Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 12 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 12)

Halaqah 12 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 12)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Beliau mengatakan:

وأعظم ما أمر الله به التوحيد وهو : إفراد الله بالعبادة

Dan sebesar-besar apa yang Allāh perintahkan adalah tauhīd.

Kalau kita ditanya apa perintah Allāh yang paling penting (paling besar) di dalam Al Qurān, didalam As Sunnah? Maka tidak ada jawaban yang benar kecuali mengatakan At Tauhīd (MengEsakan Allāh didalam ibadah). Inilah amalan dan perintah yang paling besar.

Disana ada perintah untuk shalāt, untuk zakāt, untuk puasa, perintah untuk bersedekah, menghormati anak yatim, tetapi perintah yang paling besar diantara perintah-perintah tersebut adalah perintah untuk bertauhīd (meng-Esa-kan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah).

Suatu saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh sebagian shahābat, “Amalan apa yang paling afdhal, wahai Rasūlullāh?”. Beliau mengatakan, “Yang paling afdhal adalah beriman kepada Allāh dan juga Rasūl Nya”.

Yang Allāh sebutkan didalam Al Qurān, perintah yang pertama kepada manusia adalah perintah untuk bertauhīd (sebagaimana yang Allāh sebutkan didalam surat Al Baqarah ayat 21).

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 21)

Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian, ٱعْبُدُوا۟ ini adalah perintah, sembahlah Rabb kalian, tidak ada sebelumnya perintah-perintah.

Ini adalah perintah pertama yang Allāh sebutkan didalam Al Qur’ān, perintah kepada manusia semuanya.

Apa perintah Allāh?

Hendaklah kalian menyembah, beribadah kepada Rabb kalian.

Siapa Rabb kalian?

ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Rabb kalian adalah yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla, adapun yang tidak menciptakan kalian maka jangan disembah.

Dzat yang seperti inilah yang hendaknya kalian sembah dan kalian ibadahi dan kalian serahkan ibadah kalian hanya kepada Nya, supaya kalian bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Perintah yang paling besar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada kita adalah perintah untuk bertauhīd.

Didalam beberapa ayat didalam Al Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan beberapa hak (beberapa wasiat) dan wasiat pertama yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebutkan adalah wasiat untuk bertauhīd dan hak yang pertama yang hendaknya ditunaikan oleh seorang hamba adalah hak tentang tauhīd.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًۭا فَخُورًا

“Sembahlah Allāh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allāh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

(QS. An-Nissā’: 36)

Allāh menyebutkan didalam ayat ini 10 hak:

√ Hak untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
√ Hak untuk orang tua.
√ Hak untuk kaum kerabat.
√ Hak untuk tetangga yang dekat maupun yang jauh.
√ Hak untuk anak yatim.
√ Hak untuk orang miskin.
√ Hak untuk budak-budak yang dimiliki oleh seseorang.

Didalam ayat ini Allāh menyebutkan beberapa hak yaitu 10 hak dan yang pertama kali Allāh sebutkan adalah hak untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla yaitu وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا (sembahlah Allāh dan janganlah kalian menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun)

Didalam surat yang lain (QS. Al Isrā), Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menetapkan (mewajibkan) supaya kalian jangan menyembah kecuali kepada Nya dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua kalian.”

(QS. Al-Isrā: 23)

Sebelum Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan hak orang tua dan juga hak anak dan larangan untuk mendekati fāhisah, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang kewajiban mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian pula dalam ayat yang lain:

قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا ۖ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَـٰدَكُم مِّنْ إِمْلَـٰقٍۢ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allāh (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”

(QS. Al-‘An’ām: 151)

Demikianlah Allāh Subhānahu wa Ta’āla mendahulukan tauhīd dan mengikhlāskan ibadah hanya untuk Allāh, sebelum menyebutkan yang lain.

Menunjukkan bahwasanya perintah yang paling besar disisi Allāh adalah perintah mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وهو : إفراد الله بالعبادة

Dan tauhīd adalah meng-Esa-kan Allāh didalam ibadah

Kemudian beliau mengatakan:

وأعظم ما نهى عنه الشّرك

Dan larangan yang paling besar yang Allāh larang adalah kesyirikan.

Diantara larang-larang Allāh yang paling besar adalah kesyirikan, disana ada larang berzina, larangan untuk membunuh tanpa hak, disana ada larangan untuk melakukan riba, larangan yang paling besar adalah larangan untuk melakukan kesyirikan.

Apa yang dimaksud dengan kesyirikan?

وهو دعوة غيره معه

Berdo’a kepada selain Allāh bersama Allāh.

Bersama Allāh, menunjukkan bahwasanya seseorang dia beribadah kepada selain Allāh bersama itu dia juga beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, (inilah yang dinamakan dengan syirik).

⇒ Dan ini adalah larangan yang paling besar yang membatalkan amal seseorang.

Dosa yang lain belum tentu membatalkan amalan, akan tetapi syirik apabila dilakukan (karena besarnya, karena bahayanya) sehingga dia merusak amal seseorang.

“Kalau engkau menyekutukan Allāh niscaya akan batalah amalanmu.”

Diantara hak yang menunjukkan besarnya dosa syirik adalah apabila seseorang meninggal dunia membawa dosa syirik maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut.

Adapun dosa yang lain, yang dibawah syirik seandainya seseorang meninggal dunia dan bertemu Allāh dengan dosa tersebut selain syirik, maka masih ada harapan mendapatkan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, masih ada harapan untuk masuk kedalam surga.

Berbeda dengan syirik, jika dia meninggal dunia dan bertemu dengan Allāh dengan membawa dosa syirik maka Allāh tidak akan mengampuni.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

‘Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allāh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

(QS. An-Nissā’: 48)

Tidak mengampuni artinya harus diadzab dan mengampuni yang selain itu yang dibawah dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki.

Orang yang melakukan dosa-dosa besar selain kesyirikan, dibawah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Kalau Allāh menghendaki diampuni langsung dan tidak di adzab.
√ Kalau Allāh menghendaki maka diadzab terlebih dahulu baru kemudian dimasukan kedalam surga.

Ini dosa selain syirik, adapun syirik maka tidak ada ampunan, yang ada adalah adzab, jika syiriknya besar maka adzabnya kekal didalam neraka tetapi jika syiriknya kecil maka tidak sampai mengekalkan seseorang didalam neraka.

Dalīl nya adalah:

وَاعْبُدُوا اللَّه وَلاَ تُشرِكُوا بِهِ شَيئاً

“Dan sembahlah Allāh dan janganlah kalian menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.”

(QS. An-Nissā’: 36)

Dalīl bahwasanya perintah yang paling besar adalah ibadah kepada Allāh dan mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan larangan paling besar adalah larangan untuk melakukan kesyirikan.

Inilah yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini, dan berarti kita sudah menyelesaikan muqaddimah pembukaan dari kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā dan in syā Allāh akan kita lanjutkan dengan landasan yang pertama yaitu ma’rifatullāh (mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top