Halaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-Nya

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan rahimahullāh:

وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِ

Dan beriman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah bentuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan juga Rubūbiyyah-Nya.

Ini termasuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan pengakuan kita terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Kenapa demikian? Karena meyakini bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, ini adalah termasuk bagian dari keimanan kita terhadap Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ).

Allāh ﷻ berkuasa untuk mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, Allāh ﷻ berkuasa untuk menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allāh ﷻ berkuasa untuk menjadikan segala sesuatu di permukaan bumi ini terjadi dengan Masīyyatullāh (kehendak Allāh ﷻ). Allāh ﷻ berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia inginkan.

Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ itu sama dengan beriman dengan Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ). Makanya sebagian salaf mengatakan, “Al-Qadru Qudratullāh” (Al-Qadr itu adalah kekuasaan Allāh ﷻ). Sehingga barangsiapa yang mengingkari Qadar, mengingkari takdir, maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan orang yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ keluar dari agama Islam.

Al-Qadr adalah Qudratullāh. Takdir adalah kekuasaan Allāh ﷻ. Barangsiapa yang mengingkari takdir Allāh ﷻ maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ maka dia telah keluar dari agama Islam. Sehingga beliau mengatakan

وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِ

beriman dengan takdir ini adalah pengakuan seorang hamba tentang keesaan Allāh ﷻ, pengakuan seorang hamba terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Karena di antara makna Rubūbiyyah adalah al-qudrah, yaitu Allāh ﷻ Maha Memiliki sifat al-qudrah, menguasai segala sesuatu. Itu di antara makna-makna Rubūbiyyah.

كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ

Sebagaimana Firman Allāh:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان: 2]

“Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Allāh mentakdirkan segala sesuatu dengan sebenar-benarnya.”

Ini ada keimanan terhadap takdir Allāh ﷻ dan keimanan bahwasanya segala sesuatu diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan takdir.

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا} [الأحزاب: 38]

Dan Allāh ﷻ berfirman: “Dan urusan Allāh ﷻ itu adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”

Semuanya adalah dengan takdir Allāh ﷻ. Ini menunjukkan bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini, itu bukan terjadi secara begitu saja, bukan terjadi tanpa aturan, bukan terjadi tanpa direncanakan, bukan terjadi tanpa diketahui oleh Allāh ﷻ. Itu semua sudah diketahui. Apa yang terjadi di permukaan bumi, apa saja, sekecil apapun itu, sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ semuanya, dan akan terjadi sebagaimana yang Allāh ﷻ tulis.

Dan ini bukan berarti bahwasanya seseorang kemudian dia tidak mengambil sebab. Ini sudah kita tekankan berkali-kali. Sebagaimana kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ, maka kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan. Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ dan kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Dua-duanya kita imani. Allāh ﷻ mentakdirkan rezeki dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan kita untuk memberi nafkah, untuk mencari rezeki, untuk bekerja.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ 

Apabila sudah selesai shalat Jum’at, maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi; dan carilah karunia Allāh ﷻ, bekerjalah, berdaganglah

وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan banyak-banyaklah mengingat Allāh ﷻ semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Dan Nabi ﷺ bersabda,

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلُهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

Sungguh salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar (di kebun atau di hutan), kemudian dia bawa satu ikat dari kayu bakar tadi ke pasar, kemudian dia jual, dia mendapatkan uang, itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia baik diberi ataupun tidak diberi.

Apa yang kita pahami dari ucapan Nabi ﷺ ini? adalah dorongan kita untuk bekerja. Jangan kita meminta-minta kepada manusia, meskipun meminta itu mungkin dikasih, dan mungkin dikasihnya lebih banyak daripada kita mencari kayu bakar, kemudian kita jual. Tapi yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah kita usaha sendiri, kita bekerja sendiri meskipun hanya sedikit yang kita dapatkan.

Para anbiya, mereka bekerja. Para nabi mereka bekerja, padahal siapa yang lebih kuat keimanannya terhadap takdir, kita atau mereka? Tentunya mereka. Tapi lihat, ada di antara mereka yang jadi tukang kayu, ada di antara mereka yang jadi penggembala. Nabi Mūsā ‘alayhis-salām, berapa tahun beliau menggembalakan untuk Shahibul  Madyan? Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat beriman dengan takdir Allāh ﷻ. Karena mereka tahu bahwasanya kita ini diperintahkan untuk melakukan dua perkara: beriman dengan takdir dan juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ.

Semua ini sudah ditulis tentang penduduk Surga dan juga penduduk Neraka. Kita iman yang demikian. Dan di dalam syariat kita diperintahkan untuk shalat, kita diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan, kita diperintahkan untuk beriman, kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Kita lakukan apa yang Allāh ﷻ perintahkan. Kita beriman bahwasanya penyakit dan kesembuhan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dan tidak mungkin dirubah, tapi di satu sisi kita disuruh untuk beriman dengan syariat Allāh ﷻ.

Kita diperintahkan untuk berobat.

يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، …، وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Wahai hamba-hamba Allāh, berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh.”

Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān bahwa madu ini adalah obat. Al-Qur’ān di dalamnya ada obat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa habbatus-sauda adalah obat. Tujuannya apa? Supaya kita berobat, supaya kita mengambil sebab. Masalah hasilnya, maka yang menentukan adalah Allāh ﷻ.

Kita diperintahkan untuk mengambil sebab, dan kita yakin semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ tidak sembuh, ya bagaimanapun kita mencari dokter yang hebat, kita mencari obat yang manjur dan seterusnya, tidak akan sembuh. Tapi kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kita diperintahkan untuk berdoa, kita diperintahkan untuk bersabar, dan seterusnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top