Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan rahimahullāh:
وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”
Amalan yang dianggap di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan.
Disebutkan dalam sebuah riwayat:
فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ
Dia mengamalkan amalan penduduk Surga sesuai dengan apa yang terlihat oleh manusia.
Dzhahirnya, dia melakukan amalan penduduk Surga. Bagaimana dengan batinnya? Batinnya, Allāh yang tahu. Jadi, dzhahirnya dia mungkin berpakaian Muslim, dzhahirnya dia pergi ke masjid, dzhahirnya dia berinfaq. Tapi Allāh mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.
Inilah yang menyebabkan dia tidak istiqāmah, mungkin ada riya’, mungkin ada kesombongan, dan Allāh ﷻ tidak bisa ditipu. Itulah yang menjadikan ketidakistiqāmahan, karena seseorang hanya memperhatikan amalan dzhahirnya saja, sementara di dalam hatinya menyimpan kebusukan, ketidakikhlasan. Ketika dia bersama orang lain, yang terlihat adalah kebaikan, amal shāliḥ, tapi ketika sendirian, dia melakukan kemaksiatan.
فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ
Sesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia.
Baik, tapi ketika sendirian, tanpa ada yang melihat, dia mengikuti hawa nafsunya. Ini yang menjadi sebab seseorang menyimpang. Sebelumnya berada di shaf terdepan dalam menuntut ilmu, tapi kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan sudah terdengar dia berada di barisan lain, bukan lagi di barisan Ahlussunnah, melainkan mengikuti Ahlul Bid’ah.
Berarti ucapan beliau
فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ
Sesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia, ini menunjukkan pentingnya menjaga batin kita. Beramal shāliḥ, menuntut ilmu, shalat, tapi jangan hanya memperhatikan dzhahir saja. Kita juga harus memperhatikan batin dan keikhlasan, agar Allāh ﷻ menjaga kita. Jika seseorang menjaga amalan shāliḥ baik yang dzhahir maupun yang batin, maka insyā Allāh dia akan terus diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ.
Dengan syarat apa? Dengan syarat menjaga dzhahir dan batin. Dia berusaha sebagai seorang Salafi, mengikuti salaf baik dzhahiran maupun bāṭinan, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Maka orang yang demikian, insyā Allāh, akan dijaga oleh Allāh ﷻ.
Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.
مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ
Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maksudnya adalah dzhahiran wa bāṭinan (dzhahir dan batin) dia hidup di atas Sunnah, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memuliakannya dengan mematikannya di atas Sunnah dan Islām. Ini bagi orang dzahir dan batinnya baik, makanya kita berusaha untuk memperbaiki batin kita.
وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ
Barang siapa yang meninggal di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atas sesuatu tersebut.
Ini bukan hadith, tapi ini adalah sesuatu yang sering kita dengar.
Dalam sebuah hadith, misalnya, orang yang meninggal dalam keadaan bertalbiyah, maka Allāh ﷻ akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah.
Jadi, jika seseorang ingin dibangkitkan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan baik, maka dia harus menjaga dzhahir dan batinnya. Jangan hanya memperhatikan dzhahir. Yang menyebabkan seseorang menyimpang adalah karena rusaknya batin.
Jika seseorang menjaga dzhahir dan batinnya, insyā Allāh, Allāh ﷻ akan menjaganya, sebagaimana dia hidup di atas ketaatan, maka dia juga akan meninggal di atas ketaatan.
وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…
Salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Neraka. Dia adalah seorang yang kafir, melakukan apa yang dia inginkan berupa perbuatan yang haram
حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ
Sehingga tidak ada antara dia dan Neraka kecuali satu jengkal saja, menunjukkan dekatnya dia dengan Neraka. Tinggal dia mati, maka dia akan masuk ke dalam Neraka karena dia berada di atas kekufuran.
فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ
Namun, telah ditulis oleh Allāh sebelumnya dalam Lauḥul Maḥfūẓ bahwa orang ini akan masuk ke dalam Surga, jika memang demikian, akan dimudahkan oleh Allāh.
فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Akhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk Surga. Entah bagaimana, dia masuk ke dalam agama Islām dan istiqāmah.
فَيَدْخُلُهَا
Lalu dia pun masuk ke dalam Surga.
Ada saja sebab kalau Allāh ﷻ menghendaki seseorang masuk ke dalam Surga, maka Allāh ﷻ akan menjadikan sebab-sebab sehingga dia pun masuk ke dalam agama Islām, istiqāmah, dan meninggal di atas agama Islām.
Hal ini menunjukkan bahwa Al-A’māl bil-Khawātim—amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena itu, jangan sampai seseorang tertipu dengan keadaan dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan menjadi akhir dari amalannya. Oleh karena itu, seseorang harus memperbanyak doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Yā Muqallibal-Qulūb, ṯsabbit qalbī ʿalā dīnik!
Ya Allāh, tetapkan hatiku di atas agama-Mu!
Mengulang-ulang doa ini, khawatir kalau kemaksiatan yang kita lakukan bisa jadi akan membawa kita melakukan perkara yang lebih besar dari itu.
Ini termasuk doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan dan goyangkan sebagaimana yang Dia kehendaki. Sekarang kita mencintai Tauhid, kita senang kepada Sunnah Nabi ﷺ, kita mencintai ilmu. Alḥamdulillāh, Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada kita.
Namun, ingatlah, hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Karena itu, seseorang harus senantiasa berdoa kepada Allāh ﷻ agar diberikan ketetapan hati. Allāh ﷻ berfirman:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaitana wahab lana milladunka raḥmatan innaka Antal-Wahhāb.
Ya Allāh , janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
