Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-144 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan rahimahullāh
وَالعَرْضِ وَالحِسَابِ
Di antara yang diimani oleh Al-Sunnah, ini berkaitan dengan masalah hari akhir. Yang berkaitan dengan masalah beriman kepada Allāh ﷻ banyak sudah disebutkan oleh Imām Abū Jaʿfar. Kemudian tentang masalah kitab, yaitu tentang Kitābullāh, Kalāmullāh, berkaitan dengan iman kepada Rasul juga sudah disebutkan, berkaitan dengan malaikat, berkaitan dengan takdir sudah diulang-ulang. Maka di sini Beliau menyebutkan beberapa poin penting yang berkaitan dengan hari akhir. Dan ini juga sebagian poin-poinnya sudah disebutkan sebelumnya.
وَالعَرْضِ وَالحِسَابِ
Kita, Ahlus-Sunnah, beriman dengan adanya ʿarḍ, yaitu akan dinampakkannya manusia di hadapan Allāh ﷻ, dihadirkannya mereka, dikumpulkannya mereka di padang mahsyar. Sebagaimana firman Allāh ﷻ:
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ
Pada hari itu kalian akan dinampakkan, yaitu dikumpulkan, diperlihatkan kepada Allāh ﷻ, tidak ada sesuatu yang samar bagi Allāh ﷻ, dosa-dosa yang dilakukan tidak ada yang samar di sisi Allāh ﷻ. (QS. Al-Ḥāqqah: 18)
Dalam ayat yang lain Allāh ﷻ mengatakan:
وَعُرِضُوا۟ عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا ۚ لَّقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَـٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
Dan sungguh mereka dinampakkan dihadapan Rabbmu, dengan berbaris. Sungguh, kalian telah datang kepada Kami, yaitu sekarang ini, sebagaimana Kami telah menciptakan kalian pertama kali. (QS. Al-Kahfi: 48)
Bagaimana Allāh ﷻ menciptakan kita pertama kali? Ketika kita keluar dari rahim ibu kita, yaitu dalam keadaan:
حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
Dalam keadaan tidak memakai pakaian, tidak memakai alas kaki, dan belum dikhitan. Demikian disebutkan dalam ḥadīts ʿĀisyah raḍiyallāhu ʿanhā. Maka kita beriman dengan adanya ʿarḍ atau dinamakan juga dengan al-ḥashr, sebagaimana dalam ḥadīts:
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ
Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan.
Maka kita beriman dengan al-ʿarḍ atau dinamakan dengan al-ḥashr ini sebagaimana dalil-dalil yang menunjukkan demikian.
Wal-ḥisāb — juga beriman dengan adanya ḥisāb, yaitu perhitungan. Kalau jazāʾ itu pembalasan, kalau ḥisāb itu perhitungan — maksudnya amalan kita akan dihitung oleh Allāh ﷻ, baik amalan yang baik maupun amalan yang jelek. Demikian pula orang-orang kāfir, mereka akan dihisab, untuk menunjukkan keadilan Allāh ﷻ.
Wal-ʿarḍi wal-ḥisāb — dan dikumpulkannya serta juga dihisab. Karena setelah dikumpulkan di padang mahsyar, maka setelah itu Allāh ﷻ akan menghisab manusia. Allāh ﷻ berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
Maka barangsiapa yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah. (QS. Al-Insyiqāq: 7–8)
Dan sebaliknya, barangsiapa yang mengambil kitabnya dengan tangan kirinya dari arah belakangnya, maka sebagaimana firman Allāh ﷻ:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا ﴿١١﴾ وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ﴿١٢
Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya. Maka dia akan berteriak: “Celakalah aku!” dan dia akan masuk ke dalam Neraka yang menyala-nyala.
(QS. Al-Insyiqāq: 10–12)
Dan disebutkan dalam ḥadīts sebagaimana dalam ayat tadi, Allāh ﷻ menyebutkan adanya ḥisāb yang mudah, yaitu bagi orang-orang yang beriman. Maka di sana ada ḥisāb yang keras — yaitu bagi orang-orang yang kāfir. Dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ mengatakan,
مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ
Berarti siapa yang dimunāqashah, yaitu dikeraskan dalam ḥisāb-nya, maka ini menunjukkan bahwa dia akan diadzab oleh Allāh ﷻ.
Jadi ḥisāb ada dua, ada ḥisāban yasīran, ḥisāb yang mudah, dan di sana ada ḥisāb yang keras. Ḥisāb yang yasīr adalah untuk orang-orang yang beriman. Dan disebutkan dalam hadits bahwasanya ḥisāb bagi orang-orang yang beriman adalah Allāh ﷻ akan menutupi orang tersebut sehingga tidak dilihat oleh orang lain yang ada di padang mahsyar. Kemudian Allāh ﷻ akan menampakkan kepada orang tersebut dosa-dosanya. Dan dikatakan kepadanya,
أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟
“Apakah engkau mengetahui dosa ini?” Ditanya lagi, “apakah kau juga mengetahui tentang dosa ini?” dan setiap kali ditanya dia mengatakan, “iya, iya, iya.” Kemudian dikatakan,
أَظَلَمَكَ الْكَتَبَةُ؟
“Apakah para malaikat yang menulis telah mendzalimimu?” Artinya, ada dosa-dosa yang tertulis di sini, sementara dahulu engkau tidak melakukannya. Dia mengatakan, “tidak, sesuai dengan yang pernah dilakukan, tidak ada di situ dosa yang tidak pernah dilakukan kemudian tertulis dalam ṣaḥīfah tersebut.”
Kemudian, ketika hamba tersebut sudah merasa bahwasanya dia akan binasa dengan sebab dosa-dosa yang sudah tertulis tadi—dan itu semua terjadi dalam keadaan ditutupi oleh Allāh, tidak ada orang di padang mahsyar saat itu melihat dosa-dosa yang dinampakkan tadi. Ini adalah orang-orang yang beriman. Allāh tutupi, Allāh nampakkan kepada orang yang beriman tadi, tapi Allāh tutupi dari manusia yang lain. Ini rahmat dari Allāh ﷻ.
Sampai ketika dia merasa bahwa dirinya akan hancur, binasa karena melihat dosa-dosanya semuanya ditulis secara lengkap, maka Allāh ﷻ mengatakan:
سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنِّي أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
“Sesungguhnya Aku telah menutupi untukmu dosa-dosa tadi di dunia.”
Banyak dosa-dosa kita yang kita lakukan dan Allāh ﷻ dengan rahmat-Nya menutupi dosa tersebut. Seandainya manusia dan orang yang terdekat mengetahui tentang dosa yang kita lakukan, misalnya, mereka akan sangat benci dengan kita dan akan menjauh dari kita. Tapi Allāh ﷻ dengan rahmat-Nya menutupi dosa-dosa tersebut.
“Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan sesungguhnya Aku mengampuni dosa-dosa tersebut untukmu di hari ini.”
Inilah yang dinamakan dengan ʿArḍ, yaitu ʿArḍ dengan makna yang lain. Kalau ʿArḍ yang pertama itu adalah dinampakkannya manusia atau dikumpulkannya manusia di hadapan Allāh.
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
Ini dalilnya. Adapun ʿArḍ yang baru saja kita bicarakan, yang dinampakkan di sini adalah dosa-dosanya, dan inilah yang dinamakan dengan ḥisāban yasīran.
wal-ḥisāb — dan kita beriman dengan adanya ḥisāb. Demikian pula, di sana ada ḥisāb yang berat, dan inilah yang akan terjadi pada orang-orang kuffār. Mereka akan dihisab oleh Allāh ﷻ dengan ḥisāb yang sangat berat, sehingga dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan:
مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ
Barang siapa yang dihisab oleh Allāh ﷻ dengan ḥisāb yang berat, maka berarti dia akan diadzab. Dia akan mendapatkan ʿadzāb.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

