Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 11 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 11)

Halaqah 11 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 11)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Beliau mengatakan sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَمَا خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعْبُدُوِن

“Dan tidaklah aku ciptakan jinn dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.”

(QS. Adh Dhāriyāt: 56)

Ayat yang ringkas, yang menunjukkan tentang hikmah yang besar dan tujuan yang agung untuk apa kita diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Kita diciptakan Allāh untuk beribadah kepada Nya.

Kemudian beliau mengatakan:

ومعنى ِيَعْبُدُوِن يوحدون

Makna dari kalimat يَعْبُدُوِن menyembah kepada diriku adalah meng-Esa-kan aku (Allāh) didalam ibadah (tidak boleh menduakan).

⇒ Maksud menduakan adalah menyembah Allāh juga menyembah kepada selain Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya maksudnya adalah untuk meng-Esa-kan Allāh didalam ibadah.

Adapun seseorang terkadang menyembah Allāh, dan terkadang dia menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh, maka orang seperti ini tidak dinamakan muwahīd (mentauhīdkan Allāh).

⇒ Orang seperti ini tidak dianggap menyembah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang yang menyembah kepada Allāh adalah orang yang mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, oleh karena itu didalam Al Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ۞ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۞ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ۞

⑴ Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kāfir!
⑵ Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
⑶ Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.

(QS. Al Kāfirun: 1-3)

Saat itu orang-orang kāfir Quraisy (musyrikin quraisy) didalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka menyembah Allāh juga menyembah selain Allāh. Oleh karena itu dinamakan musyrikin (menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Karena itu ada diantara mereka yang bernama Abdullāh seperti bapak Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, bernama Abdullāh (Hamba Allāh) menunjukkan bahwasanya mereka juga menyembah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian pula mereka melakukan ibadah haji setiap tahunnya, dan ini menunjukkan bahwa mereka juga menyembah Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi kesalahan mereka, mereka tidak meng-Esa-kan Allāh didalam beribadah.

Didalam ibadah yang lain ternyata mereka serahkan ibadah tersebut kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Ketika mereka terkena musibah mereka datang kepada jinn, minta perlindungan kepada jinn.

√ Ketika melewati sebuah lembah bukan meminta perlindungan kepada Allāh akan tetapi meminta perlindungan kepada raja jinn yang ada dilembah tersebut.

Dan didalam ayat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan mereka apabila berada ditengah laut mengikhlāskan ibadahnya hanya kepada Allāh.

فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allāh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allāh).”

(QS Al Ankabut: 65)

Dalam ayat yang lain Allāh mengatakan, (menceritakan tentang ucapan mereka) :

لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَـٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ

“Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”

(QS. Yūnus: 22)

Berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyelamat kan mereka kedaratan, tiba-tiba mereka menyekutukan Allāh kembali.

√ Terkadang mereka menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allāh dan dalam keadaan lain mereka menyembah dan menyerahkan ibadah kepada selain Allāh.

Oleh karena itu dinamakan musyrikun (menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Tetapi didalam surat Al Kāfirun ayat 3, Allāh mengatakan (memerintahkan kepada Nabi Nya) untuk mengatakan:

وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ

“Dan kalian (wahai orang-orang musyirikin) tidak penyembah apa yang aku sembah.”

Padahal tadi disebutkan bahwasanya orang-orang musyrikin menyembah Allāh, namun kenapa dikatakan disini, “Mereka tidak menyembah kepada Allāh”, karena mereka tidak mentauhīdkan Allāh didalam ibadah (tidak meng-Esa-kan Allāh didalam ibadah).

Orang yang tidak meng-Esa-kan Allāh didalam ibadahnya, maka pada hakikatnya tidak dinamakan orang yang menyembah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, beliau mengatakan:

ومعنى ِيَعْبُدُوِن يوحدون

“Makna menyembah kepada-Ku adalah mentauhīdkan aku”

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top