Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ > Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ (Bagian 04)

Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ (Bagian 04)

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ

============================

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله, الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صلى و سلم و بارك على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Ikhwāh sekalian dan juga akhawāt rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kemudian yang ketiga beliau mengatakan:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِـيْرًا فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِـيْرًا

Kemudian beliau mengatakan :

“Sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian (yaitu) hidup sepeninggal Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan melihat perubahan, melihat umat Islām setelah itu. Maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”

Di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam umat Islām adalah umat yang satu, (semuanya sama) dari segi aqidahnya, segi amaliyyah, cara shalātnya, cara dzikirnya semuanya sama seperti yang dilakukan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Semuanya sama dari timur sampai barat dari utara sampai selatan. Semuanya sepakat tidak ada perpecahan diantara mereka.

Aqidahnya adalah aqidah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, cara shalātnya, cara berpuasanya, cara dzikirnya semuanya sama dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan ini dialami oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum.

Manhaj mereka satu, aqidah mereka satu, ibadah mereka caranya satu, maka Nabi mengatakan (mengabarkan) orang yang hidup diantara kalian lebih banyak lagi atau lebih panjang, maka dia akan melihat banyak perselisihan-perselisihan, baik di dalam masalah aqidah (mulai keluar orang-orang yang mengingkari takdir yang sebelumnya semua beriman dengan takdir).

Ketika mulai masuk Islām, orang-orang yang dahulunya diatas agama selain Islām kemudian masuk ke dalam agama Islām, ada keyakinan pemikiran yang masih tersisa di dalam hatinya, sehingga ada diantara mereka yang terjatuh di dalam bid’ah qadariyyah dimana mereka mengingkari takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan ini terjadi di zaman sahabat tepatnya di zaman Abdullāh Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā.

Muncul sebuah firqah (sebuah aliran) yang mereka mengingkari takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla (terjadi perpecahan). Mereka mulai menyimpang, mulai menjauh dari sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Rasūlullāh mengatakan:

أن تؤمن بالقدر خيره و شره

“Engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk”

Tetapi mereka mengatakan, “Tidak ada takdir”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, كل شيء بقدر -segala sesuatu adalah dengan takdir حتى العجز والكيسز – sampai lemahnya manusia, kecerdasan manusia adalah dengan takdir.

Mereka mengatakan: “Tidak ada takdir”.

Berarti disini mulai menyelisihi, muncul orang-orang khawarij yang mereka mengatakan bahwanya,”Pelaku dosa besar keluar dari agama Islām”. Padahal ini bukan keyakinan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para sahabat.

Keyakinan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para sahabat, bahwasanya “Pelaku dosa besar seperti zina, riba, melakukan dosa besar yang mengurangi keimanannya tetapi tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām”.

Betul ini adalah dosa besar, mengurangi iman, membahayakan iman seseorang, tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Dalīlnya banyak dari Al-Qur’ān maupun dari Hadīts, diantaranya kelak di hari kiamat ada syafa’at.

Untuk siapa?

Diantaranya adalah untuk pelaku dosa besar yang masuk kedalam Neraka kemudian mereka keluar dengan sebab syafa’atnya para nabi atau malaikat atau orang yang shalih.

Meskipun didalam hatinya ada keimanan (sekecil apapun), selama mereka tidak melakukan kesyirikan yang membatalkan keislāman mereka, maka ada kesempatan untuk masuk ke dalam Surga dan keluar dari Neraka.

Ini keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamā’ah, keyakinan para sahabat, keyakinan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kemudian mulai muncul sebuah firqah yang mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para sahabat meyakini keharusan untuk mendengar dan taat kepada penguasa.

Orang-orang khawarij mengatakan bahwasanya kita harus memerangi penguasa yang zhālim, kalau mereka menzhālimi rakyatnya maka harus kita perangi, kalau mereka berbuat maksiat maka kita harus perangi padahal Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

اسمع و اطيع و إن ضرب ظهرك و إن اخد مالك

“Dengarkanlah dan juga taatilah penguasa meskipun mereka mengambil hartamu, meskipun mereka memukul punggungmu”

⇒ Ini ucapan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Kemudian muncul disana Jahmiyyah, Mu’tazilah dan juga aliran-aliran yang lain bahkan khawarij berpecah satu dengan yang lain.

Beliau mengabarkan فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِـيْرًا – dia akan melihat perselisihan yang banyak dan masing-masing aliran tersebut mengaku bahwasanya dirinya yang benar, masing-masing aliran tersebut mengajak dan menyeru kepada alirannya.

Dalam keadaan demikian bagaimana sikap kita?

Dan ini termasuk tanda kenabian beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, karena setelah itu terjadi perselisihan yang banyak, sebagaimana kenyataannya demikian.

Sebagaimana yang dikabarkan oleh beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan ini menunjukkan tentang kenabian beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam (terjadi sesuai dengan apa yang beliau kabarkan).

Thayyib.

Ketika terjadi perselisihan yang banyak (banyak aliran) beliau memberikan wasiat, dan ini menunjukkan sayangnya beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada umat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Tidak membiarkan mereka dalam keadaan binggung, dalam keadaan resah, dalam keadaan tidak tahu kemana arah mereka.

Beliau tahu dan mengabarkan bahwasanya akan terjadi perselisihan dan tahu bahwasanya disana akan ada orang yang binggung kemana dia harus mengikuti.

Ada sebagian manusia ketika terjadi perselisihin yang banyak diantara umat Islām, kemudian mereka putus asa karena melihat banyaknya aliran-aliran akhirnya mereka menjauh dari agama.

Mengatakan,”Kalau orang-orang Islām saja terpecah belah, kenapa saya menjadi orang-orang yang taat”, sehingga dia lebih memilih sibuk dengan dunianya, meninggalkan dan tidak memperhatikan agamanya (sebagian orang demikian).

Melihat perpecahan justru menjauhi agama secara keseluruhan, ada diantara mereka ketika melihat perpecahan ikut terhanyut dengan satu aliran, mengikuti aliran A, mengikuti aliran B dan seterusnya, atau yang ketiga dia mengatakan seluruh aliran itu baik. Kamu mau ikut aliran A, B, C semuanya sama yang penting istiqāmah di dalam aliran tersebut.

⇒ Ini sikap manusia atau berbagai sikap manusia ketika menghadapi perpecahan yang ada.

Bagaimana petunjuk Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam?

Apakah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh kita menjauh dari agama? Tidak.

Apakah kita disuruh mengikuti aliran tersebut? Tidak juga.

Apakah beliau menyuruh kita mengatakan bahwasanya semua aliran itu sama? Tidak.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan wasiat. Kalau sampai melihat perpecahan yang banyak فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي – maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku (kembali kepada sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Jangan ikuti aliran-aliran tadi, dan jangan mengatakan bahwasanya seluruh aliran itu sama tetapi beliau mengatakan فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي -hendaklah kalian berpegang (ilzam) فعليكم artinya hendaklah kalian berpegang (pegang teguh sunnahku).

Yang dimaksud dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah jalan beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah jalan hidup beliau dan jalan hidup beliau bisa berupa ucapan (hadīts-hadīts yang berupa ucapan beliau) maka ini jalan hidup beliau.

Dan jalan hidup beliau bisa berupa perbuatan sunnah, terkadang bisa perbuatan atau bisa berupa takrir (persetujuan) beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka ini masuk di dalam sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Jadi kalau terjadi perselisihan, jalan keluarnya adalah kembali kepada s

unnah bukan mengikuti aliran tersebut, mengikuti perpecahan tersebut dan tidak mungkin seseorang bisa kembali kepada sunnah kecuali apabila dia mengetahui sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Jadi kembali kita harus belajar, supaya kita tidak binggung menghadapi perpecahan. Ketika kita melihat perselisihan, kita lihat mana yang sesuai dengan sunnah. Kalau sudah kita mengetahui sunnah tersebut maka kita pegang erat sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي – hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku.

Kemudian beliau mengatakan :

وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

“Dan hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahnya para khulafaur rasyidin”

Mereka adalah para khulafa’ yang datang setelah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang menggantikan kedudukan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam membimbing umat dan memimpin umat.

Jumlahnya ada empat yaitu Abū Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khaththāb, Utsman bin Affan dan Ali bin abi Thalib.

Dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

خلافة النبوة ثلاثون سنة

“Kekhilafahan nubuwah berlangsung selama 30 tahun”

Dan kalau dihitung kekhilafahan Abū Bakar sampai Ali bin Abi Thalib kurang lebih 30 tahun, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Maka beliau menyuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau ketika terjadi perselisihihan yang banyak, kemudian yang kedua wasiat beliau kita harus berpegang teguh dengan sunnah para khulafaur rasyidin.

Apakah sunnah para khulafaur rasyidin, berbeda dengan sunnahnya Rasūlullāh?

Jawabannya, Tidak.

Karena sunnah para khulafaur rasyidin adalah supaya kita berpegang teguh dengan sunnahnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Para khulafaur rasyidin adalah orang-orang yang sangat berpegang teguh dengan agama sehingga mereka disifati dengan Ar-Rasyidin.

Apa maksud dengan Ar-Rasyidin?

Ar-rusy (kelurusan) ini apabila seseorang memiliki ilmu dan amal. Memiliki ilmu dan amal maka disifati dengan Ar-Rasyid dan inilah yang dimiliki oleh para khulafaur rasyidin dari Abū Bakar sampai Ali bin abi Thalib radhiyallāhu ‘anhum.

Selain mereka adalah seorang khalifah (pemimpin negara), ternyata mereka adalah orang yang sangat berilmu ditambah lagi mereka sangat mengamalkan ilmunya. Dan ini jarang yang demikian.

Jarang seorang pemimpin memiliki ilmu yang luar biasa dalam segi agama dan dia mengamalkan ilmunya.

Ternyata ini dimiliki oleh para khulafaur rasyidin dan disana banyak contoh bahwasanya mereka (Abū Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khaththāb, Utsman bin Affan dan Ali bin abi Thalib) ilmu mereka luar biasa dan amalan mereka terhadap agama luar biasa.

Sekali lagi, ini jarang dimiliki oleh pemimpin, biasanya pemimpin tidak memiliki ilmu, dia hanya sibuk dengan dunianya sehingga ilmunya kurang atau seandainya dia memiliki ilmu maka dia tidak mengamalkan.

Tetapi ternyata para khulafaur rasyidin, mereka disifati oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan Ar-Rasyidin karena mereka berilmu dan juga beramal.

وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

Oleh karena itu para ulama ketika berbicara tentang apa yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallāhu ‘anhu berupa adzan yang pertama, ketika hari Jum’at. Maka para ulama tidak mengatakan ini adalah bid’ah.

Kenapa?

Karena ini masuk di dalam sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ – Berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin dan diantara sunnah khulafaur rasyidin yang dilakukan oleh Utsman bin Affan di zaman beliau adanya adzan yang pertama ketika Jum’at sehingga tidak dikatakan bahwasanya adzan yang pertama adalah bid’ah. Karena pernah disunnahkan oleh Utsman bin Affan dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ.

Kemudian beliau mengatakan:

عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berpegang teguh atau mengigit sunnahku tersebut dengan gigi geraham kalian”

Ini adalah ungkapan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menunjukkan apabila seseorang berpegang teguh dengan sunnah maka hendaklah dia kuat-kuat memegang sunnah tersebut.

Bersabar karena orang yang memegang teguh sunnah maka dia akan diuji, diuji dari keluarganya, diuji dari tetangganya, diuji dari temannya, dari atasannya, dari bawahannya, maka beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian gigit sunnahku tersebut dengan gigi geraham kalian”

Bersabar dan tabah dalam menghadapi ujian sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu beliau dan para sahabat tegar di dalam memegang agama ini, meskipun dicela, disiksa, mendapatkan ujian bahkan diusir dari daerahnya (Mekkah) yang merupakan tempat kelahiran mereka dan disitu ada harta dan keluarga mereka. Kemudian mereka diusir karena mereka berpegang teguh dengan agama ini.

عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Keharusan kita untuk istiqāmah dan bersungguh-sungguh di dalam memegang agama Allāh.

Baik, mungkin itu yang bisa kita sampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top