Home > Silsilah Aqidah > Fadhlul Islām > Halaqah 94 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah Bag 02

Halaqah 94 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Fadhlul Islām
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-94 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Nabi ﷺ mengatakan

لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا

Orang yang mengamalkan amalan di hari-hari tersebut, yaitu di hari-hari kesabaran dia masih berusaha untuk mengamalkan apa yang ada di dalam agama Islam, yang sudah mati di antara manusia atau di antara masyarakat, dia amalkan, banyak orang yang tidak shalat malam dia bangun shalat malam, banyak orang yang tidak memakai hijab dia memakai hijab, dan sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang lain

مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا

maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang laki-laki

يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

lima puluh orang laki-laki yang dia beramal seperti amalan kalian, ini Nabi ﷺ berbicara di hadapan para sahabat. Beliau ﷺ mengabarkan tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang dan keutamaan orang yang bersabar dan menjelaskan tentang pahala orang-orang yang bersahabar di hari-hari tersebut, pahalanya besar, dia mengamalkan sebuah amalan maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengamalkan amalan tersebut مِثْلَ عَمَلِكم seperti amalan kalian.

Ketika Nabi ﷺ mengatakan مِثْلَ عَمَلِكم maka para sahabat radhiyallāhu ta’ala’anhum bertanya, yang diajak bicara di sini adalah para sahabat, كم disini yang dimaksud oleh Nabi ﷺ كم kita yang ada di depan beliau atau كم di masa tersebut, kok besar sekali lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ yang mengamalkan amalan ini.

قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ؟

Mereka bertanya ya Rasulullah ﷺ maksudnya adalah kami, yaitu para sahabatmu atau مِنْهُمْ, atau orang-orang yang ada di zaman kesabaran tadi di hari-hari kesabaran tadi,

قَالَ: «أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Nabi ﷺ mengatakan tidak atau bahkan adalah diantara kalian, maksudnya adalah para sahabat Nabi ﷺ. Kenapa di sini para sahabat radhiyallāhu ta’ala’anhum sampai bertanya demikian, karena kalau dibandingkan dengan amalan sahabat ini pahala yang sangat-sangat besar, kita tahu hadits Nabi ﷺ

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela para sahabatku karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, seandainya gunung uhud yang panjang yang ada di sebelah utara kota Madinah, seandainya ini semua adalah berupa emas, kalau ada salah seorang diantara kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, bermiliar-miliar, banyak ton, seandainya orang berinfak dengan satu kilogram emas saja itu sudah banyak, kita tidak bisa membayangkan berapa dia berinfak emas sebesar gunung uhud.

Dengan banyaknya, maksud dari hadits ini adalah berinfak dengan ikhlas, kalau riya meskipun satu gunung uhud juga tidak diterima, maksudnya adalah berinfak dengan jumlah sebanyak itu disertai dengan apa keikhlasan di dalam berinfak, pahalanya besar, kuantitasnya luar biasa, kualitasnya juga luar biasa, ikhlas dan banyak infaknya, tergabung di dalamnya dua keutamaan, menunjukkan pahala yang besar yang dimiliki oleh orang ini. Tapi kalau dibandingkan dengan satu mud, kalau ada seorang sahabat yang dia berinfak dengan satu mud makanan, kurma misalnya atau nasi kalau memang ada nasi, kemudian diinfakkan dia sedekahkan kepada orang miskin ternyata Nabi ﷺ mengatakan

مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ

Pahala yang ada di sini tadi tidak akan sampai pada satu mud yang dikeluarkan oleh seorang sahabat, padahal satu gunung emas tadi dengan ikhlas itu pahalanya sudah banyak sekali, belum lagi Allāh ﷻ melipatgandakan pahala shodaqoh tadi, tapi dibandingkan dengan satu mud yang dikeluarkan oleh sahabat maka pahala yang dibawa dan diterima oleh sahabat tadi meskipun hanya satu mud itu lebih besar pahalanya.

Dari sisi karena mereka lebih dalam keimanannya, lebih shodiq, lebih ikhlas dan keutamaan-keutamaan amalan hati yang lain, dari sisi yakinnya, dari sisi shidqnya, dari sisi keikhlasan mereka jauh lebih dalam dari pada orang-orang setelah mereka, abarruha qulūban, mereka adalah orang yang paling bersih hatinya, orang yang paling yakin dengan hari akhir sehingga dengan itulah mereka mendahului orang-orang yang datang setelahnya. Tidak mendahului kalian Abu Bakar as Shiddiq dengan banyaknya puasa, dengan banyaknya Shalat tapi ma waqara fi qalbihi wassoddaqot hu al a’mal, dengan sebab apa yang tertancap di dalam hati dia dan di ikuti dengan amalan.

Bahkan Nabi ﷺ mengatakan setelahnya

وَلَا نَصِيفَهُ

bahkan tidak separuhnya, satu mud saja kita sudah terheran-heran melihatnya, seandainya mereka berinfak dengan setengah mud, satu telapak tangan saja mereka infakkan itu masih jauh lebih besar pahala yang mereka dapatkan dari pada salah seorang diantara kita berinfak dengan emas sebesar gunung uhud.

Syahidnya di sini menunjukkan tentang besarnya pahala para sahabat Nabi ﷺ sehingga لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي jangan kalian mencela para sahabat, bagaimana kita mencela orang-orang yang memiliki kedudukan demikian, mengamalkan amalan sedikit saja pahalanya luar biasa yang Allāh ﷻ lipat gandakan kepada para sahabat Nabi ﷺ.

Makanya para sahabat bertanya di sini minha aw minhum, ternyata Nabi ﷺ mengatakan bal minkum, menunjukkan tentang besarnya pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang asing di hari-hari tersebut dan dia bersabar dan dia terus mengamalkan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ

أَجر خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

Bukan hanya satu orang sahabat bahkan lima puluh, seandainya dia mendapatkan pahala satu orang sahabat saja itu sudah pahala yang sangat besar apalagi lima puluh orang sahabat. Dia sabar dicela dan kucilkan oleh orang bahkan mungkin diancam atau ditayangkan di televisi dan seterusnya tapi dia terus bersabar, bersabar tidak meninggalkan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ di tengah-tengah manusia, di pasarnya, di kantornya, di sekolahnya dia terus berpegangan teguh dengan sunnah ini maka mereka mendapatkan

مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

Tentunya ini adalah dorongan bagi orang-orang di hari-hari tersebut untuk terus bersabar dan itu hanya sebentar, terus bersabar dan dia mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat, dan ketahuilah bahwasanya

إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا

Setelah kesusahan pasti di sana ada kemudahan, jangan kita lewatkan pahala yang sangat besar ini, lima puluh orang sahabat.
Dan jangan dipahami seperti yang dipahami oleh sebagian bahwasanya kita lebih baik daripada sahabat, karena ada yang memahami hadits ini dan mengatakan jamaah kita ini lebih baik daripada sahabat karena kita berpegang teguh dengan sunnah sehingga mereka meremehkan para sahabat Nabi ﷺ sampai hampir-hampir tidak terdengar mereka mengucapkan radhiallahu ‘anhu kepada para sahabat Nabi ﷺ, di sebutkan nama-nama beliau dan berlalu mereka dengar tapi jarang mereka mengatakan radhiallahu ‘anhu, bahkan tidak sebutkan keutamaan-keutamaan para sahabat di dalam majelis-majelis mereka kecuali atsar sahabat yang kira-kira mendukung tentang bid’ah-bid’ah mereka seperti misalnya

إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ

Baru di situ sebutkan keutamaan Umar Bin Khattab, bahwasanya beliau adalah yang dikatakan oleh Nabi ﷺ iktadu bi ladaini min ba’di, berarti kita harus mengikuti ucapan beliau dan beliau mengatakan لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ. Kalau memang pas berkaitan dengan yang mendukung bid’ahnya baru dipuji-puji para sahabat Nabi ﷺ adapun di sisi yang lain maka tidak disebutkan pujian mereka kepada para sahabat Nabi ﷺ.
Apakah pemahaman ini benar? Salah. Bukan berarti hadits ini menunjukkan keutamaan kita dibandingkan para sahabat Nabi ﷺ, kalau misalnya seorang sahabat meriwayatkan tentang sebuah amalan, namanya amalan A misalnya, mengamalkan sebuah amalan kemudian diikuti oleh orang-orang di hari-hari yang penuh dengan kesabaran. Ada seorang muslim yang mengikuti, dalam keadaan hari-hari yang sulit dia masih mengamalkan amalan ini, sebagaimana dalam hadits tadi dia akan mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat, dilipat gandakan pahalanya oleh Allāh ﷻ sehingga dia mendapatkan pahala 50 orang sahabat, kemudian sahabat yang pertama kali menyampaikan tadi, menyampaikan amalan A ini kepada tabi’in kemudian tabi’in menyampaikan kepada tabi’ tabi’in kemudian seterusnya sampai kepada orang ini, berarti dia mengetahui amal sholeh A ini asalnya dari seorang sahabat Nabi ﷺ dan sudah berlalu

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Ketika dia mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat tadi otomatis pahala yang dilipat gandakan sampai lima puluh orang sahabat tadi akan masuk ke kebaikan sahabat yang pertama tadi, berarti kira-kira bisa tidak kita menyaingi pahala para sahabat, tidak mungkin. Karena ketika pahala kita dilipat gandakan otomatis sahabat yang meriwayatkan hadits tadi juga dilipat gandakan, apalagi yang mengamalkan hadits tadi bukan kita saja, di sana ada orang lain, tidak mungkin kita bisa menyaingi pahalanya para sahabat radhiallahu ta’ala’anhu.

Semoga Allāh ﷻ meridhai mereka yaitu para sahabat radhiallahu ta’ala anhum dan hadits ini jelas menunjukkan kepada kita tentang keutamaan orang yang bersabar di hari-hari tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *