Halaqah 148 | Surga dan Neraka Sudah Diciptakan dan Tidak Akan Hancur

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-148 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَالجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوقَتَانِ

Dan di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal-Jamāʿah tentang hal yang berkaitan dengan hari akhir adalah meyakini bahwasanya Surga dan Neraka itu sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ.

Itu makna dari makhlūqatan, yaitu sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ. Bukan hanya sekadar Surga dan Neraka adalah ciptaan Allāh ﷻ—itu semuanya insyāʾ Allāh ﷻ mengatakan demikian, sampai Muʿtazilah juga mengatakan bahwa Surga dan Neraka diciptakan oleh Allāh ﷻ. Itu bukan Khāliq, tapi itu adalah makhlūq. Tapi lebih dari itu: sudah diciptakan—ini yang membedakan antara Ahlus Sunnah dengan Muʿtazilah. Karena Muʿtazilah mengatakan Surga dan Neraka sekarang belum diciptakan, tapi baru akan diciptakan kelak. Itu ucapan mereka.

Adapun Ahlus Sunnah, seperti yang dijemputkan oleh muʾallif di sini, bahwasanya Surga dan Neraka ini sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ. Dalam sebuah ayat, Allāh ﷻ mengatakan ketika menyebutkan tentang Surga dan perintah kepada kita supaya kita bersegera untuk menuju Surga dan supaya kita bersegera untuk meminta ampun kepada Allāh ﷻ, kemudian Allāh ﷻ mengatakan:

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Disediakan Surga itu untuk orang-orang yang bertakwa.

Uʿiddat ini fiʿil māḍī, artinya “sudah disediakan”—sudah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, artinya sudah disediakan berarti dia sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ. Sudah disediakan dan sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ sekarang untuk orang-orang yang bertakwa.

Orang-orang Muʿtazilah mengatakan: “Untuk apa diciptakan sekarang kalau tidak ditempati? Bukankah ini adalah sesuatu yang sia-sia, Allāh ﷻ melakukan sesuatu yang sia-sia?” Kita katakan: siapa yang mengatakan sia-sia? Dengan sudah diciptakannya Surga sekarang ini maka ini menjadi pendorong tersendiri, pemotivasi tersendiri bagi orang-orang yang beriman untuk istiqāmah di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ dan istiqāmah untuk terus beramal shāliḥ dan beriman sampai mereka meninggal dunia. Bukan sia-sia apa yang dilakukan oleh Allāh ﷻ ketika Allāh ﷻ mengatakan:

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, menunjukkan bahwasanya Surga sudah ada.

Dan sekali lagi, ini menjadi pendorong tersendiri bagi seorang Muslim untuk berlomba dalam memasuki Surga tersebut dan bersegera untuk melakukan amalan yang bisa menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam Surga-Nya Allāh ﷻ.

Demikian pula Neraka. Allāh ﷻ mengatakan dalam ayat yang lain:

أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Neraka itu disediakan bagi orang-orang yang kafir.

Artinya sudah ada. Dan hikmahnya juga sama, yaitu untuk takhwīf, yaitu menakut-nakuti setiap orang yang membangkang dan tidak taat kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Neraka ini sudah tersedia, sudah diciptakan. Ini bukan sesuatu yang sia-sia diciptakan oleh Allāh ﷻ.

Dalam Hadits yang kita sebutkan, yaitu suara batu yang keras yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ—ini adalah suara batu yang telah dilemparkan dari mulut Jahannam dan dia baru sampai sekarang ke dasar Jahannam. Ini menunjukkan bahwasanya Neraka sudah ada.

Ketika Nabi ﷺ dimiʿrājkan oleh Allāh ﷻ, diperlihatkan Surga, diperlihatkan Neraka—ini menunjukkan bahwasanya Surga dan Neraka ini sudah ada.

Demikian pula dalam Hadits yang lain, ketika Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Jahannam ini memiliki dua nafas: nafasun fis-syitāʾ dan nafasun fis-shayf—nafas di musim dingin dan nafas di musim panas. Nafas di musim dingin, inilah yang kita rasakan sebagai dingin yang sangat di musim dingin. Dan panas yang sangat yang kita rasakan di musim panas, inilah nafas Jahannam di musim panas. Dan ini menunjukkan bahwasanya Jahannam ini sudah ada.

Oleh karena itu Ahlus Sunnah sekali lagi meyakini bahwa Surga dan Neraka ini sudah ada, sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ.

لَا تَفْنَيَانِ أَبَدًا وَلَا تَبِيدَانِ

Keduanya tidak akan fanā, keduanya tidak akan hancur, tidak akan rusak selamanya.

Sehingga dalam ayat, Allāh ﷻ mengatakan:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh, orang-orang yang kafir dari kalangan Ahlul Kitāb maupun dari kalangan orang-orang musyrik, mereka berada di dalam Jahannam, kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah: 6)

Kalau orang-orangnya kekal di dalamnya, menunjukkan bahwasanya Neraka kekal, tidak akan hancur selamanya.

Demikian pula ketika Allāh ﷻ menyebutkan tentang orang-orang yang beriman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (٧) جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shāliḥ, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan bagi mereka di sisi Rabb mereka adalah Surga ʿAdn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allāh ﷻ ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya. (QS. Al-Bayyinah: 7–8)

Balasan bagi mereka adalah Surga ʿAdn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya di dalamnya . Kekalnya penduduk Surga menunjukkan tentang kekekalan Surga itu sendiri. Bagaimana mungkin penduduknya dalam keadaan kekal, kemudian Surganya hancur? Ketika Allāh ﷻ mengabarkan bahwa penduduk Surga kekal selamanya di dalamnya, menunjukkan bahwasanya Surga akan dikekalkan oleh Allāh ﷻ.

Dan ayat-ayat yang semakna, khālidīna fīhā ini banyak sekali dalam Al-Qur’an, dan ini menunjukkan bahwasanya Surga dan Neraka ini adalah kekal, sebagaimana ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal-Jamāʿah.

وَلَا تَبِيدَانِ

Dan keduanya tidak akan hancur.

Ini menguatkan. Lā tafnayān wa lā tabīdān ini hampir sama maknanya: tidak akan fanā dan tidak akan hancur.

Dan kekekalan Surga ini adalah tambahan kenikmatan bagi orang-orang yang telah memasukinya. Kalau kita di dunia, terkadang merasakan kenikmatan, cuma masih ada kekhawatiran: “Berapa lama aku bisa menikmati rumahku ini? Berapa lama aku bisa menikmati mobilku ini?” Dia tahu bahwasanya tidak akan selamanya. Tapi di dalam Surga, Allāh ﷻ akan menafikan itu semua. Mereka di dalam Surga selamanya merasakan kenikmatan yang luar biasa tadi—selamanya dan tidak akan ada putusnya.

Dan masing-masing dari kita tahu makna “selamanya.” Selamanya: tidak ada putusnya. Terus dan tidak ada putusnya sama sekali. Mereka tidak akan keluar dari Surga. Ini adalah kenikmatan yang sangat besar.

Makanya dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ mengabarkan bahwa akhirat itu:

خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-Aʿlā: 17)

Dari sisi kualitasnya, kenikmatan di akhirat jauh lebih besar daripada kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang di dunia. Dari sisi kekekalannya, maka akhirat lebih kekal daripada kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang di dunia.

Oleh karena itu, seseorang tentunya memendahulukan kenikmatan yang lebih baik dan lebih kekal daripada dia mendahulukan kenikmatan yang lebih jelek dan lebih sementara, kemudian dia meninggalkan kenikmatan yang lebih kekal dan lebih baik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top