Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 08 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 08)

Halaqah 08 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 08)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan:

الثانية: أن الله لا يرضي أن يُشرك معه أحد في عبادته لا ملَك مقرب ولا نبي مرسل

• Kedua | Sesungguhnya Allāh tidak ridhā apabila disekutukan bersamanya seorangpun didalam ibadahnya. Allāh tidak ridhā dan tidak cinta dengan perbuatan tersebut seorangpun.

Dan ini umum, baik pohon, batu atau makhluk yang lain didalam ibadahnya, yang Allāh ridhāi dari kita, apabila kita hanya menyerahkan ibadah ini kepada Allāh semata, tidak memberikan sedikitpun dari ibadah yang kita lakukan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

لا ملك مقرّب، ولا نبي مرسل

Allāh tidak ridhā bila disekutukan baik dengan malāikat yang sangat dekat dengan Allāh demikian pula Allāh tidak ridhā apabila disekutukan dengan seorang yang paling muliapun (misalnya) nabi yang diutus.

Kita tahu bahwasanya malāikat dan para nabi adalah makhluk Allāh yang paling mulia, tidak ada yang lebih mulia daripada malāikat dan para nabi.

Malāikat mereka adalah makhluk yang Allāh ciptakan untuk taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka tidak berbuat maksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.”

(QS. At Tahrīm: 6)

عِبَادٌۭ مُّكْرَمُون

“Malāikat adalah hamba-hamba Allāh yang dimuliakan.”

(QS. Al Anbiyyā’: 26)

Demikian pula para nabi mereka adalah makhluk Allāh, manusia yang paling afdhal disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, diantara sekian banyak manusia yang paling afdhal dan paling utama adalah para nabi.

Dan yang paling afdhal diantara para nabi adalah ulul azmi,

⑴ Nabi Nuh
⑵ Nabi Ibrāhīm
⑶ Nabi Mūsā
⑷ Nabi Īsā
⑸ Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Dan yang paling afdhal diantara ulul azmi adalah dua orang yaitu;

⑴ nabi Ibrāhīm
⑵ Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan keduanya adalah khālilullah, khālilu rahman dan yang paling afdhal antara keduanya adalah nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan beliau adalah pemuka anak Ādam, namun bagaimana pun tinggi derajat nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka Allāh tidak ridhā apabila didalam ibadahnya, Allāh disekutukan dengan seorang makhlukpun, baik itu setingkat seorang nabi atau malāikat.

Benar mereka sangat dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sangat di dekatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi didalam masalah ibadah maka ibadah ini adalah hak istimewa bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Allāh tidak berikan kepada yang lain, bahkan kepada seorang nabi sekalipun.

Seandainya ada seorang hamba (makhluk) menyerahkan sebagian ibadahnya kepada selain Allāh, baik itu kepada seorang malāikat maupun seorang nabi, maka ini adalah perkara yang tidak di ridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan marah dan ini masuk kedalam kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla kabarkan didalam Al Qurān:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ

“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”

(QS. An Nissā’: 48)

Diantara bahaya syirik (menyekutukan) Allāh bahwasanya Allāh tidak akan mengampuni pelakunya, apabila meninggal dalam keadaan berbuat syirik maka tidak ada harapan baginya di akhirat mendapatkan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan dalam ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allāh, maka pasti Allāh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhālim itu seorang penolongpun.”

(QS. Al Mā’idah: 72)

Meskipun dia menyekutukan Allāh dengan seorang nabi atau seorang malāikat, apabila kita tidak boleh menyekutukan Allāh dengan seorang nabi, dengan seorang malāikat yang mereka tentunya makhluk yang paling afdhal maka tentunya menyekutukan Allāh dengan makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada seorang nabi seorang malāikat lebih tidak diperbolehkan.

Seperti seorang wali yang tentunya derajatnya lebih rendah daripada nabi atau orang shālih yang lain yang tentunya lebih rendah derajatnya daripada nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Apalagi menyekutukan Allāh dengan makhluk yang terlaknat seperti dengan syaithān yang dilakukan oleh sebagian orang yang menyembah syaithān atau jinn atau menyekutukan Allāh dengan makhluk yang tidak bisa berbicara yang tidak hidup, menyekutukan Allāh dengan batu atau dengan benda-benda lain.

Kemudian beliau mengatakan:

والدّليل قوله تعالى

Dan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allāh. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allāh.”

(QS. Al Jinn: 18)

Yang dimaksud al masājid disini adalah masjid yaitu bangunan yang digunakan untuk beribadah (shalāt) ada pula yang mengatakan bahwa al masājid adalah anggota badan yang digunakan untuk bersujud kepada Allāh.

Maka janganlah kalian berdo’a bersama Allāh seorangpun artinya tidak boleh berdo’a dan menyembah kepada selain Allāh didalam ibadahnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Terkadang menyembah kepada Allāh dan terkadang menyembah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla, hal ini termasuk kesyirikan.

Firman Allāh أَحَدٗا artinya seorang pun dan ini mencakup nabi, malāikat maupun makhluk-makhluk yang lain.

Ini adalah perkara yang kedua yang diwajibkan bagi seorang muslim dan muslimah untuk mempelajarinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

3 komentar untuk “Halaqah 08 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 08)”

  1. Mohon diperbaiki postingannya, karena banyak dalil yang kurang dalam penulisannya, dan juga banyak penjelasan yang terpotong-potong (kalimat yang hilang)
    Artikel nya sangat membantu…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top