Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-'Aqīdah Al-Wāsithiyyah > Halaqah 18 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam QS Al- Ikhlas Bag 02

Halaqah 18 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam QS Al- Ikhlas Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ الصَّمَد

Allāh ﷻ, kembali di sini di sebutkan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat Al-Uluhiyah, Ash-Shomad ini adalah penetapan nama diantara nama-nama Allāh ﷻ. Di sana ada beberapa makna yang disebutkan oleh para ulama tentang makna Ash-Shomad, ada yang mengatakan bahwasanya Ash-Shomad di sini adalah Dzat yang menjadi tempat tumpuan yang lain di dalam hajat-hajat mereka, dan Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, yaitu makhluk-makhluk-Nya mereka di dalam menunaikan hajat-hajat mereka kembalinya kepada Allāh ﷻ. Kenapa kembalinya kepada Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Dalam keadaan sakit mereka kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan penyembuhan, dalam keadaan mereka fakir kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Kaya, dalam keadaan mereka menuntut ilmu kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki ilmu yang sangat luas, yang memberikan ilmu, ketika mereka butuh ampunan kembali kepada Allāh ﷻ karena Dia-lah yang bisa mengampuni. Seluruh makhluk kembali kepada Allāh ﷻ untuk bisa menunaikan hajat-hajat mereka. Berarti disini kita memahami bahwasanya ketika kita menetapkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad berarti ada kandungan menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ.

Di sana ada tafsir dari Abdullah bin Abbas Radiallāhu Ta’ala Anhu, turjumanul Qur’an ketika beliau menafsirkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad ini. Abdullah Bin Abbas mengatakan

السيد الذي قد كمل في شؤدده

Apa yang dimaksud dengan Ash-Shomad, kata beliau Dia adalah As-Sayyid, Dia-lah yang terkemuka yang paling depan, Dia adalah Tuan yang telah sempurna di dalam شؤدده (pertuanannya) artinya adalah dia adalah Tuan yang paling sempurna

والشريف الذي قد كمل في شرفه

Dan Dia adalah yang paling mulia yang sempurna kemuliaannya

والعظيم الذي قد كمل في عظمته

Dan yang Maha Besar yang sempurna di dalam kebesarannya

والحليم الذي قد كمل في حلمه

Dan Dia adalah Dzat yang Halim (Pemurah) yang telah sempurna didalam حلمه

والغني الذي قد کمل في غناه

Dan Dia adalah yang Maha Kaya yang telah sempurna kekayaannya dan seterusnya.

Ash-Shomad di sini ketika kita menetapkan Ash-Shomad bagi Allāh ﷻ dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Dzat yang kembali kepada-Nya makhluk didalam menunaikan hajat- hajat mereka, kita telah menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ didalam Ash-Shomad. Berarti disini ada Itsbat, kita menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ, seluruh sifat-sifat yang jelek, yang buruk, dinafikan dari Allāh ﷻ dan seluruh sifat yang sempurna kita tetapkan untuk Allāh ﷻ, mMaka Ash-Shomad ini adalah Al-Asma Al-Mutsbitah.

Sampai disini kita memahami bahwasanya surat Al-Ikhlas ini mengandung nafi dan juga Itsbat, ada nama yang mutsbitah ada nama yang nāfiyah.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Allāh ﷻ tidak melahirkan, yaitu Allāh ﷻ tidak memiliki anak, bantahan kepada orang-orang musyrikin dan juga ahlul kitab yang mereka menishbahkan anak kepada Allāh ﷻ, orang yahud mengatakan uzair ibnullah, orang nasaroh mengatakan al-masih ibnullah, orang-orang musyrikin mengatakan mala’ikah banatullah, Allāh ﷻ adalah Dzat yang tidak melahirkan dan ini adalah perincian dari yang sebelumnya.

Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang semisal dengan Allāh ﷻ, karena ketika melahirkan berarti yang namanya anak itu semisal dengan asalnya. Maka ini adalah diantara penjelasan dari, yang pertama adalah Allāh ﷻ itu adalah Ahad dan bisa juga dia adalah penjelasan dari Allāhush Shomad juga karena Allāhush Shomad, Allāh ﷻ Dia-lah yang makhluk kembali kepadanya dalam berbagai urusan dan juga hajat mereka. Allāh ﷻ tidak butuh dengan makhluk tapi makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ, makhluk yang memiliki hajat kepada Allāh ﷻ.

Kemudian

لَمْ يَلِدْ

Allāh ﷻ tidak melahirkan karena ketika seandainya Allāh ﷻ melahirkan berarti Allāh ﷻ butuh kepada anak tersebut, padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ bukan Allāh ﷻ yang butuh kepada makhluk. Ketika seorang ayah dan seorang ibu ingin memiliki anak, dia merasa butuh dengan anak yang akan akan mewarisi dia yang akan membantu dia dan seterusnya. Allāh ﷻ Dia tidak melahirkan, Dia tidak butuh, Dia-lah yang Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan anak.

Demikian pula firman Allāh ﷻ

وَلَمْ يُولَد

Dan Allāh ﷻ Dia tidak dilahirkan, ini juga menjelaskan Allāhu Ahad Allāhush Shomad. Allāh ﷻ tidak dilahirkan, Dia bukan seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya karena kalau di sana ada orang tua bagi Allāh ﷻ maka berarti ada yang serupa dengan Allāh ﷻ padahal Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, dan kalau Allāh ﷻ memiliki orang tua berarti dia butuh kepada yang lain padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad. Diperinci oleh Allāh ﷻ di sini dan asalnya yang namanya nafyi dalam Al-Qur’an adalah penafian yang global bukan penafian yang terperinci, tapi di sini diperinci oleh Allāh ﷻ untuk membantah sebagian munharifin, orang-orang yang menyimpang yang mereka meyakini bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak.

Berarti ini nafyi, ini adalah sifat yang manfiyyah. Allāh ﷻ tidak memiliki anak, Allāh ﷻ tidak beranak dan Allāh ﷻ tidak dilahirkan. Berarti di sini ada sifat yang manfiyyah, dan ini juga kaidah yang harus kita pahami bahwa ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat maka konsekuensinya kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat yang di nafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak atau Allāh ﷻ melahirkan dan Allāh ﷻ juga menafikan dari diri-Nya bahwasanya Allāh ﷻ memiliki orang tua.

Berarti di sini yang perlu kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari keduanya, yaitu kita tetapkan kesempurnaan ke Esaan Allāh ﷻ, menetapkan Ahadiyah Allāh ﷻ. Ini kaidah yang harus kita pahami kalau Allāh ﷻ menafikan sebuah sifat dari diri-Nya kita harus menetapkan kesempurnaan sifat yang kebalikan dari sifat yang dinafikan tadi. Ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak dan juga orang tua berarti kita tetapkan kesempurnaan keesaan Allāh ﷻ, berarti di sini ada sifat manfiyah didalam surat Al-Ikhlas ini.

Demikian pula ini

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Sifat kesempurnaan yang bisa kita tetapakan di sini adalah sifat ghina yaitu bahwasanya Allāh ﷻ tidak butuh dengan yang lain. Tadi kita sebutkan, yang melahirkan dan dilahirkan itu berarti butuh dia kepada yang lain, ketika dinafikan berarti kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi, selain kesempurnaan sifat ke-Esaan, yaitu kesempurnaan ke-Esaan Allāh ﷻ, juga menunjukkan kesempurnaan tidak butuhnya Allāh ﷻ dengan yang lain, kesempurnaan kekayaan Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang menjadi kufuwan lahu yaitu bagi Allāh ﷻ. Kunfuan artinya adalah musāwiyah, yang sama serupa dengan Allāh ﷻ, tidak ada. Berarti Allāh ﷻ di sini menafikan adanya sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ. Kalau ayat sebelumnya dinafikan anak dan anak adalah cabang, kemudian Allāh ﷻ menafikan orang tua dan orang tua adalah asalnya, baik cabang maupun asalnya dinafikan oleh Allāh ﷻ, demikian pula yang sebanding ini juga dinafikan oleh Allāh ﷻ.

Maka di sini ada nafyul kufu, disini Allāh ﷻ menafikan al-kufu yaitu yang serupa dengan Allāh ﷻ maka konsekuensinya kita tetapkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Sempurna dalam ke-Esaan-Nya dan Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ baik didalam sifat-Nya, dalam Dzat-Nya, dalam apa yang Dia lakukan.

Berarti jelas di dalam surat Al-Ikhlas ini Allāh ﷻ menyebutkan an-nafyu dan juga itsbat, ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan dia mengandung sifat, ada nama yang nafia karena di dalamnya ada kandungan makna menafikan dari Allāh ﷻ sesuatu yang semisal dengan Allāh ﷻ, baik nama baik sifat maupun dzat-Nya.

Jadi kalau kita ulang lagi di dalam surat Al-Ikhlas ini nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ, Lafdzul Jalalah, kemudian nama Al-Ahad, kemudian Ash-Shomad, tiga nama. Kemudian di sini ada sifat yang Allāh ﷻ tetapkan (mutsbatah), Lafdzul Jalalah mengandung sifat-sifat Uluhiyah, kemudian Al-Ahad, sifat Al-Ahadiyah ini terkandung dalam nama Allāh ﷻ Ahad, ada lagi dalam Ash-Shomad sifat Ash-Shomadiyyah yaitu sifat bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hajat-hajat mereka ini namanya sifat Ash-Shomadiyyah, sifat Al-Ahadiyah yaitu sifat ke-Esaan. لَمْ يَلِدْ itu sifat manfiyah tersendiri, لَمْ يُولَد itu sifat manfiyah tersendiri.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Berarti Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak, menafikan dari diri-Nya orang tua dan menafikan dari diri-Nya sesuatu yang setara atau sesuatu yang sama dengan Allāh ﷻ. Itulah nama dan juga sifat yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam surat Al-Ikhlas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top