Halaqah 100 | Kandungan Bab 19

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-100 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau rahimahullāh mengatakan:

فِيهِ مَسَائِلُ

Di dalam bab ini ada beberapa permasalahan, ada beberapa faedah.

الْأُولَى: أَنَّ مَنْ فَهِمَ هَذَا الْبَابَ وَبَابَيْنِ بَعْدَهُ تَبَيَّنَ لَهُ غُرْبَةُ الْإِسْلَامِ، وَرَأَى مِنْ قُدْرَةِ اللَّهِ وَتَقْلِيبِهِ لِلْقُلُوبِ الْعَجَبَ

1. Beliau mengatakan, faedah yang pertama, orang yang memahami bab ini, memahami bahwasanya ghuluw terhadap orang shalih, inilah yang menyebabkan kesyirikan. Dan memahami dua bab setelahnya, dua bab setelahnya adalah bab tentang ancaman keras bagi orang yang menyembah Allāh ﷻ di sekitar kuburan orang yang shalih, ini ada ancaman keras. Bagaimana dengan orang yang menyembahnya, bukan hanya menyembah kepada Allāh ﷻ di sisi orang yang shalih, tapi bahkan menyembah kepada orang yang shalih tersebut.

Kemudian, bab yang setelahnya adalah, bābu mā jā’a annal-ghuluwwa fī qubūrish-shālihīn yushayyiruhā autsānan tu‘badu min dūnillāhi tabāraka wa ta‘ālā, bab bahwasanya ghuluw di dalam kuburan orang-orang yang shalih atau kepada kuburan orang-orang yang shalih, ini akan menjadikan kuburan tersebut sebagai sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Maka, dengan kita memahami bab ini dan dua bab setelahnya, kita akan mengetahui bagaimana anehnya Islam. Antum lihat, bagaimana di sekitar kita, ini yang banyak terjadi yaitu ghuluw terhadap orang-orang yang shalih.

Ghuluw terhadap ustadz, ghuluw terhadap kiai, ghuluw terhadap wali misalnya. Intinya adalah ghuluw terhadap orang-orang yang shalih. Kemudian dia akan melihat bagaimana kekuasaan Allāh ﷻ. Allāh ﷻ menjadikan ini mendapatkan hidayah, sementara di tengah-tengah manusia yang mereka mengagungkan dan ghuluw terhadap orang-orang yang shalih. Tapi Allāh ﷻ pilih sebagian mereka sehingga dia menyadari yang demikian. Ini menunjukkan qudratullāh dan menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ membolak-balikkan hati. Al-‘ajab sesuatu yang sangat mengherankan.

الثَّانِيَةُ: مَعْرِفَةُ أَوَّلِ شِرْكٍ حَدَثَ فِي الْأَرْضِ، أَنَّهُ بِشُبْهَةِ الصَّالِحِينَ

2. Mengenal bahwasanya kesyirikan yang pertama kali terjadi di permukaan bumi adalah sebabnya adalah syubhat tentang orang-orang shalih. Karena mereka adalah orang yang shalih, dekat kepada Allāh ﷻ, maka kita mendekatkan diri kepada orang shalih tersebut sehingga dia menyampaikan hajat kita kepada Allāh ﷻ. Sehingga terjadilah kesyirikan dengan sebab syubhat ini.

الثَّالِثَةُ: مَعْرِفَةُ أَوَّلِ شَيْءٍ غُيِّرَ بِهِ دِينُ الْأَنْبِيَاءِ، وَمَا سَبَبُ ذَلِكَ، مَعَ مَعْرِفَةِ أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَهُمْ

3. Mengenal hal yang pertama kali diubah di antara agama para nabi ini. Apa yang pertama kali diubah? Dan apa sebabnya? Kenapa sampai berubah? Padahal kita mengerti bahwasanya Allāh ﷻ Dialah yang mengutus para rasul dan para nabi tersebut.

Apa yang diubah? Yaitu tentang masalah tauhid. Agama para nabi adalah menyembah Allāh ﷻ saja, kemudian diubah oleh orang-orang musyrikin sehingga mereka menyembah Allāh ﷻ dan juga menyembah kepada selain Allāh ﷻ. Sebabnya apa? Karena ghuluw terhadap orang-orang yang shalih.

الرَّابِعَةُ: قَبُولُ الْبِدَعِ مَعَ كَوْنِ الشَّرَائِعِ وَالْفِطَرِ تَرُدُّهَا

4. Diterimanya bid’ah padahal syariat dan juga fitrah manusia itu menolaknya. Mana yang dimaksud dengan bid’ah di sini? Beribadah di dekat kuburan atau beribadah di dekat patung. Beribadah kepada Allāh ﷻ, bukan menyembah patung atau menyembah kuburan. Itu adalah bid’ah dalam agama. Tapi diterima oleh sebagian manusia. Padahal syariat menolak yang demikian dan fitrah manusia menolak yang demikian.

Syariat mengatakan kita harus menyembah kepada Allāh ﷻ saja. Dan beribadah sesuai dengan cara Rasulullāh ﷺ. Adapun seseorang berada di kuburan atau di dekat patung kemudian menyembah Allāh ﷻ di dekat kuburan atau patung maka ini adalah bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ.

الْخَامِسَةُ: أَنَّ سَبَبَ ذَلِكَ كُلِّهِ مَزْجُ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ. فَالْأَوَّلُ: مَحَبَّةُ الصَّالِحِينَ. وَالثَّانِي: فِعْلُ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالدِّينِ شَيْئًا أَرَادُوا بِهِ خَيْرًا، فَظَنَّ مَنْ بَعْدَهُمْ أَنَّهُمْ أَرَادُوا بِهِ غَيْرَهُ

5. Sebab ini semua adalah karena mencampur antara kebenaran dengan kebatilan. Kebenarannya mencintai orang yang shalih. Kebatilannya karena dia melakukan sesuatu yang tidak dicontohkan oleh rasul tersebut. Maka di sini dicampur antara yang haq dengan yang batil. Dari sisi mencintai, menghormati. Tapi kebatilan yaitu dengan menyerahkan sebagian ibadah kepada orang yang shalih maka ini adalah suatu yang bāthil.

Maka yang pertama yaitu al-haq adalah mencintai orang-orang yang shalih. Kebatilannya apa? Kebatilannya adalah perbuatan sebagian orang dan mereka adalah ulama dan juga ahli ibadah. Sesuatu yang mereka inginkan sebenarnya itu kebaikan. Biar manusia itu tidak minum-minuman keras, tidak berzina. Biarkan mereka melihat patung orang-orang yang shalih supaya mereka tergerak untuk beramal shalih.

Sementara orang-orang yang datang setelah mereka, ketika melihat ritual di dekat patung tadi, atau dekat dari kuburan tadi, mereka menganggap ini adalah sebuah syariat yang baik. Maka orang yang datang setelah mereka, mereka menganggap, menyangka bahwasanya nenek moyang mereka bukan ini yang mereka maksud. Tapi maksud mereka adalah beribadah sehingga akhirnya mereka pun mengikuti untuk beribadah kepada selain Allāh ﷻ. Menyerahkan ibadah kepada wali dan orang shalih tersebut. Berarti di sini, mencampur antara yang haq dan yang batil.

السَّادِسَةُ: تَفْسِيرُ الْآيَةِ الَّتِي فِي سُورَةِ نُوحٍ

6. Tafsir dari ayat yang ada dalam surat Nuh.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

السَّابِعَةُ: جِبِلَّةُ الْآدَمِيِّ فِي قَوْلِ الْحَقِّ يَنْقُصُ فِي قَلْبِهِ، وَالْبَاطِلُ يَزِيدُ

7. Termasuk tabiat manusia bahwasanya kebenaran, yaitu keimanan yang ada dalam hatinya ini berkurang. Sementara kebatilan ini terus bertambah. Seperti yang disebutkan. Bagaimana kebenaran itu berkurang pada diri manusia. Kemudian setelah itu bertambah kebatilan pada diri mereka. Sampai akhirnya mereka menyembah kepada selain Allāh ﷻ.

الثَّامِنَةُ: أَنَّ فِيهِ شَاهِدًا لِمَا نُقِلَ عَنِ السَّلَفِ: أَنَّ الْبِدْعَةَ سَبَبُ الْكُفْرِ

8. Di dalamnya ada bukti dari apa yang dinukil dari sebagian salaf. Bahwasanya bid’ah itu adalah sebab kekufuran. Sebabnya adalah karena berlebih-lebihan terhadap orang yang shalih. Mungkin beri’tikaf di sekitar kuburan orang yang shalih. Beribadah kepada Allāh ﷻ. Tapi akhirnya nanti akan membawa dia kepada kekufuran. Akhirnya berdoa kepada selain Allāh ﷻ.

التَّاسِعَةُ: مَعْرِفَةُ الشَّيْطَانِ بِمَا تَئُولُ إِلَيْهِ الْبِدْعَةُ وَلَوْ حَسُنَ قَصْدُ الْفَاعِلِ

9. Bagaimana syaithan mereka mengetahui tentang akhir dari perbuatan bid’ah. Meskipun baik maksud dari orang yang melakukannya. Dia tahu bahwasanya akhirnya nanti akan membawa kepada kesyirikan.

الْعَاشِرَةُ: مَعْرِفَةُ الْقَاعِدَةِ الْكُلِّيَّةِ، وَهِيَ النَّهْيُ عَنِ الْغُلُوِّ، وَمَعْرِفَةُ مَا يَئُولُ إِلَيْهِ

10. Mengenal kaidah yang umum. Larangan untuk melakukan ghuluw. Dan mengenal hasil atau akhir dari perbuatan ghuluw.

الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: مَضَرَّةُ الْعُكُوفِ عَلَى الْقَبْرِ لِأَجْلِ عَمَلٍ صَالِحٍ

11. Mudharatnya melakukan i’tikaf di sekitar kuburan. Meskipun tujuannya adalah beribadah kepada Allāh ﷻ. Dengan tujuan untuk beramal shalih. Karena ini akan mengakibatkan, membawa seseorang kepada kesyirikan akhirnya.

الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ النَّهْيِ عَنِ التَّمَاثِيلِ، وَالْحِكْمَةِ فِي إِزَالَتِهَا

12. Mengenal tentang larangan membuat patung. Dan hikmah dari menghilangkan patung tadi. Kenapa hikmahnya? Dikhawatirkan akan disembah selain Allāh ﷻ.

الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ عِظَمِ شَأْنِ هَذِهِ الْقِصَّةِ، وَشِدَّةِ الْحَاجَةِ إِلَيْهَا، مَعَ الْغَفْلَةِ عَنْهَا

13. Mengenal tentang besarnya dan agungnya kisah ini. Bersama dengan butuhnya kita dengan kisah seperti ini. Dan sementara di sana banyak orang yang lalai. Tidak memahami dan tidak memperhatikan kisah yang sangat agung ini. Yaitu tentang kisahnya orang-orang yang shalih dari kaumnya Nabi Nuh. Dan bagaimana mereka disembah selain Allāh ﷻ.

الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ: وَهِيَ أَعْجَبُ وَأَعْجَبُ: قِرَاءَتُهُمْ إِيَّاهَا فِي كُتُبِ التَّفْسِيرِ وَالْحَدِيثِ، وَمَعْرِفَتُهُمْ بِمَعْنَى الْكَلَامِ، وَكَوْنُ اللَّهِ حَالَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ قُلُوبِهِمْ حَتَّى اعْتَقَدُوا أَنَّ فِعْلَ قَوْمِ نُوحٍ هُوَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ، وَاعْتَقَدُوا أَنَّ مَا نَهَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ عَنْهُ هُوَ الْكُفْرُ الْمُبِيحُ لِلدَّمِ وَالْمَالِ

14. Lebih ajaib lagi, lebih aneh lagi, mereka membaca kisah ini di dalam kitab-kitab tafsir, dalam kitab-kitab hadits. Dan mereka mengetahui maknanya. Yang mengetahui tentang bagaimana awal dari kesyirikan adalah ghuluw terhadap orang-orang yang shalih. Ternyata Allāh ﷻ menghalangi antara diri mereka dengan hati mereka. Sehingga mereka pun, justru mereka meyakini bahwasanya apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh ini adalah sebaik-baik ibadah. Padahal itu adalah sebab kesyirikan, tapi dianggap itu adalah ibadah dan sebaik-baik ibadah untuk Allāh ﷻ. Dan mereka meyakini bahwasanya apa yang dilarang oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya itu adalah kekufuran, yang membawa kepada membolehkan dan menghalalkan darah dan juga harta. Ini adalah keyakinan yang salah. Meyakini bahwasanya apa yang Allāh ﷻ larang dan juga Rasul-Nya, ini adalah kekufuran, yang membolehkan dan menghalalkan darah dan juga harta.

الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ: التَّصْرِيحُ بِأَنَّهُمْ لَمْ يُرِيدُوا إِلَّا الشَّفَاعَةَ

15. Penjelasan yang sangat jelas. Bahwasanya mereka tidak menginginkan kecuali syafaat. Ketika mereka beribadah di dekat orang yang shalih tadi, tujuan mereka adalah ingin mendapatkan syafaat. Bukan meyakini bahwasanya mereka yang menciptakan.

السَّادِسَةَ عَشْرَةَ: ظَنُّهُمْ أَنَّ الْعُلَمَاءَ الَّذِينَ صَوَّرُوا الصُّوَرَ أَرَادُوا ذَلِكَ

16. Mereka menyangka bahwasanya ulama yang membuat patung-patung tadi, mereka menginginkan yang demikian. Yaitu ingin supaya mereka beribadah dan meminta syafaat kepada orang shalih tersebut.

السَّابِعَةَ عَشْرَةَ: الْبَيَانُ الْعَظِيمُ فِي قَوْلِهِ: «لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ» فَصَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، عَلَى أَنْ بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ

17. Penjelasan yang sangat besar tentang sabda Nabi ﷺ, “Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani ini berlebihan kepada ‘Isa ibnu Maryam.” Jangan sampai kita berlebihan terhadap Nabi ﷺ sehingga mensifati Beliau dengan sifat-sifat yang tidak layak kecuali untuk Allāh ‘Azza wa Jalla. Maka semoga shalawat dan salam untuk Beliau. Karena Beliau telah menyampaikan dengan sebenar-benar penyampaian.

الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ: نَصِيحَتُهُ إِيَّانَا بِهَلَاكِ الْمُتَنَطِّعِينَ

18. Nasihat Beliau ﷺ untuk kita semuanya tentang hancurnya orang-orang yang berlebihan.

التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ: التَّصْرِيحُ بِأَنَّهَا لَمْ تُعْبَدْ حَتَّى نُسِيَ الْعِلْمُ، فَفِيهَا بَيَانُ مَعْرِفَةِ قَدْرِ وُجُودِهِ، وَمَضَرَّةِ فَقْدِهِ

19. Tentang penjelasan yang jelas bahwasanya mereka tidak disembah kecuali setelah dilupakan ilmu. Berarti ini menunjukkan, menjelaskan tentang keutamaan adanya ilmu dan mudharat tidak adanya ilmu. Kalau ada ilmu, selamat umat. Tapi kalau tidak ada ilmu, akan terjadi kesyirikan, kekufuran. Makanya di sini perlu kita semangat untuk belajar dan semangat untuk mengajar.

الْعِشْرُونَ: أَنَّ سَبَبَ فَقْدِ الْعِلْمِ مَوْتُ الْعُلَمَاءِ

20. Bahwasanya sebab hilangnya ilmu adalah karena meninggalnya para ulama. Jadi orang-orang shalih tadi, mereka adalah orang-orang yang punya ilmu, meninggal dunia. Sehingga banyak umatnya yang kehilangan dan tidak mendapatkan ilmu. Dan mereka pun terjatuh ke dalam kesyirikan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top