Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 36 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Shalat & Zakat Dan Tafsir Tauhid (bag 01)

Halaqah 36 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Shalat & Zakat Dan Tafsir Tauhid (bag 01)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

سم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-36 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Beliau mengatakan :

ودليل الصلاة والزكاة وتفسير التوحيد قوله تعالى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ [البينة:5]

Setelah membahas tentang syahadah yang merupakan rukun Islām yang pertama. Beliau menyebutkan tentang dalīl wajibnya Shalāt dan Zakat.

Beliau menyebutkan dalil tersendiri di luar dalīl بني الإسلام على خمس.

Disini (QS. Al-Bayiyinah 5) beliau gabungkan dalīl Shalāt dan Zakat dalam satu ayat.

Di dalam Al-Qur’ān, Allāh banyak menggandengkan antara Shalāt dengan Zakat. Allāh menyebutkan Shalāt kemudian setelahnya Zakat.

Seperti :

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ

” Maka dirikanlah Shalāt dan tunaikan Zakat”

فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخْوَٰنُكُمْ فِى ٱلدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ ٱلْـَٔايَـٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan Shalāt dan menunaikan Zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS. At-Tawbah: 11)

فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّوا۟ سَبِيلَهُمْ

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan Shalāt dan menunaikan Zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allāh Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS. At-Tawbah: 5)

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

“Dan dirikanlah Shalāt, tunaikanlah Zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”(QS. Al-Baqarah:43)

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ

“Dirikanlah Shalāt dan tunaikanlah Zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu….” (QS. Al-Baqarah:83)

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم

“Dan dirikanlah Shalāt dan tunaikanlah Zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu” (QS. Al-Baqarah: 110)

وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ

“Dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan Shalāt, dan menunaikan Zakat” (QS. Al-Baqarah: 177)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shālih, mendirikan Shalāt dan menunaikan Zakat….” (QS. Al-Baqarah: 277)

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوٓا۟ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalāt tunaikanlah Zakat!” (QS. An Nissā:77)

⇒ Dibanyak ayat Allāh menggandengkan antara Shalāt dengan Zakat.

Sehingga beliau rahimahullāh di dalam kitāb ini menggandengkan Shalāt dan Zakat sebagaimana Allāh menggandengkan diantara keduanya.

Dan beliau mendatangkan firman Allah yang ada di dalam surat Al-Bayyinah.

Kemudian beliau mengatakan :

و تفسير التوحيد

Disini beliau rahimahullāh sedang membahas Shalāt dan Zakat tetapi beliau selipkan dengan tafsiri tauhīd.

Kalau ditanya kenapa beliau melakukan demikian? Karena beliau ingin menunjukkan kepada kita tentang kedudukan tauhīd.

√ Ketika diawal risalah beliau membahas tentang Tauhīd.

√ Dirisalah yang kedua beliau membahas tentang Tauhīd.

√ Ketika membahas tentang Ma’rifatullāh membahas tentang Tauhīd.

√ Ketika membahas tentang Ma’rifaru Dīnil Islām (al-istislāmulillāhi bittauhīd) langsung disebutkan Tauhīdnya.

√ Sebelum beliau masuk kepada Ushūlu Ats-Tsalātsah disebutkan juga tentang Tauhīd (wa ‘adzamu mā amarallāhu bittauhīd)

Ketika beliau menyebutkan Shalāt dan Zakat dan ternyata di dalam ayat ini disinggung juga tentang tauhīd, maka beliau mengatakan wa tafsiri tauhīd dan mungkin ini sebab yang kedua kenapa beliau mendatangkan ayat ini.

⇒ Karena di dalam ayat ini ada perintah untuk bertauhīd.

Tauhīd adalah asal dari agama kita (pondasi agama) Inilah agama para nabi dan rasūl (Dīnul tauhīd Dīnul Islām).

Beliau gandengkan Tauhīd dengan mengenal Islām, beliau gandengkan Tauhīd dengan mengenal Nabi Muhammad.

Karena Tauhīd adalah أصول (pondasi) dengannya manusia diperintahkan dan dengan sebabnya manusia diciptakan.

Allāh berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allāh dengan ikhlās, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan Shalāt dan menunaikan Zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

(QS. Al-Bayyinah :5)

Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh dalam keadaan mereka mengikhlāskan agama.

Tidaklah mereka diperintahkan kecuali dengan apa yang disebutkan setelahnya.

• Perintah Pertama :

لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

Perintah untuk bertauhīd dan larangan untuk melakukan kesyirikan dan disini ada tafsir tauhīd sebagaimana beliau ketika menyebutkan وتفسيرها الذي يوضحها.

Beliau menyebutkan :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {الزخرف:26-28}

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ {آل عمران:64}

Maka ini juga termasuk tafsirnya.

لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّه

“Kecuali untuk menyembah Allāh”

Apa makna menyembah Allāh?

Tauhīdullāh, Illa Liya’budūn (إِلَّا لِيَعۡبُد), Liyuwahidun (ليوحّد).

Sebagaimana ini adalah ucapan Abdullāh ibnu Abbās.

لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ

Kecuali untuk menyembah Allāh maksudnya adalah ليوحّدوا الله .

Sebagaimana Allāh mengatakan لِيَعۡبُدُ maksudnya adalah ليوحّد.

Ini sudah menunjukkan tentang tauhīd ditambah lagi مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ (mengikhlāskan agama untuk Allāh).

Dan ٱلدِّينَ terkadang maknanya adalah ibadah, mengikhlāskan ibadah hanya untuk Allāh. Ini adalah tauhīd.

Ditambah Allāh mengatakan حُنَفَآءَ.

Makna حُنَفَآءَ jamak dari hanīf yang artinya adalah Muqbil alāllāh (orang yang menghadapkan dirinya hanya kepada Allāh), ini juga tauhīd.

⇒ Konsekuensi ini semua adalah meninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allāh.

√ Tauhīd artinya menunggalkan, mengesakan artinya selain Allāh ditinggalkan.

√ Kalau selain Allāh masih dipakai berarti belum mukhlis – حُنَفَآءَ- hanya kepada Allāh saja.

√ Kalau dia masih kepada selain Allāh berarti belum hanīf masih condong kesana dan kesini.

√ Kalau hanīf hanya satu saja.

Berarti :

لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

Ini adalah tafsiru tauhīd harus ada nāfiyyun dan isbat.

Kemudian setelahnya:

• Perintah Kedua dan Ketiga :

وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ

“Dan mereka mendirikan Shalāt dan juga membayar Zakat”

وَمَآ أُمِرُوٓاْ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan”

⇒ Asal dari perintah adalah Wajib.

Menunjukkan wajibnya Shalāt dan wajibnya Zakat disamping ayat-ayat yang lain yang banyak tadi.

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ

Dan Allāh mengatakan :

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْعَـٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَـٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةًۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allāh dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allāh, dan Allāh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Tawbah:60)

Dan terakhir Allāh mengatakan :

فَرِيضَةًۭ مِّنَ ٱللَّهِ

“Ini adalah kewajiban dari Allāh”.

Jadi mendirikan Shalāt dan membayar Zakat berdasarkan ayat ini hukumnya adalah wajib.

Beliau mendatangkan ayat ini, karena beliau ingin menunjukkan kepada kita tentang wajibnya Shalāt dan Zakat.

“Barangsiapa yang mengingkari kewajiban Shalāt dan kewajiban Zakat maka dia telah keluar dari agama Islām”

Misalnya mengatakan:

“Shalāt tidak wajib”

Meskipun dia melakukan shalāt, dia shalāt bersama kita, tapi kalau dia mengatakan shalāt tidak wajib maka dia telah mengingkari sesuatu yang Ma’lumum Fīdīni Bidharurah (sesuatu yang ma’lum diketahui dalam agama kita).

Semua orang mengetahui bahwa Shalāt adalah wajib kemudian dia ingkari maka dia telah keluar dari agama Islām.

Sebagaimana orang yang menghalalkan sesuatu yang haram yang ma’lum di dalam agama ini bidharurah.

Keharaman yang dhāhir, yang semua orang Islām mengetahui bahwa itu adalah haram kemudian dia halalkan, maka ini bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top