Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-89 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan rahimahullāh:
وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ
‘Arsy dan juga Kursiy ini adalah benar adanya, dan keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ yang disebutkan oleh Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’ān, dan juga disebutkan tentang sebagian sifatnya di dalam dalil. Maka kita katakan bahwa ‘Arsy dan Kursi itu adalah benar. Jangan kita ingkari meskipun mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Selama itu dikabarkan oleh Allāh ﷻ atau dikabarkan oleh Nabi ﷺ, maka harus kita imani.
Al-‘Arsy ini adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, makhluk Allāh ﷻ yang paling tinggi, makhluk Allāh ﷻ yang pertama kali diciptakan oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy, dan Kursi Allāh ﷻ sebagaimana dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās, ini adalah mawḍi’u qadamihi, yaitu tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Tentunya Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā tidak mengatakan yang demikian kecuali pernah mendengar itu dari Nabi ﷺ, karena hal yang seperti ini tidak mungkin dari ijtihad seorang sahabat. Pasti dia pernah mendengarnya dari Nabi ﷺ.
Disebutkan bahwa Kursi ini adalah makhluk. Ada sebuah hadits di mana Nabi ﷺ mengatakan:
إِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي النِّسْبَةِ إِلَى الْكُرْسِيِّ كَسَبْعِ دَرَاهِمَ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ
“Sesungguhnya langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi Allāh itu seperti tujuh dirham (koin) yang dilemparkan ke tameng.”
Tameng di sini adalah seperti perisai besar yang digunakan oleh seseorang yang berperang untuk melindungi dirinya. Tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tersebut merupakan permisalan tujuh langit dibandingkan dengan Kursi Allāh ﷻ. Lihatlah bagaimana perbandingan antara tujuh koin dirham tadi dengan tameng, yang tentunya jauh lebih besar daripada koin tadi.
Padahal, kalau kita melihat langit yang pertama saja, kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Ketika kita melihat cerita para ahli tentang bagaimana besarnya bumi, ternyata di sana ada planet yang lebih besar, dan matahari berlipat-lipat lebih besar daripada bumi. Kita membayangkan betapa besarnya matahari, ternyata di sana ada yang lebih besar daripada matahari dan jauh lebih besar daripada matahari, berjutaan kali lipat lebih besar dari matahari.
Ternyata kita berada di satu galaksi, yaitu kumpulan bintang-bintang yang besar yang jumlahnya jutaan bintang, dan di sana banyak bintang yang lebih besar daripada matahari. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya galaksi Bima Sakti, di mana keberadaan kita berada, dan ternyata di alam semesta ini ada jutaan atau miliaran galaksi-galaksi yang merupakan kumpulan dari bintang-bintang. Galaksi Bima Sakti adalah salah satu di antara galaksi-galaksi tersebut. Itu semuanya berada di bawah langit yang pertama. Baru langit yang pertama, demikian besarnya.
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang ketebalan langit. Ternyata langit bukan sesuatu yang tipis, tetapi dia adalah sesuatu yang tebal. Dari bawah sampai atas, itu membutuhkan 500 tahun perjalanan untuk sampai dari bawah ke atas. Kemudian, untuk mencapai langit yang berikutnya juga membutuhkan 500 tahun perjalanan. Dari langit yang pertama sampai langit yang kedua, jika langit yang pertama kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya, lalu bagaimana dengan langit yang kedua, yang jauh lebih besar daripada langit yang pertama. Dan dia juga memiliki ketebalan yang sama. Antara langit yang kedua dengan lainnya juga demikian, lalu bagaimana dengan langit yang ketujuh? Allāhu Akbar. Maka tentunya ini adalah makhluk yang sangat besar.
Tujuh langit ini dibandingkan dengan Kursi Allāh, maka ini seperti tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tadi. Berarti, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kursi Allāh. Kursi Allāh jauh lebih besar. Bahkan disebutkan dalam hadits yang lain, itu seperti tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Subḥānallāh, ini menunjukkan betapa besarnya Kursi Allāh. Sehingga Allāh ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’ān:
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
(QS. Al-Baqarah: 255)
Kursi Allāh ini meluas meliputi langit dan bumi, jauh lebih besar daripada langit dan bumi. Maka kita harus beriman dengan adanya Kursi ini. Diriwayatkan, dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās bahwa
مَوْضِعُ قَدَمَيْ الرَّحْمٰنِ
itu adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Kita tetapkan kaki Allāh ﷻ sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan kaki makhluk. Dan kita tetapkan Kursi bahwasanya di sana ada makhluk Allāh yang dinamakan dengan Kursi.
Al-‘Arsy juga demikian. Al-‘Arsy ini jauh lebih besar daripada Kursi Allāh. Kalau tadi kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya Kursi Allāh, maka bagaimana dengan ‘Arsy? Disebutkan dalam hadits, perbandingan antara Kursi dengan ‘Arsy Allāh itu seperti cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Bagaimana seseorang bisa membayangkan tentang besarnya ‘Arsy Allāh? Dia adalah
الْعَرْشِ الْمَجِيدِ
‘Arsy yang sangat agung dan sangat besar. Dia adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy.
Jika itu adalah benar ciptaan Allāh ﷻ, maka bagaimana dengan yang menciptakan? Allāh ﷻ lah yang Maha Besar. Bagaimana seseorang bisa sombong dan tidak mau beribadah kepada Allāh ﷻ? Dia adalah makhluk yang sangat kecil. Seseorang seharusnya bersyukur bahwa Allāh ﷻ yang Maha Besar, demikian Maha Besarnya Allāh, namun Allāh ﷻ memperhatikan kita yang sangat kecil. Allāh ﷻ memberikan kita rezeki dan kenikmatan oleh Allāh ﷻ yang Maha Besar, yang Maha Rahmān, yang sangat memperhatikan setiap hamba-Nya.
وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ، كَمَا بَيَّنَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ
‘Arsy dan Kursiy ini adalah benar adanya sebagaimana Allāh ﷻ menerangkan di dalam Al-Qur’ān,
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
dan banyak di dalam Al-Qur’ān Allāh ﷻ menyebutkan tentang ‘Arsy. Allāh ﷻ berfirman:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
“Kemudian Allāh ﷻ beristiwa’ di atas ‘Arsy.”
(QS. Al-A’rāf: 54)
Dan Allāh ﷻ berfirman:
وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء
“Dan ‘Arsy Allāh ﷻ adalah berada di atas air.”
(QS. Hūd: 7)
Dan firman Allāh ﷻ:
وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Dan Dia-lah Allāh ﷻ, Rabb bagi ‘Arsy yang sangat besar.”
(QS. At-Tawbah: 129)
Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy dengan beberapa sifat, di antaranya adalah kebesaran. Bahwasanya ‘Arsy ini sangat besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atasnya, dan bahwasanya Allāh ﷻ adalah Rabb bagi ‘Arsy. Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy ini dengan al-Karīm, sebagaimana firman Allāh:
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Maka Maha Tinggi Allāh, Raja yang sebenar-benarnya. Tidak ada ilah selain Dia, Rabb bagi ‘Arsy yang mulia.”
(QS. Al-Mu’minūn: 116)
Maka, apa yang datang di dalam Al-Qur’ān berupa kabar-kabar tentang ‘Arsy, harus kita imani.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

