Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 10 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 10)

Halaqah 10 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 10)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan:

اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم، أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين، وبذلك أمر الله جميع الناس وخلقهم لها، كما قال تعالى: وَمَا خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعْبُدُوِن [الذاريات:56]، ومعنى ِيَعْبُدُوِن يوحدون

Ketahuilah! Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepadamu untuk taat kepada Nya. Sesungguhnya al hanīfiyah (agamanya nabi Ibrāhīm) adalah engkau menyembah Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata, mengikhlāskan baginya agama ini dan dengan ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan seluruh manusia dan menciptakan mereka untuk perkara ini.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jinn dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

(QS. Adh Dhāriyāt: 56)

⇒ Dan makna يَعۡبُدُونِ (beribadah kepadaku) adalah mentauhīdkan aku.

Beliau mengatakan اعلم (ketahuilah) sebagaimana yang kita sampaikan, kalimat ini digunakan oleh pengarang supaya kita bersiap-siap mendengar apa yang akan beliau sampaikan setelahnya.

Menunjukkan bahwasanya apa yang akan beliau sampaikan setelah kalimat اعلم ini adalah sesuatu yang sangat penting diketahui oleh seorang muslim, sehingga beliau mengatakan اعلم.

Kemudian sebagaimana kebiasaan beliau, beliau mendo’akan kebaikan untuk kita.

Beliau mengatakan:

أرشدك الله لطاعته

“Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepadamu, untuk mudah melakukan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

⇒ Ini adalah do’a yang baik dari seorang guru untuk muridnya yang membaca kitābnya, yang mengambil faedah dari apa yang beliau tulis.

Beliau mendo’akan kita supaya;

√ Dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla mendapat petunjuk.
√ Dimudahkan hatinya untuk taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini merupakan adab yang bagus, yang hendaknya ditiru oleh seorang guru, pengajar supaya banyak mendo’akan kebaikan untuk murid-muridnya.

√ Semoga kita dimudahkan untuk memahami pelajaran.
√ Semoga diampuni dosanya.
√ Semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

أن الحنيفية ملة إبراهيم، أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين،

Hendaklah kalian mengetahui bahwasanya al hanīfiyyah milahnya nabi Ibrāhīm.

⇒ Al hanīfiyyah adalah agamanya nabi Ibrāhīm alayhissallām.

Apa yang dimaksud dengan al hanīfiyyah?

Berasal al hanīf yang artinya adalah lurus dan al hanf yang artinya adalah menyimpang, (maksudnya) adalah menyimpang dari kesyirikan menuju mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam beribadah.

Mustaqīm lurus kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Apabila seseorang ditanya apakah agamanya nabi Ibrāhīm?

Agamanya nabi Ibrāhīm adalah al hanīfiyah (al islām) menyerahkan diri, menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allāh dan meninggalkan kesyirikan dengan segala jenisnya, ini adalah milahnya nabi Ibrāhīm yang kita diperintahkan mengikuti milahnya nabi Ibrāhīm.

Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diperintahkan untuk mengikuti milahnya nabi Ibrāhīm alayhissallām dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan di dalam Al Qurān perintah untuk mengikuti milahnya nabi Ibrāhīm alayhissallām dan Allāh memuji milahnya nabi Ibrāhīm alayhissallām.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allāh”. Maka ikutilah agama Ibrāhīm yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Āli ‘Imrān: 95)

Firman Allāh فَٱتَّبِعُوا۟ artinya hendaklah kalian mengikuti, perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya kita kita mengikuti milahnya nabi Ibrāhīm alayhissallām.

Kemudian didalam ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji nabi Ibrāhīm alayhissallām, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ۞ شَاكِرٗا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ۞ وَءَاتَيۡنَٰهُ فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗۖ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ۞ ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrāhīm adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanīf. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).

Dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allāh telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.

Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang shālih.

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrāhīm yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”

(QS. An-Nahl: 120-123)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan Nabi kita (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk mengikuti milahnya nabi Ibrāhīm dan tidaklah beliau termasuk orang-orang musyrikin.

Orang-orang Yahūdi dan Nashrāni mereka mengaku, bahwasanya mereka mengikuti nabi ibrahim alayhissallām. Mereka mengaku, (mengangap dan meyakini) bahwasanya nabi Ibrāhīm alayhissallām berada diatas agama mereka.

√ Orang Yahūdi berkeyakinan bahwasanya Ibrāhīm beragama Yahūdi.
√ Orang Nashrāni mengaku bahwasanya Ibrāhīm beragama Nashrāni.

Namun hal ini dibantah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena Taurāt yang diturunkan kepada nabi Mūsā alayhissallām yang diperuntukan kepada banī Isrāil, demikian pula Injīl yang diturunkan kepada nabi Īsā alayhissallām dan juga diberikan kepada banī Isrāil semuanya turun setelah nabi Ibrāhīm alayhissallām.

Maka bagaimana Ibrāhīm berada diatas agama Yahūdi atau Nashrāni?

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

مَا كَانَ إِبْرَٰهِيمُ يَهُودِيًّۭا وَلَا نَصْرَانِيًّۭا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِيفًۭا مُّسْلِمًۭا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Ibrāhīm bukan seorang Yahūdi dan bukan (pula) seorang Nashrāni, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allāh ) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

(QS. Āli Imrān: 67)

√ Lain dengan orang Yahūdi, yang mereka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan bahwasanya Uzair anak Allāh

√ Lain dengan orang Nashrāni yang mengatakan bahwasanya Īsā ibnu Maryam adalah anak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Adapun Ibrāhīm dia adalah seorang yang hanīf (yang lurus) hanya menyembah kepada Allāh dan beliau bukan termasuk orang-orang yang musyrikin.

وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَى ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ ٱللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَٰهِهِمْ ۖ يُضَـٰهِـُٔونَ قَوْلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَبْلُ ۚ قَـٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahūdi berkata: “Uzair itu putera Allāh” dan orang-orang Nashrāni berkata: “Al Masih itu putera Allāh”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kāfir yang terdahulu. Dilaknati Allāh mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?

(QS. At Tawbah: 30)

Kemudian Allāh mengatakan:

إِنَّ أَوْلَى ٱلنَّاسِ بِإِبْرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَـٰذَا ٱلنَّبِىُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrāhīm ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allāh adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.”

(QS. Āli Imrān: 68)

⇒ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan orang-orang yang beriman mereka berada diatas milahnya (agamanya) nabi Ibrāhīm.

Yang dimaksud dengan milahnya nabi Ibrāhīm adalah engkau menyembah kepada Allāh semata tidak ada yang lain, menyerahkan ibadah hanya kepada Allāh, dalam keadaan mengikhlāskan (membersihkan) agama ini hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak ada sedikitpun kotoran, tidak ada sedikitpun ibadah yang dilakukan diberikan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah yang dimaksud milahnya nabi Ibrāhīm alayhissallām. Dan dengan inilah Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan seluruh manusia, dan menciptakan mereka untuk perkara ini.

Kita diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah untuk beribadah hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla bahkan bukan hanya manusia jinn yang mereka melihat kita dan kita tidak melihat mereka, mereka juga diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak lain kecuali untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top