Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan rahimahullāh:
فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًا
Maka celaka binasa orang yang di dalam masalah takdir dia menjadi orang yang membantah Allāh.
Celaka orang yang membantah Allāh dalam masalah takdir seperti yang sudah berlalu. Dia mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ mengatakan demikian? Kenapa Allāh mentakdirkan seperti ini? Kenapa Allāh ﷻ seperti ini?
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Allāh tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, merekalah yang akan ditanya.”
Kalau dia masih bertanya seperti itu dan dia membantah Allāh ﷻ dengan mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian? Kenapa Allāh menyesatkan si fulan? Kenapa Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada si Fulan. Orang yang demikian celaka, binasa, karena Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.
Kewajiban seorang hamba hanyalah meyakini bahwa Allāh ﷻ tidak melakukan semua ini kecuali dengan hikmah. Allāh ﷻ tidak mungkin bertindak zalim. Itu yang harus ada di dalam hati seseorang. Pasti dalam apa yang Allāh ﷻ lakukan, apapun itu, pasti ada hikmahnya. Allāh ﷻ tentunya tidak sama dengan makhluk. Allāh ﷻ melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Di antara nama Allāh ﷻ adalah al-Ḥakīm.
Seseorang mendapatkan hidayah karena memang dia berhak untuk mendapatkan hidayah. Seseorang sesat karena dia memang berhak untuk mendapatkan kesesatan tersebut. Mungkin kita yang belum memahami, tapi Allāh ﷻ tidak melakukan itu kecuali dengan hikmah. Tidak mungkin Allāh ﷻ berbuat zalim. Allāh ﷻ memberikan hidayah itu adalah karunia-Nya, dan Allāh ﷻ menyesatkan itu adalah keadilan dari Allāh ﷻ. Maka
فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًا
celaka orang yang membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir.
Berimanlah dengan takdir, pasrahlah dengan apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan. Dan pasrah di sini bukan berarti seseorang tidak mengambil sebab, tapi seseorang menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Orang yang mengambil sebab itu bukan berarti dia membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan.
Membantah itu seperti orang yang mengatakan tadi, “Kenapa Allāh?” Itu membantah. Namun, kalau seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, dan dia menyadari bahwa Allāh ﷻ memerintahkan dia untuk mencari rezeki, memerintahkan dia untuk beramal shalih, kemudian dia beramal shalih, maka ini bukan berarti dia menentang takdir Allāh ﷻ. Sudah berlalu bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia ditakdirkan untuknya.
وأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيِهِ قَلْبًا سَقِيمًا
Celaka orang yang ketika memikirkan takdir, dia mendatangkan hati yang rusak, hati yang berpenyakit, hati yang berprasangka buruk kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh zalim, Allāh ﷻ tidak adil, dan seterusnya. Dia memahami takdir dengan hati yang rusak. Maka, celaka orang yang demikian, yaitu memikirkan dan beriman kepada takdir Allāh ﷻ, tetapi dengan hati yang rusak.
لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًا
Orang yang memikirkan tentang masalah takdir dengan hati yang rusak, kalau hatinya bersih, maka dia akan memikirkan takdir Allāh ﷻ sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ gariskan. Itulah hati yang bersih. Husnudzhan, beriman bahwa semuanya sudah ditentukan, dan dia menyadari bahwasanya kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kalau terjadi sesuatu maka tidak boleh kita menggerutu dan mengatakan
قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
Ini hati yang bersih, tetapi kalau hati yang kotor tidak demikian. Di dalamnya penuh dengan su’udzon kepada Allāh.
لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًا
Sungguh, orang yang membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan, dia telah mencari-cari dengan persangkaannya dalam membongkar perkara yang ghaib rahasia Allāh yang tersembunyi.
Bagaimana seseorang bisa membongkar apa yang Allāh ﷻ rahasiakan? Makhluk yang lemah, bagaimana dia bisa membongkar rahasia yang Allāh ﷻ sembunyikan? Karena sebagaimana telah berlalu, takdir ini adalah
ini adalah rahasia Allāh ﷻ yang ada pada diri makhluk-makhluk-Nya. Tidak mungkin kita bisa membongkar apa yang sudah Allāh ﷻ rahasiakan. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ pada makhluk-makhluk-Nya. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha mengambil sebab sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan.
وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًا
Orang yang berusaha memahami takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, beriman dengan takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, pasti dia akan kembali sebagai pendusta, dan dia adalah orang yang berdosa.
Kalau seseorang memahami takdir Allāh ﷻ bukan dengan cara yang dibenarkan, maka dia adalah pendusta. Apa yang dia ucapkan itu adalah dusta, tidak sesuai dengan kenyataan.
Demikian pula dia akan berdosa dengan sebab apa yang dia lakukan, karena dia berusaha untuk membongkar rahasia Allāh ﷻ, rahasia Allāh ﷻ yang tidak mungkin dibongkar. Itu bukan ranahnya, tapi dia berusaha untuk membongkarnya, membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir-Nya.
Maka ini adalah paragraf penutup dari apa yang beliau sampaikan tentang masalah takdir. Beliau tutup dengan perkataan, “Celaka bagi orang yang menjadi pembantah terhadap Allāh ﷻ dalam takdir-Nya, dia memikirkan tentang takdir Allāh ﷻ dengan hati yang rusak, dengan hati yang berpenyakit.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

