Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 17 ~ Penghalang Keempat: Mengambil Ilmu Dari Ashaaghir (Orang-Orang Kecil/Muda) (1)

Materi 17 ~ Penghalang Keempat: Mengambil Ilmu Dari Ashaaghir (Orang-Orang Kecil/Muda) (1)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kendala ke empat adalah mengambil ilmu dari orang-orang kecil.

Telah menyebar fenomena orang belajar ilmu dari orang-orang yang masih muda dikalangan para penuntut ilmu di zaman ini. Fenomena ini pada hakikatnya penyakit yang berbahaya, yang akan menghalangi penuntut ilmu yang sebenarnya, yang menyimpangkan penuntut ilmu dari jalan keselamatan. Karena mengambil ilmu dari orang-orang yang masih muda, yang langkah-langkahnya, pengalaman-pengalamannya dalam mencari ilmu belum begitu mantap, yang jenggot-jenggot mereka belum beruban di dalam mencari ilmu.

Kenapa hal tersebut dianggap salah ? jawabannya yaitu selama dikalangan mereka ada orang-orang yang lebih sepuh, yang lebih matang, yang lebih banyak pengalamannya daripada yang muda-muda tadi, maka apa akibatnya ? ini termasuk penyakit karena mengambil ilmu dari anak-anak yang masih muda belia, yang belum banyak pengalaman dalam mencari ilmu, yang belum beruban jenggot-jenggot mereka didalam menggeluti ilmu padahal ada orang yang lebih sepuh atau lebih matang, lebih mantap langkah-langkahnya maka belajar kepada anak muda seperti itu bisa melemahkan pondasi bagi para penuntut ilmu dan akan menghalangi mereka dari istisfadah terhadap pengalaman para ulama yang sudah sepuh tadi.

Pengalaman-pengalaman ketika belajar mengajar dan dakwah sering terungkap didalam pelajaran-pelajaran dan hal itu bisa memberikan tambahan ilmu yang luar biasa yang tidak diperoleh dari anak-anak muda. Juga bisa mengambil faedah dari akhlaq mereka yang akan menguatkan ilmu mereka dan banyak lagi hal-hal lain yang sudah diisyaratkan dalam sebuah atsar dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata “Tidak ada henti-hentinya manusia didalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari akabir-akabir mereka (dari orang-orang besar-besar dikalangan mereka /besar dalam hal ilmu) dan mengambil ilmu dari umanaih-umanaih (orang-orang yang amanah, orang-orang yang terpercaya) dan orang-orang yang berilmu. Itu selama manusia belajar ilmu dari ahlinya maka selama itu pula mereka berada diatas kebaikan. Maka apabila mereka mengambil ilmu dari shigor (dari orang-orang yang masih mentah ilmu dan pengalamannya) dan mengambil ilmu dari orang-orang buruk dari kalangan mereka maka mereka akan binasa, mereka akan hancur”.

Belajar ilmu syar’i kepada orang bodoh termasuk diantara tanda-tanda kiamat, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diterima dari Abu Umayah, beliau menyatakan “sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah ilmu dicari dari ashogir (dari orang-orang kecil)”

Apa yang dimaksud dari orang-orang kecil ?
Para ulama ikhtilaf ketika menafsirkan ashigor. Orang-orang kecil itu apa dan ini dijelaskan oleh banyak ulama seperti imam Ibn Abdil Bar dalam kitab Al Jami’ul Bayan ilmi’ wa fadlih juga imam Asyatibi dalam kitab al i’thisom.

Imam Qutaibah ketika orang kecil disini menyatakan bahwa yang dimaksud shigor (orang kecil) disini adalah kecil usianya maknanya masih muda.

Berkata Ibnu Qutaibah “Yang dimaksud ungkapan ibnu mas’ud tadi adalah manusia selalu berada diatas kebaikan selama ulama-ulama mereka itu adalah orang-orang yang sudah sepuh, sudah tua dan bukan ulama yang masih muda karena orang yang tua telah hilang dari dirinya syahwat seperti yang dimiliki para pemuda. Oleh karena itu perasaan nikmat, lezat seperti yang dialami para pemuda sudah hilang dari diri yang tua. Kemudian juga bijak, bertindak sembrononya itu sudah berkurang, kemudian terburu-burunya pun berkurang, syahfihnya (kebodohan akibat kurangnya jam terbang, kurangnya pengalaman) dia banyak pengalaman, dia banyak mengalami berbagai macam kejadian dan ilmunya terjaga dari termasuknya syubhat dia tidak akan lebih terkuasai oleh hawa nafsu, dia tidak ada lagi perasaan rakus terhadap dunia, dia tidak akan mudah digelincirkan oleh syaithon seperti mudahnya digelincirkannya para pemuda maka dengan bersamaan usia yang sudah tua maka muncul al waqor (tenang), jalalah dan haibah (wibawa), kharismatik, itu lebih kentel, lebih tebel dimiliki oleh orang yang lebih sepuh dibanding orang yang masih muda.

Disebutkan oleh mualif (penulis) “Kalo perkara-perkara tadi sudah masuk kedalam jiwa seorang ulama yang masih muda tadi lalu dia memberi fatwa maka dia binasa dan akan membinasakan orang lain.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

1 thought on “Materi 17 ~ Penghalang Keempat: Mengambil Ilmu Dari Ashaaghir (Orang-Orang Kecil/Muda) (1)”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *