Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 18 ~ Mengambil Ilmu Dari Ashaaghir (2) – Kebaikan Akan Selalu Ada Selama Ilmu Itu Berasal Dari Orang-Orang Tua

Materi 18 ~ Mengambil Ilmu Dari Ashaaghir (2) – Kebaikan Akan Selalu Ada Selama Ilmu Itu Berasal Dari Orang-Orang Tua

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ibnu Abdil Bar meriwayatkan sebuah riwayat dari Umar bin Khathab radiyallahu’anhu “Aku telah mengetahui kapankah manusia akan maslahat dan kapan manusia akan rusak. Yaitu apabila datang pemahaman, datang ilmu, datang penjelasan, datang nasehat tetapi datangnya nasehat itu dari anak muda maka orang-orang yang tua akan terjerumus kedalam maksiat karena fatwa dari pemuda tadi. Jikalau datang pemahaman, pelajaran, nasehat dan ilmu dari orang yang sudah tua dan diikuti oleh pemuda maka kedua-duanya akan memperoleh petunjuk”.

Kata imam Asyathibi mengatakan al kabir disini dalam hal ilmu dan shogir disini dalam hal ilmu maknanya orang shogir itu adalah orang bodoh dan kabir itu adalah orang yang berilmu. Jikalau datang penjelasan dari orang bodoh maka orang itu akan terjerumus kedalam kemaksiatan, kekeliruan, kesalahan.

Ada beberapa contoh kisah seseorang yang telah membunuh 99 orang dan ingin bertaubat, dia bertanya kepada orang-orang kesiapa saya harus datang bertanya tentang masalah ini, kemudian orang-orang menunjukan kepada rahib, dan rahib adalah ahli ibadah namun tidak berdasarkan ilmu dan banyak riwayat yang menerangkan contoh-contoh rahib bersikap tanpa ilmu. Didalam kisah Juraij seorang ahli ibadah dia sedang sholat kemudian ibunya memanggil dia dan tidak menjawabnya, kemudian dia bimbang “Ya Allah sholatku atau ibuku” (dia sedang melaksanakan sholat sunnah) dan akhirnya dia memilih untuk melanjutkan sholatnya dan ibunya tidak digubris atau tidak dijawab panggilannya oleh Juraij. Padahal memenuhi panggilan ibu hukumnya wajib sedangkan yang dilakukan Juraij adalah sholat sunnah. Ibunya sampai berdo’a “Ya Allah jangan engkau matikan Juraij sebelum dia menatap wajah seorang wanita pelacur. Maka hal tersebut kejadian dan kalau menurut kita Juraij tidak salah tetapi secara syar’i Juraij salah. Dia salah didalam bersikap memilih yang sunnah dan mengabaikan yang fardlu (wajib) akhirnya terkena do’a ibunya dan ini kesalahan yang lahir dari ketidaktahuan. Lebih cenderung bersikap berdasarkan semangat ibadahnya kepada Allah tetapi tidak didasari oleh ilmu.

Hati-hati akhwat, hati-hati Ibu-ibu ingin mendapatkan pahala dari Allah azza wajalla mengejarkan yang sunnah meninggalkan yang wajib dan yang wajib itu adalah memperhatikan suami dan keluarga. Sholat sunnah disaat suami sedang membutuhkan maka tidak boleh. Shaum sunnah disaat suaminya sedang berada dirumah dan tidak bilang terlebih dahulu. Saya pernah mengungkapkan hadits berikut :

ثَلاَثَةٌ لاَ نَرْفَعُ صَلاَتَهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْراً : وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ

“Kami tidak mengangkat shalat mereka ke atas kepala mereka walau satu jengkal salah satunya adalah istri yang melewati malam hari sementara suaminya marah kepadanya.”

(Hadits Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
Kalau ingin pahala maka landaskan pada ilmu insyaa Allah pahala akan didapat dan tindakan kitapun benar. Kalau tidak dilandaskan pada ilmu maka ibadah kitapun percuma dan akan mendapatkan dosa.

Jadi si rahib menjawab ketika ditanya oleh pembunuh 99 orang tadi, “saya sudah membunuh 99 orang dan ingin bertaubat apakah diterima atau tidak ?” maka si rahib menjawab, “Tidak”. Maka apa akibatnya ini adalah fatwa yang salah dari orang yang tidak berilmu tetapi ahli ibadah maka pembunuh ini menebaskan pedangnya ke si rahib maka genaplah 100 yang dibunuh oleh si pembunuh tersebut. Ini adalah salah satu contoh kalau datang fatwa, ilmu, penjelasan dari orang shogir (orang bodoh, orang yang tidak berilmu) maka orang-orang yang tua pun akan terseret kepada kemaksiatan. Namun sebaliknya kalau datang ilmu, nasehat, fatwa dari orang-orang yang khabir (orang berilmu) maka semua orang akan tertuntun dan akan memperoleh hidayah.

Masih dari Ibnu Abdil Bar dari Abdil Akhwas dari Abdullah dia berkata, “Sesungguhnya kalian selalu berada diatas kebaikan selama ilmu berada di kalangan khibar kalian maknanya ilmu berada di kalangan khibar yakni bukan belajar kepada yang shigor. Apabila ilmu berada dikalangan orang-orang yang shigor maka disini wallahu’alam apakah cetakannya begini yakni maknanya adalah orang-orang yang sepuh akan memperlihatkan kebodohan orang-orang yang shogir. Atau apabila kitab ini salah cetak soghirul khabiro maka orang-orang shogir itu akan membuat bodoh orang-orang khabir wallahu’alam bishshowab.

Dua atsar ini menjadi alasan tidak bolehnya mengambil ilmu dari seorang shogir, seorang yang bodoh, seorang yang masih muda, dan disebutkan oleh Ibnu Qutaibah “Karena khawatir ditolaknya ilmu apabila ilmu itu datang dari orang-orang yang shogir, yang masih muda atau masih kecil usianya ataupun pengalamannya ataupun ilmunya. Maka hal ini yang akan menjadi kendala tersampaikannya ilmu kepada manusia.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *