Halaqah 146 | Beriman Dengan Shirath

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-146 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan rahimahullāh

وَالصِّرَاطِ وَالمِيزَانِ

Demikian pula kita beriman dengan adanya aṣ-ṣirāṭ, yaitu jembatan yang dipasang di atas Jahannam, yang disebutkan dalam ḥadīts bahwasannya lebih tajam daripada pedang dan lebih kecil daripada rambut, sebagaimana diucapkan oleh Abū Saʿīd al-Khudrī. Dan tentunya ucapan yang seperti ini tidak mungkin keluar dari ucapan seorang ṣaḥabat, pasti ini pernah beliau dengar dari Nabi ﷺ. Kita beriman dengan adanya aṣ-ṣirāṭ.

Dan manusia di atas jembatan aṣ-ṣirāṭ, yang dimaksud dengan manusia di sini adalah orang-orang yang beriman di antara mereka baik orang-orang yang beriman yang merupakan umatnya Rasūlullāh ﷺ maupun orang-orang yang beriman dengan para Nabi sebelumnya. Mereka lah yang akan melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ.

Adapun orang-orang yang kāfir dan juga orang-orang yang munāfiq maka mereka sudah dipisahkan sebelumnya dan sudah masuk ke dalam Neraka, sebagaimana ini kita pahami dari ḥadīts-ḥadīts yang telah datang dari Nabi ﷺ. Karena sebelum jembatan ṣirāṭ, orang-orang musyrikīn sudah mengikuti sesembahan-sesembahan mereka masuk ke dalam Neraka, dan orang-orang Yahūd mereka mengikuti syaitannya ʿUzair dan masuk ke dalam Neraka, dan orang-orang Naṣrānī mengikuti syaitannya Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām dan masuk ke dalam Neraka.

Kemudian orang-orang munāfiqīn juga akan dipisahkan oleh Allāh ﷻ dan dijauhkan mereka dari orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beriman diberikan oleh Allāh ﷻ cahaya sehingga terus mereka berjalan, sementara orang-orang munāfiqīn mereka tidak memiliki cahaya sehingga mereka pun tidak bisa berjalan dan dipisahkan dengan pagar sebagaimana disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam QS. Al-Ḥadīd.

Tinggallah orang-orang yang beriman, mereka yang akan melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ ini. Mereka melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ, yaitu orang-orang yang beriman sesuai dengan kadar amalan mereka. Ada di antara mereka yang sangat cepat menyeberangi jembatan aṣ-ṣirāṭ seperti kilat yang menyambar, ada di antara mereka yang melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ seperti angin, ada yang melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ seperti kuda yang kencang, ada yang melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ seperti unta, ada yang berlari, ada yang berjalan, bahkan ada di antara mereka yang melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ dalam keadaan menyeret dirinya.

Dan ini semua tergantung dari iman dan juga amalannya di dunia. Tidak akan ada yang Allāh ﷻ lalaikan, semuanya akan dilihat. Akan dibedakan antara orang yang beriman dan kuat keimanannya dengan orang yang lemah keimanannya. Akan dibedakan antara orang yang senang beramal ṣāliḥ dan orang yang bermalas-malasan di dalam beramal ṣāliḥ. Akan ada bedanya di sini.

Apakah orang-orang yang melakukan kejelekan, berbuat dosa, menyangka bahwasannya Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beramal ṣāliḥ? Sama antara kehidupan mereka dan kematian mereka? Orang yang kuat di dalam menjaga agamanya, maka Allāh ﷻ akan kuatkan ketika berada di atas jembatan aṣ-ṣirāṭ. Dan betapa butuhnya seseorang saat itu untuk dikuatkan oleh Allāh ﷻ.

Bayangkan jembatan yang panjang, karena Jahannam ini bukan makhluk yang kecil. Ini bukan jembatan yang seperti di daerah kita, atau Jembatan Suramadu, atau jembatan yang lain yang panjang. Bahkan ini adalah jembatan yang lebih panjang dan sangat panjang daripada itu. Tidak ada bandingannya dengan jembatan-jembatan yang ada di dunia sepanjang apa pun.

Dan jembatan tersebut adalah jembatan yang sangat kecil, bukan jembatan yang lebar yang dengan nyamannya kita lalui. Itu adalah jembatan yang sangat kecil, bahkan tidak bisa kita lihat dengan mata biasa kalau di dunia. Itu lebih kecil daripada rambut. Seandainya kita punya rambut, kita pasang, kita taruh 1 meter atau 2 meter di depan kita, kita tidak akan melihat. Itu lebih kecil daripada rambut jembatannya.

Dan ternyata, dia bukan hanya sekadar makhluk yang sangat kecil, tapi dia juga memiliki ketajaman. Dan ketajamannya lebih tajam daripada pedang. Datangkan pedang yang paling tajam di dunia, maka aṣ-ṣirāṭ saat itu adalah lebih tajam daripada pedang. Ditambah lagi, di bawahnya, ini adalah adzab yang menunggu, api yang menyala, yang jaraknya bukan 1 atau kedalamannya bukan 1 atau 2 meter dari jembatan tersebut. Jarak yang sangat dalam.

Disebutkan oleh Nabi ﷺ ketika bersama para ṣaḥabatnya, dan terdengar suara yang keras. Nabi mengatakan: “Tahukah kalian suara apa ini?” Mereka mengatakan:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Kemudian Nabi ﷺ mengatakan: “Ini adalah ḥajar (batu) yang telah dilemparkan 70 tahun yang lalu dari atas Neraka, dan sekarang baru sampai ke dasar Neraka.” 70 tahun baru sampai ke dasar Neraka.

Sehingga, melewati jembatan ṣirāṭ ini juga termasuk detik-detik di mana seseorang tidak memikirkan kecuali dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa selamat dalam menyeberangi jembatan yang sangat panjang ini, yang sangat kecil ini, yang sangat tajam ini. Yang kalau sampai ia terpeleset sedikit saja, maka Allāhul-mustaʿān, maka akan masuk ke dalam adzab yang pedih.

Ditambah lagi, disebutkan oleh Nabi ﷺ, bahwasanya di sekitar jembatan ṣirāṭ ini ada kalālib — besi-besi pengait, duri — yang dipasang oleh Allāh ﷻ, menyambar-nyambar di sekitar jembatan tersebut, akan mengenai orang yang memang diperintahkan oleh Allāh untuk dikenakan. Ini tentunya menambah sulit perkara.

Tapi Allāh ﷻ akan menguatkan sebagian orang saat itu, yaitu orang-orang yang kuat di dalam memegang agamanya selama di dunia. Sehingga, sesuai dengan berpegang teguhnya kita di dunia ini terhadap agama kita, maka demikianlah Allāh ﷻ akan menguatkan seseorang di atas jembatan ṣirāṭ.

Masing-masing mempersiapkan untuk dirinya. Kalau dia beramal ṣāliḥ, maka dirinya sendiri yang akan merasakan.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا

Barang siapa yang mengamalkan amalan yang ṣāliḥ, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Dan kalau dia berbuat jelek, maka yang akan merasakan adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. (QS. Al-Jātsiyah: 15)

Apakah semuanya akan melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ, termasuk di antaranya adalah para Nabi? Na’am, semuanya akan melewati jembatan ini, termasuk di antaranya adalah para Nabi dan juga Rasul. Namun, mereka berbeda-beda dalam melewati jembatan ini. Kalau Nabi dan juga para Rasul, tentunya mereka adalah orang yang pertama dan orang yang tercepat dalam melewati jembatan ṣirāṭ. Kemudian yang setelahnya adalah orang-orang yang beriman.

Ada di antara mereka yang sampai ke sana dalam keadaan lancar, dalam keadaan mulus, tidak ada gangguan sedikitpun. Kemudian ada di antara mereka yang sampai ke seberang sana tapi dalam keadaan sudah terkoyak badannya dengan sambaran, tapi dia selamat, tidak masuk ke dalam Neraka. Dan ada di antara mereka yang tersambar sehingga akhirnya terjatuh ke dalam Neraka.

Semuanya ini, tiga golongan ini, adalah orang-orang yang beriman. Cuma ada di antara mereka yang dikehendaki oleh Allāh untuk diazab terlebih dahulu di dalam Neraka. Kemudian setelah itu Allāh akan mengeluarkan mereka dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, baik dengan syafaat orang yang memberikan syafaat atau dengan raḥmat dari Allāh ﷻ.

Di dalam sebuah ayat, Allāh ﷻ mengatakan:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا، ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

(QS. Maryam: 71–72)

Dan tidak ada diantara kalian kecuali dia akan melewatinya (Neraka), menunjukkan bahwa semuanya, termasuk di antaranya adalah para Nabi dan juga para Rasul.

Yang demikian adalah sebuah ketetapan yang sudah Allāh ﷻ wajibkan / tentukan.

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim didalamnya dalam keadaan mereka bersimpuh.

Ini menunjukkan bahwa masing-masing dari orang yang beriman akan melewati jembatan aṣ-ṣirāṭ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top