Home > Silsilah Aqidah > Fadhlul Islām > Halaqah 93 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah

Halaqah 93 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Fadhlul Islām
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-93 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَعَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيَّ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ، كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الآيَةِ

Dari Abu Umayyah, beliau mengatakan aku bertanya kepada Abā Tsa’labah, Asy-Sya’bānī, kemudian aku berkata, wahai Abā Tsa’labah bagaimana pendapatmu tentang firman Allāh ﷻ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ
[Al Ma”idah:105]

Wahai orang-orang yang beriman عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ, hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan hidayah, hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri tidak akan menyesatkan kalian orang yang tersesat apabila kalian mendapatkan hidayah, kalau kita yang memahami atau orang yang semisal dengan kita, seakan-akan hidup sendiri tidak perlu memperhatikan orang lain.

عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ

Hendaklah kalian perhatian terhadap diri kalian sendiri, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan petunjuk. Seakan-akan sendiri-sendiri, egoisme, ana mendapatkan hidayah, ana kenal sunnah, ya sudah aku memperhatikan diriku sendiri dan keluarga ana, adapun orang lain tersesat, mau masuk neraka itu urusannya. Ada sebagian orang yang memahami demikian, mungkin bukan kita saja, bahkan sebagian orang, sebagian salaf ada yang memahami demikian tapi ternyata pemahaman yang benar bukan seperti itu

قَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا

Kemudian Abu Tsa’labah mengatakan, ketahuilah demi Allāh ﷻ sungguh engkau, Abu Umayyah, telah bertanya orang yang pengalaman, artinya kamu tidak salah alamat, bertanya tentang ayat ini kepada saya itu bukan salah alamat, engkau bertanya kepada orang yang memang tahu, dan ini bukan sombong, bukan memamerkan dirinya tapi ini termasuk

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ

Dan menunjukkan bahwasanya kalau kita ingin bertanya, bertanyalah kepada orang yang memang antum memperkirakan dia tahu ilmunya, sesuai dengan qara’in, takhususnya apa misalnya, antum lihat bertanya kepada orang yang memang pas untuk ditanya, kalau tidak maka kita akan menyesal sendirian.

وَاللَّهِ, demi Allāh ﷻ engkau telah bertanya tentang ayat ini kepada orang yang pengalaman, orang yang punya ilmu tentang masalah ayat ini, karena makna khobir artinya adalah ālim (mengetahui) dan maknanya lebih dalam karena khobir berarti dia mengetahui perkara-perkara yang dalam, dia adalah ilm wa ziyadah (ilmu dan ada tambahannya) yaitu mengetahui perkara-perkara yang dalam, artinya beliau yaitu Abu Tsa’labah mengetahui tentang makna ayat ini secara mendalam

سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini, ini sebabnya, kenapa beliau mengatakan سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا karena beliau telah mendengar ilmunya dari Rasulullah ﷺ, dan Beliau ﷺ memang diutus oleh Allāh ﷻ untuk menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ

dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Quran supaya engkau menjelaskan kepada manusia

مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ
[An Nahl:44]

Apa yang diturunkan kepada mereka, yaitu Al-Quran. Makanya Abu Tsa’labah tadi bertanya langsung kepada Nabi ﷺ apa makna ayat ini, maksudnya adalah kok sepertinya maknanya adalah sendiri-sendiri, ternyata apa kata Nabi ﷺ

فَقَالَ: «بَلِ ائْتَمِرُوا بِالمَعْرُوفِ، وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِ

Beliau menjelaskan, bahkan hendaklah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar, karena seakan-akan ayat tadi tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, Nabi ﷺ mengatakan بَل bahkan hendaklah kalian terus beramar ma’ruf nahi mungkar, karena keumuman ayat

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

Terus hendaklah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar seperti

يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ

memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia, bersabar kita, mereka merusak, kita perbaiki. Inilah keanehan ahlussunnah, mereka terus memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia dan mereka sabar dan mengharap pahala dari Allāh ﷻ dalam melakukan itu semua.

Hendaklah kalian menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran

حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا

Sampai ketika kalian melihat ada kebakhilan yang sangat yang diikuti oleh manusia, banyak orang yang bakhil, sudah tidak melihat orang-orang yang senang bersedekah, rata-rata kebakhilan yang sangat dan kebakhilan tersebut diikuti, menunjukkan bahwasanya terkadang kalau misalnya seseorang menemukan kebakhilan di dalam dirinya tetapi tidak dia ikuti maka itu adalah bukan perbuatan yang tercela, kadang fitrah kita ada di dalam dirinya kebakhilan terhadap uang yang dia miliki, harta yang dia miliki, ada.

Tapi kita berusaha untuk memeranginya, kita keluarkan, kita paksa untuk mengeluarkan maka ini tidak tercela yang demikian. Seseorang tidak berdosa kalau memang dia berusaha untuk apa melawan tapi kalau sudah kebatilan tadi diikuti akhirnya seseorang menahan dirinya dari infaq, sama sekali dia tidak berinfak, bersedekah maka inilah yang tercela.

Sampai ketika kalian melihat kebakhilan-kebakhilan tadi diikuti oleh manusia dan ditaati oleh manusia, banyak orang yang tidak bersedekah

وَهَوًى مُتَّبَعًا

Dan engkau melihat banyak hawa nafsu yang diikuti, tersebar orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, hawa perutnya, hawa kemaluannya, hawa matanya, hawa telinganya, hawa mulutnya, banyak diantara manusia mengikuti hawa nafsunya, jarang diantara mereka yang bisa menahan diri dari hawa nafsunya

وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً

Dan engkau melihat dunia mulai didahulukan daripada akhirat

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا [ الأعـلى:16

Akan tapi kalian mendahulukan kehidupan dunia. Banyak orang yang lalai dengan kehidupan akhiratnya, tidak memperhatikan keselamatan dia di akhirat yang penting dia kenyang di dunia, yang penting dia bisa mendapatkan ini di dunia

وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ

Dan engkau melihat banyaknya orang yang ta’ajub dengan pendapatnya, setiap orang yang memiliki pendapat dia ta’ajub dengan pendapatnya, banyak sekali yang demikian di hari-hari seperti ini, setiap orang bisa membuat akun, bisa mengeluarkan pendapat, dengan bebasnya dia menyampaikan pendapatnya dan masing-masing merasa kagum dengan apa yang dia sampaikan, apa yang dia miliki

Kalau melihatnya demikian

فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ

Maka hendaklah engkau berpegang dengan dirimu sendiri, dalam keadaan seperti ini artinya kapan kita فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ setelah kita berusaha beramar ma’ruf nahi mungkar, kemudian setelah terjadi kerusakan yang banyak dengan keadaan-keadaan yang tadi disebutkan, kebakhilan yang diikuti, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang mulai di dahulukan daripada akhirat, ta’ajubnya setiap orang yang punya pendapat dengan pendapatnya فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ, maka hendaklah engkau memperhatikan dirimu

وَدَعْ عَنْكَ العَوَامَّ

Dan hendaklah engkau tinggalkan orang-orang awam

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ

Karena sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, maksudnya adalah hari-hari yang sangat parah, yang sangat dahsyat yang membutuhkan kesabaran yang ekstra dari kalian. Sampai disebutkan di sini syiddahnya dan sangat pedih nya dan sangat parahnya hari-hari tersebut

الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ

Orang yang berpegang dengan agamanya di hari-hari tersebut, bukan hanya satu hari tapi berhari-hari, orang yang berpegang dengan agamanya yaitu menjalankan Islam yang murni, bertauhid, mengikuti sunnah, berdakwah kepada sunnah di hari-hari tersebut itu diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.

Bagaimana orang yang menggenggam bara api dia akan merasakan panasnya, kulit ini adalah yang paling merasakan ketika terjadi panas atau terjadi dingin, dialah yang pertama kali akan merasakan. Orang yang berpegang teguh dengan agama di saat itu seperti orang yang memegang bara api yaitu sangat pedih, sangat panas, sangat berat.

Dikucilkan, dikatakan demikian dan demikian, berat hidup di hari-hari tersebut diibaratkan seperti orang yang memegang bara api. Kalau dia pegang maka terus dia akan merasakan panasnya tapi kalau dia lepas bara api tadi dia akan merasa enak sementara dianggap oleh orang lain, itu sementara saja, akhirnya belum tentu dia akan terus-menerus dianggap oleh orang lain karena Allāh ﷻ Dia-lah yang membolak-balikkan hati manusia. Dan disebutkan dalam hadits, orang yang melakukan sesuatu untuk mendapatkan ridho manusia dengan membuat marah Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan marah kepadanya.

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ

Barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan kemarahan dari Allāh ﷻ, dia sudah merasa kepanasan, dia lepas, ingin mendapatkan ridho manusia, legah sebentar tapi belum tentu dia akan terus diridhoi oleh manusia, karena hati manusia di tangan Allāh ﷻ

Barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan cara membuat Allāh ﷻ murka maka Allāh ﷻ

سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ

Allāh ﷻ akan murka kepada orang tersebut, bukan hanya itu

وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

dan akan menjadikan manusia tadi membenci kepada orang tersebut.

Diberikan sesuatu yang berlawanan dari keinginannya, berarti dia rugi dua kali atau lebih. Pertama dia tinggalkan al-haq kemudian yang kedua mendapatkan kemarahan dari Allāh ﷻ kemudian ketiga manusia akan membencinya. Dan ini banyak kejadian yang demikian, justru orang-orang yang dia meninggalkan ridho Allāh ﷻ untuk mendapatkan ridho manusia akhirnya dia justru malah dibenci oleh manusia itu sendiri.

Maka Beliau ﷺ mengatakan

مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ

dia seperti orang yang memegang bara api, kalau dia pegang terus maka dia akan pedih, maka dia akan rasakan panasnya dan kalau dia lepaskan maka dia akan melepaskan agamanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *