Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 15 ~ Bersandar Hanya Kepada Kitab Tidak Belajar Kepada Ulama Bagian (2) – Terlarangnya mengambil ilmu dari orang yang hanya belajar dari kitab

Materi 15 ~ Bersandar Hanya Kepada Kitab Tidak Belajar Kepada Ulama Bagian (2) – Terlarangnya mengambil ilmu dari orang yang hanya belajar dari kitab

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata Al-Imam Sa’id bin Abdul Aziz (beliau ini se-level dengan Al-Imam Auza’i) dia berkata, “Janganlah kalian mengambil ilmu dari seorang shohafiy dan jangan kalian mengambil dari mushafiy. Shohafiy artinya orang yang belajar ilmu langsung dari tulisan didalam kitab sedangkan mushafiy adalah orang yang belajar Qur’an langsung dari mushaf tanpa guru”. Para ulama menetapkan satu kaidah hasil pengalaman belajar dan mengajar, hasil menela’ah orang-orang yang belajar dan mengajar. Kebanyakan mereka menukil kaidah ini dalam kitab-kitab yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, “Siapa orang yang gurunya adalah kitabnya (dia berguru hanya kepada kitabnya, membaca dan tidak langsung ke orangnya) maka kesalahannya akan lebih banyak daripada benarnya“. Ustadz pernah bertanya tentang kaidah ini kepada beberapa orang diantaranya syaikh Ali Hasan Al-Atsari hafidzahullahu ta’ala, beliau menjelaskan ada beberapa contoh : Pertama, yang dimaksud dengan kitab didalam hal ini adalah makhtuthot yakni manuskrip tulisan asli para ulama dengan tangan mereka yang tertulis dikulit binatang, di kayu-kayu, didaun-daun yang bertahan lama, ditulis juga dikain-kain kemudian tersimpan. Hilang tertimbun kemudian ketika ada orang menggali tanpa disengaja menemukan sejumlah tumpukan kitab tulisan-tulisan para ulama. Itulah yang disebut dengan makhtuthot, itu yang disebut dengan manuskrip dan itu masih banyak yang belum ter-temukan. Khot atau tata cara penulisan huruf arab disetiap abad itu berbeda, ada mengalami perubahan-perubahan oleh karena itu orang zaman sekarang ketika melihat tulisan para ulama ratusan tahun yang lalu belum tentu bisa baca, ada ilmu tersendiri tentang hal itu, ilmu tentang khot dan setiap abad berbeda, ada perubahan. Oleh karena itu tidak sembarang orang mampu membaca makhtuthot ini. Siapa orang yang tidak memiliki kemampuan dalam ilmu khot lalu langsung membaca makhtuthot maka dia akan banyak salah paham. Kedua, Kitab yang dimaksud disana adalah kitab karangan para ulama yang bentuk atau huruf khotnya sudah ma’ruf seperti pada zaman sekarang. Ungkapan para ulama begitu tinggi nilai sastranya, seninya, nilai balaghohnya sehingga banyak yang tidak terjangkau oleh kalangan orang awam. Ada orang yang sudah belajar ilmu nahwu shorof tetapi belum mempelajari ilmu balaghoh dengan bekal ilmu nahwu shorof yang dimiliki dia sudah membaca kitab, mengartikan tinggal melihat kamus tetapi struktur kalimat, nilai seni, balaghoh, seni sastra didalam bahasa arab tidak dia pahami akhirnya dia keliru didalam memahami ungkapan-ungkapan yang bernilai sastra tinggi dalam bahasa arab. Akhirnya salah paham ketika salah paham kemudian diamalkan maka akan salah pengamalan, dia mengajarkan perkara yang salah. Jadi betapa banyaknya orang yang memahami kitab, membaca kitab langsung dengan kapasitas ilmu yang dimilikinya yang sebenarnya masih minim lalu dia salah dalam memahami kalimat yang dia baca dan terjerumus lah ia kedalam banyak kesalahan. Itu kalau kitab asli, bayangkan kalau terjemahan. Terjemahannya belum tentu pas, terjemahannya belum tentu benar kemudian yang belum tentu pas, belum tentu benar dipahami lagi biasnya akan lebih banyak, lebih jauh daripada makna yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh si pengarang. Maka akan lebih jauh lagi penyimpangannya. Itu didalam setiap bahasa ada dua hal yang terkandung ketika seseorang membuat kalimat, hal pertama makna dan kedua keindahan bahasa, Karena keindahan bahasa yang luar biasa besar kepada hati orang-orang yang membaca atau mendengarkan. Dua makna tersebut selalu ada apalagi didalam al-Qur’an nilai sastranya super tinggi, keindahan bahasanya juga sudah menyentuh apalagi maknanya yang mendalam. Gabungan antara keindahan bahasa dan mendalamnya makna menghasilkan sesuatu yang luar biasa kedalam hati. Ungkapan yang ditulis oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka juga demikian mereka memperhatikan aspek sastra, makanya sering sekali mereka membuat syair-syair seperti didalam kitab ini banyak syair, keindahan bahasanya luar biasa maknanya juga mendalam ketika diterjemahkan kebahasa lain si penerjemah berusaha mengambil kedua-duanya, kalau si penerjemah mempertahankan makna asal maknanya benar maka keindahan bahasanya hilang, kalau mau mempertahankan keindahan bahasanya maka maknanya bisa berubah, susah untuk mengambil kedua-duanya. Seperti didalam sebuah pribahasa, “Siapa orang yang terburu-buru meraih sesuatu sebelum waktunya maka dia akan mengalami kegagalan”, maknanya dapat itu tetapi keindahan bahasanya hilang, susah bagi kita untuk mengambil kedua-duanya. Berdasarkan hal itu jauh berbeda antara membaca terjemahan dengan membaca aslinya, membaca asli saja harus langsung belajar bertatap muka dengan guru apalagi kalau umpamanya membaca terjemahan itu lebih banyak kesalahannya, lebih jauh biasnya daripada membaca aslinya, membaca aslinya saja beresiko apalagi membaca terjemahannya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *