Halaqah 145 | Beriman Dengan Pembacaan Kitab Amalan, Pahala, dan Dosa

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-145 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan rahimahullāh

وَقِرَاءَةِ الكِتَابِ

Dan kita Ahlus-Sunnah beriman dengan qirā`ati al-kitāb, beriman dengan pembacaan kitab, yaitu masing-masing kita akan membaca kitabnya,

ٱقْرَأْ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ ٱلْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Bacalah kitabmu! Maka cukuplah pada hari ini dirimu sendiri yang menjadi penghitung atas dirimu. (QS. Al-Isrā`: 14)

Allāh ﷻ mengatakan kepadanya, iqra` kitābaka, dan bacalah sendiri kitabmu supaya tegak hujjah atasmu, tidak ada yang disembunyikan.

Bukan hanya engkau mendengar, tapi engkau membaca sendiri kitabmu yang berisi tentang catatan amalanmu di dunia.

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقْرَءُوا۟ كِتَٰبِيَهْ، إِنِّى ظَنَنتُ أَنِّى مُلَٰقٍ حِسَابِيَهْ، فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ، فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ

Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia berkata: “Ambillah dan bacalah kitabku ini!” Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui hisabku. Maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai, di Surga yang tinggi. (QS. Al-Ḥāqqah: 19–22)

Maka adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, berarti mengambil kitabnya dengan tangan yang baik. Maka dia akan mengatakan: umuqraū kitābiyah, “Ayo, kalian baca kitabku ini.”

Karena dia dahulu mengisi kitabnya selama di dunia dengan amalan-amalan yang shāliḥ. Dia bangga dan gembira dan bahagia dengan isi kitabnya tersebut. Karena isi kitabnya: menghadiri majelis ilmu, berdzikir, shalat berjamaah, shalat malam, berpuasa, berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga, berdakwah, mengucapkan ucapan yang baik. Itu isi kitabnya.

Maka dia pun mengatakan, “Silakan kalian baca kitabnya.” Aku dahulu yakin bahwasannya aku akan bertemu dengan hisabku ini, yaitu aku di dunia, beriman bahwasanya aku akan bertemu dengan Allāh ﷻ, aku akan mati, aku akan dihisab dan akan dihitung, maka aku pun beramal shalih. Berarti niat dia dahulu dalam beramal shāliḥ karena yakin dengan adanya hari akhir, sehingga dia pun bisa melihat hasilnya. Rapor-nya adalah rapor yang membahagiakan.

Maka orang yang demikian, dia dalam kehidupan yang meridhākan, yaitu di dalam Surganya Allāh ﷻ. Dia mendapatkan kitabnya dengan tangan kanannya dan bergembira, maka dia pun akan hidup dalam kehidupan yang meridhākan.

Pasti dia puas di dalam kehidupan tadi. Di mana? Di jannatin ʿāliyyah, di dalam Surga yang tinggi. Dia bersabar di dunia, mengekang hawa nafsunya, mengisi hari-harinya dengan amal shāliḥ, sehingga dia dapatkan kitabnya membahagiakan dan menggembirakan.

قُطُوفُهَا دَانِيَةٞ ٢٣

كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓ‍َٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ ٢٤

Buah-buahnya adalah sangat dekat, yaitu dengan mudah dia mengambil buah-buahan yang ada di dalam Surga tanpa kesusahan sedikit pun. Berbeda dengan buah-buahan yang ada di dunia, terkadang seseorang harus naik pohon. Kesusahan mereka dalam mengambil buah-buahan yang ada di dunia.

كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًۭٔا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ

Makan dan minumlah sekarang dengan nyaman, disebabkan apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. (QS. Al-Ḥāqqah: 24)

Yaitu di dunia. Karena amal shāliḥ yang dilakukan oleh seseorang di umurnya, di masa kehidupannya, itulah yang menjadi sebab dia mendapatkan kenikmatan tersebut. Silakan kalian makan dan minum dengan nyaman. Tidak ada kekhawatiran untuk habis. Tidak ada kekhawatiran untuk keluar dari Surga setelah itu. Ini adalah kenikmatan yang abadi, dengan sebab amalan yang kalian lakukan di dunia.

Kemudian setelahnya Allāh ﷻ mengatakan,

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُوتَ كِتَٰبِيَهۡ ٢٥

Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kirinya, dan saat atau detik-detik seseorang akan mendapatkan kitab ini sesuatu yang sangat menegangkan bahkan disebutkan ini adalah masa detik-detik di mana seseorang tidak ingat kecuali dirinya sendiri.

Ana mengambil kitab dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri? Seorang tidak memikirkan kecuali dirinya sendiri, dia tidak memikirkan sampai orang tuanya, istrinya, anaknya, apakah saya mengambil kitab dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri?

Orang yang mengambil kitabnya dengan tangan kiri, maka bencana besar di depannya karena kitab yang diambil dengan tangan kiri, maka itu adalah kitab yang penuh dengan kemaksiatan, penuh dengan kekufuran. Oleh karena itu, dia mengatakan, seandainya aku tidak diberikan kitab ini, karena kitabnya berisi tentang dosa-dosanya di dunia. Melakukan kesyirikan, melakukan kebidʿahan, dan melakukan berbagai macam kemaksiatan. Lengkap isi hari-harinya dipenuhi dengan kedurhakaan dan kemaksiatan kepada Allāh ﷻ. Sehingga dia pun berangan-angan seandainya dia tidak mendapatkan kitab ini.

وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ ٢٦

Dan aku tidak tahu tentang hisab.

Melupakan hisab, menyampingkan yaumul hisab, yang penting sekarang saya bisa menikmati, yang penting sekarang saya hidup. Masalah urusan Akhirat, masalah urusan hari Kiamat, itu nanti urusannya. Yang penting saya sekarang bahagia, saya sekarang bisa menikmati kehidupan ini.

Aku tidak tahu tentang hisabku. Padahal sudah diingatkan. Padahal sudah tahu bahwasanya kelak ada hari Kiamat, kelak ada hari kebangkitan. Tapi itu yang dilakukan. Melupakan hari Kiamat, melupakan hisab. Dia disiksa.

يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ ٢٧

Seandainya siksaan ini adalah al-qāḍiyah.

Yaitu siksaan Neraka ini, dia berangan-angan, karena sangat besar dan sangat pedih adzab yang dia rasakan, dia berharap seandainya adzab yang besar ini menjadi akhir dari segalanya, yaitu dia meninggal dunia dengan sebab adzab ini. Itu angan-angan dia. Tapi itu hanya sekadar angan-angan belaka. Orang tersebut di Akhirat akan kekal selama-lamanya di dalam Neraka.

Sebesar apa pun adzab dan sepedih apa pun adzab yang dia rasakan di Neraka, maka itu tidak akan menjadikan dia meninggal dunia.

لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى

Dia tidak meninggal di dalamnya dan juga tidak hidup. (QS. Al-Aʿlā: 13)

Yaitu tidak meninggal dunia dengan sebab adzab yang ada di Neraka, bagaimana pun besar adzab yang ada dalam Neraka, dan dia tidak dalam keadaan hidup, yaitu hidup yang normal seperti biasanya.

Tentunya ini adalah siksaan yang pedih, seseorang merasakan terus sakitnya. Kalau orang di dunia disiksa, maka dengan cepat dia akan segera lepas dari rasa dari siksaan tersebut. Orang yang dipenggal misalnya, sebentar saja dia merasakan sakitnya, kemudian dia setelah itu meninggal dunia.

Ini yang diinginkan oleh orang-orang kāfir saat itu, dan itu tidak akan mungkin, karena Allāh ﷻ telah menetapkan mereka dalam keadaan hidup dan tidak akan meninggal dunia di Neraka, dan terus dalam keadaan disiksa.

يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ ٢٧

Seandainya Neraka tersebut adalah yang menyelesaikan segalanya.

مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّي مَالِيَهۡۜ ٢٨

Tidak bermanfaat bagiku hartaku.

Disiksa di dalam Neraka dan ternyata tidak bermanfaat baginya harta dia yang selama ini dia kumpulkan siang dan juga malam, yang selama ini dia banggakan banyaknya, ternyata saat itu tidak bermanfaat sedikit pun.

هَلَكَ عَنِّي سُلۡطَٰنِيَهۡ ٢٩

Demikian pula kekuasaan dia, ini tidak bermanfaat bagi dia. Tidak ada di sana penolongnya, tentaranya, pasukannya, anak buahnya, tidak ada yang menolongnya. Dan seterusnya Allāh ﷻ mengatakan,

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ٣٠

ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ ٣١

Syahidnya di sini, bahwasanya kelak di hari Kiamat akan ada qirā’atu al-kitāb, di sana ada pembacaan kitab.

Kemudian beliau mengatakan

وَالثَّوَابِ وَالعِقَابِ

Kita juga beriman dengan aṡ-ṡawābi wa al-ʿiqāb, yaitu adanya pahala dan juga adanya siksaan.

Pahala termasuk di antaranya adalah Surga, dan ʿiqāb di antaranya adalah Neraka. Maka ini jelas bahwa di Akhirat kelak akan ada ṡawāb, akan ada pahala bagi orang-orang yang melakukan amal shāliḥ, dan akan ada ʿiqāb, akan ada balasan, siksaan, bagi orang yang melakukan kejelekan di dunia dan tidak diampuni oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top