Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 09 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 09)

Halaqah 09 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 09)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan:

الثالثه: أن من أطاع الرسول ووحّد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله، ولو كان أقرب قريب.

• Ketiga | Bahwasanya orang yang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mentauhīdkan Allāh, maka tidak boleh baginya bermuwalāh (mencintai) orang-orang yang memusuhi Allāh dan juga rasūlnya, meskipun dia adalah orang-orang yang paling dekat dengan dia.

Apabila seseorang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mengEsakan Allāh didalam beribadah secara dhahir dan bathin maka tidak boleh baginya untuk mermuwalāh (berloyalitas) mencintai dan menolong didalam agama orang yang memusuhi Allāh dan rasūlnya.

Seperti:

Orang kāfir yang jelas memerangi Allāh dan rasūlnya, tidak boleh menolong mereka dan menyintai mereka karena agama mereka, meskipun dia adalah kerabat yang paling dekat dengan seseorang (bapaknya, anaknya atau saudaranya, ibunya, misalnya.

Apabila dia termasuk musuh Allāh, mereka memerangi Allāh dan juga rasūlnya, membantu orang-orang kāfir untuk memerangi kaum muslimin maka tidak boleh bermuwalāh (berloyalitas) kepada orang tersebut.

Kemudian beliau mengatakan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allāh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allāh dan Rasūl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allāh ridhā terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allāh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullāh itu adalah golongan yang beruntung.”

(QS. Al Mujadilah: 22)

Ini adalah dalīl tentang kewajiban berloyalitas kepada Allāh dan Rasūl Nya, dan larangan untuk berloyalitas kepada musuh-musuh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang yang taat kepada Rasūl dan mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harus berloyalitas kepada Allāh dan Rasūlnya, dan ini bukan berarti seorang muslim dan muslimah kemudian dia tidak berbuat adil kepada orang yang kāfir, atau tidak berbuat baik kepada mereka atau tidak sama sekali mendakwahi mereka, bukan berarti orang yang tidak berloyalitas kepada orang-orang yang memusuhi Allāh kemudian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kāfir.

Didalam Al Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

“Allāh tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allāh menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

(QS. Al Mumtahanah: 8)

Apabila mereka tidak memerangi kaum muslimin, dan tidak mengeluarkan kita dari kampung-kampung kita (daerah kita) maka kata Allāh, “Tidak ada larangan kalian berbuat baik kepada mereka”.

Mungkin seseorang memiliki tetangga yang non muslim (kāfir) maka boleh kita berbuat baik kepada mereka, (misalnya) mengirim makanan, mengirim hadiah, sebagaimana dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbuat baik kepada tetangganya (Yahūdi).

Boleh seorang muslim bermuamalah dengan seorang non muslim (jual beli atau hutang piutang) demikian pula dulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau meninggal dunia, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) pernah mengadaikan sebagian barang beliau kepada seorang Yahūdi.

Bukan berarti seseorang ketika diperintahkan untuk membenci seorang yang kāfir yang memusuhi Allāh dan Rasūl Nya, bukan berarti diperbolehkan untuk berbuat zhālim kepada mereka, bahkan kita diperintahkan untuk berbuat adil.

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ

“Jangan sampai kebencian kalian kepada sebuah kaum yang telah menghalangi kalian dari Al Masjidil Haram menjadikan kalian berbuat zhālim kepada meraka.”

(QS. Al Mā’idah: 2)

Orang-orang Quraisy, dahulu menghalangi kaum muslimin dari masjidil Haram, melarang mereka untuk memasuki kota Mekkah sebagaimana yang terjadi pada tahun ke-6 Hijriyyah, tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang kaum muslimin karena kebencian mereka terhadap orang-orang yang melarang mereka dari rumah Allāh jangan sampai menjadikan mereka menzhālimi orang-orang tersebut.

Demikian pula didalam Al Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang perintah untuk berbakti kepada orang tua baik yang muslim maupun yang kāfir.

Namun apabila orang tua memerintahkan kepada kesyirikan maka kita dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mentaati orang tua didalam perintah yang isinya kesyirikan tersebut.

Adapun didalam perintah-perintah yang lain selama itu tidak berupa kemaksiatan kepada Allāh dan Rasūl Nya maka kita diperintahkan untuk mentaati.

Mentaati orang tua meskipun dia adalah seorang yang kāfir.

وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. Luqman: 15)

Artinya kita tetap diperintahkan untuk bermuamalah, berakhlaq kepada orang tua kita meskipun mereka adalah seorang musyrik atau kāfir, namun jika sudah waktunya orang tua kita memerintahkan kita untuk kufur atau berbuat syirik maka tidak halal bagi kita untuk. mentaati orang tua kita didalam kesyirikan dan kekufuran.

Menunjukkan kepada kita tentang makna dari loyalitas tersebut, yang dilarang adalah kita menyintai orang kāfir karena agama yang dia anut adapun hanya menyintai karena tabiat (misalnya) seseorang mencintai orang tuanya ini adalah tabiat manusia maka ini tidak mengapa, tetapi apabila mencintai orang kāfir karena kekāfirannya maka ini yang tidak dibolehkan dalam agama.

Demikian pula berlepas diri dari orang-orang musyrikin bukan berarti tidak boleh kita mendakwahi orang-orang musyrikin.

Nabi Ibrāhīm alayhissallām, bapak beliau adalah orang kāfir dan beliau adalah orang yang paling berlepas diri dari orang-orang yang memusuhi Allāh dan Rasūl Nya, namun beliau (alayhissallām) mendakwahi bapaknya dengan baik.

Beliau memanggil bapaknya dengan, “Yā abatiy (wahai bapakku)”, dan dengan sabar beliau mendakwahi bapaknya.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَومَكَ فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِين

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrāhīm berkata kepada bapaknya (Aazar), “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.. ”

(QS. Al An’ām: 74)

Nabi Ibrāhīm alayhissallām sangat mencintai Allāh, mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi tidak mencegah beliau untuk mendakwahi bapaknya.

Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, bagaimana usaha beliau untuk mendakwahi Abū Thālib, dan Abū Thālib meninggal dalam keadaan syirik (kufur) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketika Abū Thālib akan meninggal dunia dalam keadaan sakaratul maut masih di dakwahi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan: “Wahai pamanku, ucapkanlah kalimat ‘Lā ilāha illallāh, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah membelamu dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Namun Abū Thālib meninggal dalam kesyirikan dan enggan untuk mengucapkan, ‘Lā ilāha illallāh.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang sangat mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi ini tidak mencegah beliau (melarang) beliau untuk mendakwahi orang-orang musyrikin.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top