikian. Ahlus Sunnah, sebagaimana mereka beriman dengan al-baʿts (hari kebangkitan), hari pembahasan amal, ḥisāb, membaca kitāb, tsawāb dan juga ʿiqāb, mereka juga beriman dengan Ash-Shirāṭ, beriman dengan jembatan yang dipasang di atas Neraka, dan mereka juga beriman dengan Al-Mīzān, yaitu timbangan amalan.
Di antara dalilnya adalah firman Allāh ﷻ:
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّۚ
Dan timbangan pada hari itu adalah benar (QS. Al-Aʿrāf: 8).
Harus kita yakini, harus kita imani:
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Maka barang siapa yang berat timbangannya, maka merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Aʿrāf: 8).
Akan ditimbang amal shāliḥ dan juga amal kejelekan. Kalau amal kebaikannya lebih berat daripada amal kejelekannya, maka merekalah orang-orang yang beruntung. Inilah orang-orang yang selamat, orang-orang yang masih ada harapan.
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا يَظْلِمُونَ
(QS. Al-Aʿrāf: 9)
Dan barang siapa yang ringan timbangan amalannya, artinya amalan kejelekannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya, maka merekalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, rugi karena kalau demikian keadaannya bencana yang akan mereka dapatkan, dengan sebab mereka mendzalimi ayat-ayat Allāh ﷻ.
Dan perlu diketahui, bahwasanya di antara hal yang sangat memberatkan timbangan amal shāliḥ di Hari Kiamat adalah Tauhid. Inilah diantara yang sangat memberatkan timbangan amal kebaikan seseorang di akhirat. Tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Ini adalah modal besar kita untuk mendapatkan keselamatan dan keberuntungan di akhirat kelak.
Sebagaimana disebutkan dalam Hadits, ketika seseorang yang memiliki dosa yang banyak, dia dinampakkan 99 kitāb yang besar dihadapannya. Disebutkan, besarnya adalah sejauh mata memandang. Kitāb, bukan yang bisa dipegang dengan kedua tangan kita, tapi kitāb tersebut sangat besar, sejauh mata memandang. Dan jumlahnya bukan satu, tapi 99. Isinya apa? Isinya dosa-dosa.
Ini kalau ditimbang, berapa? Kemudian dikatakan kepadanya: “Apakah engkau memiliki kebaikan?” Dia mengatakan: “Tidak.” Dikatakan kepadanya: “Bahkan engkau memiliki kebaikan, dan engkau tidak akan didzalimi.” Kemudian didatangkan sebuah kartu yang bertuliskan:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّهِ
Kartu, kalau di dunia yang kita lihat, adalah kertas yang tipis dan kecil. Itu namanya kartu, yang bisa kita taruh di saku kita. Itulah kartu, tipis, kecil, mudah dibawa ke mana-mana. Akan didatangkan oleh Allāh ﷻ biṭāqah tadi, yang bertuliskan dua kalimat syahādah:
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, dan bahwa Muḥammad adalah Rasul Allāh.” Itulah yang tertulis dalam kartu tadi.
Maka laki-laki ini mengatakan—dan dia seorang Muslim—“Yā Allāh, apa yang bisa dilakukan oleh kartu yang satu ini dibandingkan dengan kitāb yang jumlahnya 99 dan sangat-sangat besar tadi?” Apa perbandingannya?
Kalau didatangkan kitāb yang besar juga, isinya adalah amal-amal kebaikan, mungkin masih ada harapan—ini 99, ini 99, dan sama-sama besar. Tapi ini hanya biṭāqah, kartu yang sangat kecil. Apa yang bisa diperbuat oleh kartu kecil ini dibandingkan dengan kitāb yang besar tadi?
Dikatakan: “Engkau tidak akan didzalimi.” Akhirnya ditaruhlah 99 kitāb tadi dalam satu daun timbangan, kemudian ditaruhlah biṭāqah yang bertuliskan Lā ilāha illallāh, Muḥammad Rasūlullāh di daun timbangan yang lain, dan beratlah biṭāqah tadi. Melesatlah 99 kitāb yang besar, terbang dan melesat ketika biṭāqah ditaruh di daun timbangan yang lain.
Menunjukkan betapa beratnya biṭāqah tadi. Kenapa dia berat? Karena di situ ada:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّهِ
Keyakinan seseorang bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, dan dia mengamalkan Lā ilāha illallāh dalam kehidupan sehari-harinya. Keyakinan dia bahwa Muḥammad adalah utusan Allāh, dan dia mengikuti Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-harinya, menjadikan Beliau sebagai imam. Maka ini timbangannya di sisi Allāh sangat berat—sangat berat.
Maka jagalah yang satu ini. Jaga, karena ini adalah modal besar kita:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّهِ
Sehingga sebagian salaf dulu, ketika dia dalam keadaan sakit—kalau tidak salah seorang sahabat—ketika datang anaknya, dan anaknya terlihat dia merasa kasihan dengan bapaknya, maka bapaknya menyebutkan ucapan: “Aku tidak punya amalan yang lebih aku harapkan di sisi Allāh ﷻ daripada dua kalimat syahadat yang aku ucapkan.”
Dia merasa apa yang sudah dia amalkan—mungkin dilihat dari shalatnya, mungkin dilihat dari puasanya, dilihat dari shadaqah-nya—dibandingkan dengan yang lain, tapi “Aku punya Lā ilāha illallāh Muḥammadun Rasūlullāh. Aku punya keyakinan bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh. Itulah yang ada pada diriku, yang ada dalam hatiku maupun yang dzhahirku. Dan aku yakin, seyakin-yakinnya, bahwasanya Muḥammad adalah Rasūlullāh. Tidak aku dustakan sedikit pun dari apa yang Beliau ucapkan.” Beliau menyebutkan, ini adalah harapan beliau yang paling besar, yaitu: Lā ilāha illallāh Muḥammadun Rasūlullāh.
Ini ayat, yaitu dalam QS. Al-Aʿrāf, menunjukkan bahwa timbangan di akhirat adalah benar adanya. Dalam ayat yang lain, Allāh ﷻ mengatakan:
وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔاۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍۢ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَـٰسِبِينَ
Dan Kami akan meletakkan timbangan-timbangan yang adil untuk Hari Kiamat, maka tidak ada satu jiwa pun yang didzalimi sedikit pun. Meskipun hanya sebesar biji dari khardal, Kami akan mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai penghitung (QS. Al-Anbiyā’: 47).
Biji dari khardal itu berapa beratnya tapi akan Allāh ﷻ akan datangkan, tidak ada yang ditinggalkan oleh Allāh ﷻ.
Kalau Allāh ﷻ yang menghitung, maka semuanya akan dihitung oleh Allāh ﷻ. Tidak akan ada di sana sesuatu yang ditinggalkan oleh Allāh ﷻ.
Di antara hal yang bisa memberatkan amalan seseorang—selain kalimat at-Tauḥīd atau asy-Syahādatain—maka di antaranya adalah akhlak. Akhlak yang mulia, ini termasuk di antara yang akan memberatkan amalan seseorang di Hari Kiamat.
Oleh karena itu, seseorang—selain dia menjaga hubungan yang baik dengan Allāh ﷻ, dengan menjaga Lā ilāha illallāh, dan juga mengikuti Nabi yang telah diutus kepadanya—maka dia diharuskan juga untuk menjaga akhlaknya kepada sesama manusia. Karena ini juga termasuk hal yang akan memberatkan timbangan seseorang di Hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam Hadits.
Dan akhlak kepada manusia masuk di dalamnya akhlak dengan keluarga kita sendiri, akhlak dengan orang tua, akhlak dengan tetangga, akhlak dengan teman. Maka perbaiki akhlak kita, supaya kita juga mendapatkan beratnya timbangan amal di akhirat kelak.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

