Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 043: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 5)

Halaqah 043: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 5)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه لله تعالى
📗 Kitab At-Tauhid
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Kewajiban yang berikutnya yang harus dilakukan seorang hamba adalah:

لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu pun dalam hal peribadatan).”

Maka dikatakan tidaklah ada suatu larangan yang paling harus diperhatikan yaitu untuk tidak menyekutukan Allāh.

Di dalam ayat terakhir surat Al Kahfi, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

(QS Al Kahfi: 110)

Allāh menutup ayat-Nya:

وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

Agar mereka tidak menyekutukan Allāh dalam perkara ibadah apapun.

Mohon maaf, terkadang orang jawa percaya dengan kekuatan yang ada pada batu akik.

Misalnya:

Seseorang meyakini kekuatan batu akik, kemudian dia berkata, “Seandainya waktu tabrakan kemarin aku membawa batu akik, in syā Allāh aku tidak terkapar di rumah sakit hari ini.”

Māsyā Allāh, masih menggunakan “in syā Allāh”, sesuatu yang telah lewat (telah berlalu) tidak perlu menggunakan kata “in syā Allāh”.

Contoh: “Tadi pagi sudah makan, mas?” “In syā Allāh, sudah.”

Untuk menjawab pertanyaan ini tidak perlu menggunakan kata “in syā Allāh” karena kejadiannya sudah terjadi.

Sebagian orang percaya batu akik memiliki kekuatan khusus, dan mengatakan, “Aku, kalau bekerja tidak menggunakan batu akik badan ku lemes,” ini tidak benar.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau mencium hajar aswad. Umar bin Khaththab radhiyallāhu ‘anhu, ketika beliau berada di depan Ka’bah (di depan hajar aswad) beliau berkata kepada hajar aswad.

⇒ Hajar aswad adalah batu surga yang dulunya berwarna putih melebihi putihnya salju, karena banyaknya dosa yang dilakukan oleh anak keturunan Adam maka berubahlah batu tersebut menjadi berwarna hitam.

Umar bin Khaththab berkata kepada hajar aswad:

وَاللَّهِ أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Demi Allāh, aku tahu engkau adalah batu, yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudharat (bahaya). Seandainya bukan karena aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”

Māsyā Allāh.

Tauhīd: و لا يشرك به شيئاً

Menggunakan cincin atau batu akik tidak apa-apa. Yang tidak benar adalah ketika dia memakai cincin atau akik tersebut kemudian dia meyakini batu tersebut memiliki kekuatan.

Suatu saat ada salah seorang jamaah haji berkata kepada kami, “Ustdaz saya pernah dapat warisan dari orang tua berupa keris, dan beliau berpesan agar setiap 35 hari (orang jawa mengatakan “selapan”) harus dicuci dan dirumat dengan menggunakan bunga-bunga tertentu. Jika tidak dicuci menggunakan bunga-bunga tertentu, maka keris itu akan keluar dari sarung (rumah keris tersebut).”

Kemudian kami bertanya, “Sekarang bagaimana mbah, apakah setiap selapan (35 hari) sekali bapak cuci dan rumat?”

Beliau menjawab, “Sekarang keris itu saya buang ke sungai, karena saya sudah belajar tauhīd.”

Lalu kami bertanya, “Apakah manfaat tauhīd?”

Beliau menjawab, “Dengan tauhīd saya menjadi tenang.”

Kekuatan hanyalah milik Allāh. Tidak benar jika ada barang-barang tertentu yang memiliki kekuatan yang sifatnya khusus.

Kemuliaan itu milik Allāh, milik Rasūl-Nya dan milik kaum mukminin.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

_”Kemuliaan itu dimiliki oleh Allāh, dimiliki oleh Rasūl-Nya dan dimiliki oleh orang-orang yang beriman.”

(QS Al Munafiqun: 8)

Tentunya di zaman sekarang banyak orang yang sedang banyak masalah, ada sebagian orang yang mempunyai masalah kemudian dia kembalikan urusannya kepada Allāh sehingga dia berada di jalan yang benar.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Larilah kalian menuju Allāh.”

(QS Adz Dzariyyat: 50)

Tapi ada sebagian orang, begitu memiliki masalah dia tidak mengembalikan masalahnya kepada Allāh, tetapi lari kepada bebatuan, lari kepada keris, lari kepada jimat yang dengannya dia memiliki anggapan di dalamnya ada kekuatan.

نكتفي بهذا القدر

Demikian, semoga bermanfaat, In syā Allāh kita sambung lagi.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *