Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 044: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 6)

Halaqah 044: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 6)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه لله تعالى
📗 Kitab At-Tauhid
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Kita kembali lanjutkan pada hadīts terkait dengan anjuran untuk mentauhīdkan Allāh dan menjauhi semua bentuk kemusyrikan.

وَعَن معَاذبن جبل رَضِي الله عَنهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم على حمَار يُقَال لَهُ عفير فَقَالَ يَا معَاذ هَل تَدْرِي حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرُهُمْ فَيَتَّكِلُوا

Pada pembahasan yang lewat, kita telah sampaikan terkait dengan materi ini dan kita sedikit mengulang arti dari hadīts yang pernah kita sampaikan.

وَعَن معَاذبن جبل رَضِي الله عَنهُ

Dari Mu’ādz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu.

Mu’ādz ibn Jabal adalah shahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau adalah Mu’ādz ibn Jabal ibn Amr Al-Anshāriy.

Beliau termasuk shahabat yang mulia, termasuk pembesar para shahabat. Beliau juga termasuk dari 70 orang yang ikut bai’at ‘Aqadah kedua.

Beliau shahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang pernah ikut perang Badar dan beberapa perang yang sesudahnya.

Beliau shahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang pintar di dalam hukum, mahir dalam Al-Qur’ān dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mengutusnya ke negeri Yaman.

Salah satu yang diberitakan bahwasanya beliau meninggal di negeri Syām tahun 38 sesudah Hijriyyah.

Mu’ādz radhiyallāhu ‘anhu suatu saat pernah berkata:

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم على حمَار يُقَال لَهُ عفير

Dahulu aku pernah dibonceng oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di atas keledai yang bernama ‘Ufair.

فَقَالَ يَا معَاذ هَل تَدْرِي حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟

“Wahai Mu’ādz! Tahukah engkau apa hak Allāh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allāh?”

قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Aku menjawab, “Allāh dan Rasūl-Nya yang lebih mengetahui.”

قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Hak Allāh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Maka di sini, yang pertama adalah ibadah dan yang kedua tidak menyekutukan Allāh. Ada perintah dan ada larangan.

Begitu kita berbicara perintah, maka perintah yang paling agung adalah beribadah.

Dan ibadah pada dasarnya adalah haram, kecuali yang telah ditegaskan.

Berbeda dengan makanan. Tatkala kita berbicara makanan maka semua makanan pada dasarnya adalah halal, kecuali apa yang diharamkan.

Yang diharamkan itu menjadi kewajiban hamba untuk menjauhinya.

Hikmah besar tatkala Allāh menjadikan semua bentuk makanan itu (tadinya) halal dan Allāh tidak menyebutkan nama makanan satu persatu.

Coba dibayangkan! Kalau nama makanan disebut satu persatu bisa sampai 1/2 juz , isinya membahas masalah makanan: gedang goreng, gedang godok, gedang klutuk, gedang becici, gedang Ambon, gedang ini, pisang ini. Mohon maaf orang jawa menyebut pisang itu gedang.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan melalui lisan Rasūl-Nya:

وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Begitu kita berbicara larangan, maka yang paling terdepan begitu kita berbicara larangan adalah seseorang menyekutukan Allāh.

Dan demikianlah seorang hamba memiliki kewajiban, apa yang harus ditunaikan kepada Allāh.

Pembahasan materi pada kali ini.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan:

وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ

Apakah hak yang di dapat oleh hamba dari Allāh?

Hak yang harus di lakukan oleh Allāh kepada hamba-Nya.

Maka dikatakan:

ما كتبه على نفسي ووأدهم به من ثواب تفظلن منه و إحسان

Apa-apa saja yang telah Allāh tetapkan atas diri-Nya. Apa-apa saja yang menjadi kewajiban Allāh kepada hamba-Nya.

Menunjukkan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dzat yang Maha Kasih Sayang, karena Allāh telah menetapkan apa yang semestinya akan dikerjakan oleh Allāh.

Kapan?

Selama hamba itu masih di dunia, bahkan di akhirat nanti akan mendapatkan haknya pula.

Maka dikatakan: ما كتبه على نفسي

Ikhwan Akhawatiy Fīlllāh Rahimakumullāh.

Begitu kita berbicara: حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ , maka di sinilah seorang mukmin hendaknya husnudzan billāh (husnudzan kepada Allāh).

Kenapa?

Karena Allāh telah menetapkan apa yang bakalan Beliau lakukan terhadap hamba-Nya, apa yang akan Allāh kerjakan untuk maslahat hamba-Nya.

وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَاد

Allāh sangat kasih sayang terhadap hamba-Nya.

Bahkan Allāh memberikan pernyataan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 21)

Begitu Allāh menciptakan manusia, Allāh tidak akan membiarkan hambanya begitu saja, tidak!

Allāh akan memiliki kewajiban atas Diri-Nya untuk memberikan nafkah, untuk memberikan rezeki, untuk memberikan penghidupan, untuk memberikan udara. Bahkan Allāh memberikan apa yang kita minta dan apa yang tidak kita minta.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *